Kejujuran, amanah, dan kebijaksanaan yang dimilikinya membuat dia dikenal luas di kalangan masyarakat Mekah sebagai sosok yang dapat dipercaya. Karena reputasinya yang luar biasa dalam menjaga amanah dan bertindak adil, Nabi Muhammad SAW mendapat julukan “Al-Amin”, yang berarti “orang yang terpercaya”.
Julukan ini tidak hanya mencerminkan integritas pribadinya, tetapi juga menjadi bukti sejak kecil Allah telah mempersiapkan dia menjadi pemimpin dan panutan yang akan membawa kebaikan bagi seluruh umat manusia.
Selain sifatnya yang mulia, Nabi Muhammad SAW lahir dari garis keturunan yang terhormat. Dia berasal dari kabilah Quraisy, suku yang sangat dihormati di Jazirah Arab dan memiliki nasab yang mulia hingga ke Nabi Ibrahim AS. Berikut adalah silsilah keluarga Rasulullah SAW dikutip dari laman Baznas:
Keluarga Nabi Muhammad
Nabi Muhammad dilahirkan pada 12 Rabiul Awal Tahun Gajah, sekitar tahun 570 Masehi, di kota Mekah. Dia lahir dari keluarga Bani Hasyim, salah satu keluarga terhormat suku Quraisy.Ayahnya, Abdullah, wafat sebelum kelahiran-Nya, sementara ibu-Nya, Aminah binti Wahab, meninggal ketika Nabi berusia enam tahun. Setelah itu, dia diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib dan kemudian oleh pamannya, Abu Thalib.
Pada masa muda, Nabi Muhammad bekerja sebagai pedagang dan sering menemani pamannya dalam perjalanan dagang ke Suriah dan wilayah sekitarnya. Kejujuran dan integritas, membuatnya dipercaya banyak orang, termasuk Khadijah binti Khuwailid, seorang pedagang kaya yang kemudian menikahi Nabi saat berusia 25 tahun. Dari pernikahan ini lahir enam anak, termasuk Fatimah Az-Zahra yang menjadi ibu dari keturunan Nabi.
Kedua orang tua Nabi berasal dari garis keturunan yang mulia. Abdullah adalah putra Abdul Muthalib, seorang pemimpin Quraisy yang terkenal akan kebijaksanaannya. Sedangkan Aminah juga berasal dari keluarga yang terpandang di masyarakat Mekah.
Silsilah Keturunan Nabi Muhammad
Silsilah Nabi Muhammad SAW menunjukkan asal-usul-Nya hingga Nabi Ibrahim AS yang mencerminkan garis keturunan mulia dan dihormati di Jazirah Arab. Nasab Nabi secara lengkap antara lain:- Abu al-Qasim Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim
- bin Abdimanaf bin Qusay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib
- bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaima bin Mudrikah bin Ilyas
- bin Mudhar bin Nizar bin Maad bin Adnan bin Udad bin al-Muqawwam bin Nahur
- bin Tayrah bin Ya'rub bin Yasyjub bin Nabit bin Ismail bin Ibrahim
- bin Tarih atau Azar bin Nahur bin Saru’ bin Ra’u bin Falikh bin Aybir bin Syalikh
- bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh bin Lamk bin Mutusyalkh bin Akhnukh (Nabi Idris)
- bin Yarda bin Mahlil bin Qinan bin Yanish bin Syits bin Adam
Nasab ini dicatat oleh Muhammad bin Ishak al-Madani yang menjadi bukti kehormatan keluarga Nabi dan menunjukkan Allah memilih seorang utusan dari garis keturunan yang terjaga kemuliaannya. Para ulama menyepakati nasab Nabi hingga Adnan, sementara setelah Adnan terdapat perbedaan pendapat.
Kehidupan dan silsilah Nabi Muhammad SAW menjadi teladan bagi seluruh umat manusia. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”
Perjalanan Hijrah Rasulullah
Nabi Muhammad SAW dikenal sejak kecil sebagai sosok jujur, amanah, dan bijaksana. Pada usia 40 tahun, dia sering menyendiri di Gua Hira untuk merenungkan kehidupan masyarakat Mekah yang dipenuhi penyembahan berhala.Pada suatu malam di bulan Ramadan, malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertama dari Allah (Surat Al-Alaq ayat 1-5) yang menandai awal kerasulannya untuk menyeru manusia kepada keesaan Allah.
Pada tahap awal, ajaran Islam mendapat tentangan dari suku Quraisy yang merasa terancam kedudukan sosial dan ekonomi mereka. Meski menghadapi intimidasi dan siksaan, Nabi Muhammad SAW tetap teguh dalam dakwahnya dan menyebarkan ajaran secara rahasia kepada kerabat serta sahabat dekat, termasuk Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, dan Zaid bin Haritsah.
Setelah lebih dari sepuluh tahun berdakwah, Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah pada tahun 622 M. Di kota ini, dia membangun masyarakat Islam yang berlandaskan syariah, mempersatukan suku-suku berseteru, dan mendirikan Masjid Nabawi sebagai pusat ibadah dan pemerintahan.
Di Madinah, Nabi memimpin beberapa pertempuran, seperti Perang Badar, Perang Uhud, dan Perang Khandaq. Dia menunjukkan keberanian sekaligus kebijaksanaan, termasuk melalui diplomasi, seperti Perjanjian Hudaibiyah yang menjadi titik penting dalam hubungan Muslim-Quraisy.
Tahun 630 M, Nabi Muhammad SAW berhasil menaklukkan Mekah tanpa pertumpahan darah. Dia memaafkan musuhnya, menghancurkan berhala di Ka'bah, dan menjadikan Mekah sebagai pusat spiritual umat Islam, sehingga Islam menyebar cepat ke seluruh Jazirah Arab.
Pada tahun 632 M, Nabi menyampaikan Khutbah Wada’ di Padang Arafah, menekankan persatuan, keadilan, dan kesetaraan hak. Beberapa bulan kemudian, dia wafat pada usia 63 tahun di rumah Aisyah. Kepergian Nabi Muhammad SAW meninggalkan duka mendalam, namun ajaran dan teladannya tetap hidup bagi umat Islam hingga kini. (Syifa Putri Aulia)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News