Buku The 48 Laws of Power. DOK
Buku The 48 Laws of Power. DOK

48 Laws of Power Buku Tentang Apa? Simak Ringkasannya di Sini

Renatha Swasty • 06 Januari 2026 18:04
Jakarta: Di rak buku pengembangan diri (self-improvement), ada satu buku yang sering dianggap kontroversial namun tak pernah kehilangan relevansinya meski sudah hampir 25 tahun terbit. Buku tersebut adalah The 48 Laws of Power karya Robert Greene.
 
Banyak yang mengira buku ini adalah panduan menjadi orang jahat atau manipulatif. Namun, melansir penjelasan sang penulis buku, Robert Greene, melalui kanal YouTube pribadinya, buku ini sebenarnya adalah peta jalan untuk bertahan hidup di dunia nyata yang penuh intrik.
 
Lantas, apa sebenarnya isi buku ini dan mengapa kamu perlu membacanya? Berikut ringkasannya:

1. Kekuasaan adalah Bagian dari Sifat Manusia

Robert Greene menegaskan kekuasaan (power) adalah bagian tak terpisahkan dari sifat dasar manusia. Tidak ada satu pun kelompok manusia yang tidak menginginkan kekuasaan. Karena itu, menutup mata terhadap dinamika ini justru berbahaya.

Greene menggambarkan buku ini seperti "segelas alkohol murni" (straight shot of alcohol). Ia tidak berusaha memperhalus kenyataan atau membual agar terdengar manis. Ia menyajikan dunia apa adanya, bukan dunia khayalan.

2. Panduan Agar Hidup Tidak Penuh Penderitaan

Alasan utama membaca buku ini adalah untuk menghindari hidup yang penuh rasa sakit dan kesengsaraan. Dunia memiliki aturan main dan konvensi tersembunyi yang tidak pernah diajarkan di sekolah.
 
Banyak anak muda usia 20-an terjun ke dunia kerja dan melakukan kesalahan fatal karena terlalu naif: terlalu banyak bicara, terlalu percaya pada teman, atau tidak sengaja membuat atasan merasa tidak aman (insecure). Kesalahan ini bisa berujung pada pemecatan, trauma emosional, hingga penghianatan rekan bisnis. Buku ini hadir untuk memberi tahu "aturan main" tersebut agar kamu tidak tersesat.

3. Pertahanan Diri, Bukan Penyerangan

Meski judul babnya terdengar menakutkan seperti "Hancurkan Musuhmu Sepenuhnya". Buku ini sejatinya lebih banyak berfungsi sebagai alat pertahanan (defense).
 
"Ini tentang mengetahui bahwa ada orang-orang yang jahat, agresif, dan beracun (toxic) di luar sana. Ini adalah cara kamu membela diri," ujar Greene.
 
Dengan memahami hukum kekuasaan, kamu bisa mendeteksi manipulasi orang lain dan melindungi diri agar tidak menjadi korban. Greene sendiri mengaku menggunakan hukum-hukum tersebut dalam kariernya. Berikut beberapa contoh hukum favoritnya:

Hukum 11: Belajarlah Membuat Orang Bergantung Padamu

Greene menekankan pentingnya menjadi sosok tak tergantikan. Apabila posisi kamu bisa digantikan oleh orang yang lebih muda atau lebih murah, kamu akan dipecat. Greene menerapkannya dengan menulis buku unik yang membutuhkan riset mendalam sehingga tidak ada penulis lain yang bisa menirunya.

Hukum 28: Bertindaklah dengan Berani (Boldness)

Saat pertama kali menyerahkan naskah 48 Laws of Power, editor meminta Greene untuk memperhalus isinya. Namun, Greene menolak dengan tegas dan siap kehilangan uang muka besar demi mempertahankan integritas bukunya yang berani. Keberanian itulah yang justru membuat bukunya sukses besar.

Hukum 36: Remehkan Hal yang Tak Bisa Kamu Miliki (Mengabaikan adalah Balas Dendam Terbaik)

Greene pernah berhadapan dengan rekan kerja yang tidak cocok dan terus-menerus menyalahkannya. Alih-alih meladeni pertengkaran yang hanya akan membuang energi dan membuatnya terlihat lemah, Greene memilih untuk mengabaikan orang tersebut sepenuhnya seolah-olah dia tidak ada.
 
Nah, itulah ringkasan buku The 48 Laws of Power. Kamu tertarik membaca? (Sultan Rafly Dharmawan)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan