Dekan NUS Business School, Teo Shung Piaw. Medcom.id/Renatha Swasty
Dekan NUS Business School, Teo Shung Piaw. Medcom.id/Renatha Swasty

Era Baru Pendidikan Bisnis, NUS Business School Adopsi AI-Native

Renatha Swasty • 09 Oktober 2026 09:56
Ringkasnya gini..
  • NUS Business School bertekad menjadi sekolah bisnis AI-native dengan mengintegrasikan AI ke seluruh metode belajar dan riset.
  • NUS mengembangkan platform ScholAIstic dengan simulasi multi-agen AI untuk menggantikan studi kasus dokumen cetak tradisional.
  • Kampus ini menggandeng universitas ternama Indonesia seperti UI, UGM, dan ITB untuk pengembangan program pendidikan berbasis AI.
Singapura: Lingkungan bisnis semakin dibentuk oleh teknologi artificial intelligence (AI), pertumbuhan regional, dan ketegangan geopolitik. Hal itu tak cuma menuntut kemahiran penggunaan AI tapi bisa memanfaatkannya untuk mendongkrak ekonomi nasional. 

Perguruan tinggi punya peran penting mengembangkan sumber daya manusia (SDM) serta meningkatkan relevansi pendidikan tinggi terhadap kebutuhan industri dan masyarakat. Hal itu mendorong National University of Singapore (NUS) Business School bertekad menjadi sekolah bisnis AI-native. 

"Namun, menjadi AI-native tidak sekadar menambahkan mata kuliah AI ke dalam kurikulum. Maknanya lebih dari itu, yaitu berpikir, hidup, dan melakukan segala sesuatu bersama teknologi, mengubah cara belajar dan cara meneliti yang lama, lalu merangkul cara-cara baru," kata Dekan NUS Business School, Teo Shung Piaw, dalam diskusi dengan media di The Ridge, Singapura, Kamis, 9 Oktober 2026. 

Teo mengatakan mempertahankan nilai pendidikan bisnis di era AI caranya adalah dengan membawa persoalan nyata dari perusahaan ke ruang kelas. Dia mengungkap dalam beberapa tahun ke depan NUS Business School akan memperluas upaya agar mahasiswa terjun menangani tantangan nyata dari perusahaan. 

Dia bakal menggerakkan para alumni untuk membawa masalah-masalah sulit kembali ke sekolah bisnis. Teo menyebut dia juga bakal menggerakkan para dosen untuk berfokus pada penelitian yang berdampak.

Baru-baru ini kampus memulai sejumlah kolaborasi, termasuk bersama berbagai perusahaan terverifikasi dari Tiongkok di bidang penerbangan. Pihaknya bekerja sama untuk mengatasi sejumlah persoalan yang muncul dari operasional Terminal 5. 

Terminal 5 adalah terminal masa depan di Bandara Changi yang telah diinvestasikan oleh pemerintah Singapura. NUS Business School juga bekerja sama dengan berbagai asosiasi dari Tiongkok untuk memetakan kegiatan mereka di kawasan ini. 

"Saya ingin para dosen lebih berorientasi ke luar, memahami apa yang terjadi di industri dan tantangan penting apa yang ada, lalu mengerjakannya melalui program penelitian dan membawanya kembali ke ruang kelas untuk pengajaran, dan seterusnya," tutur dia. 

Demi mendukung hal itu, baru-baru ini NUS Business School berkolaborasi dengan NUS AI Centre for Educational Technologies (AICET) mengembangkan teknologi AI baru untuk meningkatkan kualitas pendidikan. AICET membantu membangun sebuah platform ScholAIstic untuk meningkatkan kualitas pengajaran.

Dulu, kata Teo, pihaknya banyak menggunakan metode studi kasus. Mahasiswa diberikan seluruh kasus sekaligus, yang berisi informasi sekitar 10 hingga 15 halaman.
 
Teo Shung Piaw 2 - Renatha
Dekan NUS Business School, Teo Shung Piaw. Medcom.id/Renatha Swasty


Mahasiswa harus membaca seluruh kasus, mencari jawaban yang tepat dari dokumen cetak tersebut, lalu menjawab pertanyaan kasus. Ke depan, pihaknya berupaya membangun studi kasus interaktif dengan kerangka simulasi multi-agen. 

Teo menuturkan mahasiswa akan menjawab pertanyaan kasus bukan dengan membaca dan mencari detail dari dokumen cetak, melainkan dengan bertanya kepada para agen. Dalam studi kasus ini akan ada beberapa agen dengan peran berbeda. 

Misalnya, satu berperan sebagai dekan dan satu lagi sebagai penasihat. Mahasiswa akan menanyakan informasi kepada para agen dalam kasus tersebut, kemudian merumuskan jawaban mereka sendiri atas pertanyaan kasus. 

"Dengan demikian, kami mendorong pengajaran semacam ini di kelas dengan memanfaatkan teknologi AI yang telah dikembangkan oleh rekan-rekan kami," beber Executive Director Institute of Operations Research and Analytics (IORA) NUS itu.

NUS Business School juga mengembangkan sebuah etalase AI (AI showcase). Pihaknya bakal memamerkan sebagian karya AI yang telah dihasilkan mahasiswa. 

Teo menyebut NUS Business School juga memiliki tim profesor yang akan melatih mahasiswa mengenai teknologi AI yang relevan sebelum mereka bekerja di perusahaan.

"Kami mengerjakan berbagai aspek seperti ini untuk mempersiapkan mahasiswa dan dosen kami menghadapi masyarakat berbasis AI. Bahkan, apabila ada permintaan pelatihan AI bagi para pengajar, kami dengan senang hati akan melaksanakannya," ungkap Teo.

Pihaknya juga memiliki program yang memungkinkan universitas lain datang, lalu NUS Business School merancang program yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Apabila kebutuhannya adalah meningkatkan kemampuan mengajar dengan bantuan AI, pihaknya dapat membantu menyusun kurikulumnya. 

"Kami telah menjalin interaksi dengan universitas-universitas di Indonesia, seperti UI, UGM, dan ITB. Mereka memiliki banyak sumber daya AI, tetapi kami memiliki kemampuan untuk merancang program khusus bagi mereka," ujar dia. 

Teo yakin dengan hal-hal ini ke depan NUS Business School tidak hanya bisa mengintegrasikan AI, tetapi juga menumbuhkan pola pikir dan pendekatan baru yang akan membantu berpadu dengan AI di masa depan.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan