Dekan NUS Business School, Teo Shung Piaw. Medcom.id/Renatha Swasty
Dekan NUS Business School, Teo Shung Piaw. Medcom.id/Renatha Swasty

Banyak Bisnis Gagal Untung dari AI, Dekan NUS Business School Ungkap Bekal Mahasiswa

Renatha Swasty • 10 Oktober 2026 14:04
Ringkasnya gini..
  • NUS Business School menekankan pentingnya pemadanan antara kemampuan teknis AI dan pemahaman sektor bisnis dalam kurikulum.
  • Banyak perusahaan gagal meraih imbal hasil investasi AI akibat ketidaksesuaian penerapan teknologi dengan masalah yang dihadapi.
  • Dekan NUS membeberkan tiga kunci utama bagi mahasiswa: literasi AI, penggunaan yang benar, serta pemahaman penerapannya di pasar.
Singapura: Masifnya penggunaan artificial intelligence (AI) di dunia bisnis menuntut perguruan tinggi mesti beradaptasi menelurkan lulusan. Penting bagi perguruan tinggi memadankan pemahaman teknologi dengan sektor bisnis.

National University of Singapore (NUS) Business School dalam pembelajarannya berusaha memisahkan fakta dari kemampuan dan keterampilan teknis AI yang sebenarnya. Hal ini berkaca dari banyak perusahaan telah berinvestasi dalam teknologi tetapi tidak memperoleh imbal hasil dari investasi tersebut. 

Salah satu penyebabnya adalah kurangnya pemahaman mengenai kesesuaian antara teknologi dan sektor bisnisnya. 

"Di dalam kelas, tugas penting kami adalah mengajarkan kepada mahasiswa kemampuan untuk memahami teknologi sekaligus menerapkan teknologi yang tepat pada masalah yang tepat. Inilah fokus utama di dalam kelas," beber Dekan NUS Business School, Teo Shung Piaw, dalam diskusi dengan media di The Ridge, Singapura, Kamis, 8 Oktober 2026. 

Teo menyebut pihaknya banyak berfokus pada praktik manajemen. Di kelas, mahasiswa mempelajari berbagai teknologi, sedangkan dalam praktik, mereka dapat langsung menguji berbagai teknologi dan melihat mana yang berhasil.

Dia menyebut ada tiga keterampilan penting yang mesti dimiliki mahasiswa. Pertama, pemahaman teknologi atau literasi teknologi, yaitu mengetahui apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan oleh AI. 
 
Kedua, menggunakan teknologi dengan benar. Ketiga, melihat bagaimana penerapannya di dunia nyata, karena teknologi dan penerapannya di dunia nyata bisa berbeda.

Teo mencontohkan dia banyak bekerja dengan AI, salah satunya terkait penetapan harga, yaitu manajemen pendapatan, misalnya penetapan harga tiket pesawat. Maskapai seperti Delta menggunakan AI untuk mengoptimalkan harga, dengan memanfaatkan data dalam jumlah besar guna memperoleh pendapatan maksimal dari setiap transaksi. 

Ini adalah salah satu cara menggunakan AI untuk memaksimalkan pendapatan perusahaan. Namun, ternyata meskipun teknologinya berfungsi, pasar tidak dapat menerimanya. 

Ketika CEO mengumumkan inovasi AI tersebut, muncul reaksi keras di masyarakat. Pelanggan tidak ingin perusahaan menggunakan data pribadi mereka untuk menentukan harga. 

Padahal, ada teknologi lain yang tidak menggunakan data demografi pelanggan dalam menentukan harga. Di perusahaan lain, alih-alih memakai data pelanggan, digunakan jenis data lain untuk melakukan segmentasi dan penetapan harga. Cara ini berhasil dan akhirnya diterapkan.

"Saya menggunakan contoh ini untuk menegaskan bahwa kita perlu menggunakan teknologi yang tepat di tempat yang tepat, karena kita juga harus memahami apakah teknologi tersebut akan diterima oleh pasar," tutur dia. 
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan