Head of Education OpenAI untuk wilayah Asia Pasifik, Raghav Ghupta. Medcom.id/Talitha Islamey
Head of Education OpenAI untuk wilayah Asia Pasifik, Raghav Ghupta. Medcom.id/Talitha Islamey

OpenAI Ubah Jalan Pintas Jadi Pendamping Belajar

Renatha Swasty • 09 April 2026 09:52
Ringkasnya gini..
  • Masyarakat Indonesia memiliki antusiasme luar biasa menjadikan AI sebagai alat utama menunjang aktivitas akademik dan pengembangan diri.
  • OpenAI memperkuat sektor pendidikan di Tanah Air melalui pemanfaatan AI yang tertarget dan bertanggung jawab.
  • OpenAI memperkenalkan sejumlah fitur baru yang dapat digunakan untuk belajar.
Jakarta: Raksasa teknologi kecerdasan buatan, OpenAI menekankan komitmennya memperkuat sektor pendidikan di Tanah Air. Hal itu dilakukan melalui pemanfaatan AI yang tertarget dan bertanggung jawab.
 
Head of Education OpenAI untuk wilayah Asia Pasifik, Raghav Ghupta, menampik adanya penurunan kognitif siswa dengan hadirnya kecerdasan buatan. Justru, kata dia, peran guru menjadi lebih krusial.
 
Guru didorong beralih dari sekadar pemberi materi menjadi mentor yang fokus pada pengembangan human skills. “Jangan gunakan AI sebagai jalan pintas (shortcut), tapi gunakanlah sebagai pendamping belajar (learning companion),” tegas Raghav dalam diskusi pekan edukasi yang digelar di Hotel Morrissey, Jakarta Selatan, Rabu, 8 April 2026.

Hingga Maret 2026, tercatat sebanyak 450 juta pesan dikirimkan oleh pengguna di Indonesia ke ChatGPT. Raghav menyebut 70 persen dari pengguna tersebut berada di rentang usia 18 hingga 34 tahun, yang didominasi oleh kalangan mahasiswa dan profesional muda.
 
"Indonesia masuk dalam jajaran 5 besar negara dengan penggunaan pesan per kapita tertinggi untuk kategori pendidikan dan pembelajaran," ujar Raghav.
 
Dia mengatakan​ angka tersebut menjadi bukti nyata masyarakat Indonesia memiliki antusiasme luar biasa menjadikan AI sebagai alat utama menunjang aktivitas akademik dan pengembangan diri.
 
OpenAI memiliki fitur terbaru bernama Interactive Learning. Fitur ini memungkinkan siswa mempelajari konsep mata pelajaran, khususnya sains dan matematika secara visual. 
 
Misalnya, pengguna bisa melihat simulasi Teorema Pythagoras atau kalkulasi luas lingkaran yang berubah secara dinamis saat variabelnya digeser.
 
OpenAI juga memperkenalkan konsep Custom GPT yang memungkinkan guru atau dosen membuat asisten AI khusus yang datanya dibatasi hanya pada materi modul atau buku cetak tertentu. OpenAI menjamin versi institusi ChatGPT-EDU, data sensitif atau riset yang diunggah tidak akan digunakan untuk melatih model dasar OpenAI.
 
AI dapat bertindak sebagai tutor pribadi yang memberikan kuis dengan tingkat kesulitan bertingkat berdasarkan Bloom's Taxonomy tanpa memberikan jawaban instan.
 
Selain itu, OpenAI menyoroti adanya kesenjangan kemampuan atau capability gap antara kecepatan perkembangan teknologi dengan kemampuan pengguna mengoptimalkannya. Pihaknya mencatat pengguna tingkat lanjut atau power user bisa tujuh kali lebih produktif dibandingkan dengan pengguna rata-rata.
 
Untuk memperkecil kesenjangan kemampuan itu, OpenAI meluncurkan serangkaian inisiatif edukatif yang menyasar berbagai lapisan masyarakat. Langkah ini dimulai dengan menghadirkan kursus ChatGPT Foundations for Teachers di platform Coursera yang kini tersedia dalam Bahasa Indonesia.
 
Program ini bertujuan membantu para guru mengintegrasikan teknologi AI secara bertanggung jawab di lingkungan sekolah. Selain itu, hadir pula OpenAI Academy sebagai wadah pengembangan bagi para profesional, penulis, hingga pemasar. Platform ini dirancang untuk mendalami implementasi AI secara spesifik di berbagai bidang industri.
 
Hal ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas tenaga kerja melalui pemanfaatan teknologi yang tepat sasaran. Selain itu, OpenAI juga memperkenalkan buku 100 Chats for Students yang merangkum prompt dari pelajar di Indonesia.
 
Buku ini mendokumentasikan cara kreatif siswa memanfaatkan ChatGPT untuk membedah materi pelajaran yang dianggap sulit. Inisiatif ini diharapkan dapat mengubah pola pikir siswa dalam menjadikan AI sebagai pendamping belajar yang suportif.
 
Keahlian yang akan sangat dihargai di masa depan bukan lagi sekadar pemecahan masalah atau problem solving, melainkan pembingkaian masalah atau problem framing, berpikir kritis, dan kepemimpinan. (Talitha Islamey)
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan