Kepala Organisasi Riset Kesehatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indi Darmayanti. DOK BRIN
Kepala Organisasi Riset Kesehatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indi Darmayanti. DOK BRIN

Teliti Pandemi Flu Burung, Indi Berkontribusi Mengubah Kebijakan Pemerintah

Pendidikan Hari Kartini flu burung Perempuan Riset dan Penelitian BRIN Peneliti indonesia
Medcom • 21 April 2022 11:26
Jakarta: Kepala Organisasi Riset Kesehatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indi Darmayanti, turut berkontribusi membawa perubahan bagi Indonesia. Publikasi ilmiahnya berhasil menjadi dasar perubahan salah satu kebijakan Kementerian Pertanian.
 
Karya ilmiah yang diterbikan pada 2018 itu berjudul Attenuation of highly pathogenic avian influenza A (H5N1) viruses in Indonesia following the reassortment and acquisition of genes from low pathogenicity avian influenza A virus progenitors. Penelitian ini mengkaji tentang pandemi flu burung yang sempat melanda Indonesia pada 2005.
 
“Saya menemukan bahwa virus yang ‘kawin’ di antara virus influenza lebih mudah menular ke manusia. Tapi, dia tidak mampu menimbulkan infeksi sistemik,” kata Indi dalam Webinar Perempuan Berkarya, Riset, dan Inovasi Berdaya, Kamis, 21 April 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Melalui penelitian tersebut, Indi menjelaskan virus yang semula dianggap mampu menginfeksi sistemik, ternyata hanya menginfeksi secara lokal. Dengan kata lain, infeksi yang ditumbulkan hanya sebatas infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), bukan sampai ke paru-paru.
 
“Hal-hal seperti itu yang mengubah kebijakan pemerintah, di mana kita percaya bahwa riset yang kita hasilkan mampu menjadi science policy,” kata dia.
 
Indi juga telah melahirkan 131 publikasi ilmiah lain di bidang kesehatan. Ratusan karya itu terbagi menjadi buku, jurnal, serta prosiding internasional dan nasional, baik berbahasa Inggris maupun Indonesia.
 
“Karya tulis dalam bahasa Inggris saya tidak banyak, yaitu hanya 34. Karya tulis bahasa Indonesia berjumlah 98, jadi totalnya ada 132,” beber Indi.
 
Teranyar, alumnus Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (Unair) itu mengerjakan proyek bersama Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) sejak 2020 hingga 2021. Penelitian ini merupakan proyek terkait covid-19.
 
Melalui kerja sama tersebut, Indi berharap bidang kesehatan dapat lebih banyak memanfaatkan teknologi nuklir. “Nanti ke depannya, terutama untuk kedokteran nuklir seperti radiologi, kita akan segera mempereat kerja sama,” kata dia.
 
Dia berpesan kodrat sebagai perempuan tak boleh menghambat tekad untuk menciptakan inovasi teknologi bagi kemajuan Indonesia. Periset perempuan harus mampu menjadi sekolah pertama bagi putra-putrinya guna menghasilkan generasi unggul bangsa. (Nurisma Rahmatika)
 
Baca: Perempuan Indonesia Mesti Didorong Berkiprah di Bidang Sains dan Teknologi
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif