Vice Dean of MBA Programmes and Professor of Marketing National University of Singapore (NUS), Jochen Wirtz. Medcom.id/Renatha Swasty
Vice Dean of MBA Programmes and Professor of Marketing National University of Singapore (NUS), Jochen Wirtz. Medcom.id/Renatha Swasty

NUS Business School Hadirkan Simulasi AI, Mahasiswa MBA Langsung 'Berhadapan' dengan CEO

Renatha Swasty • 08 Oktober 2026 08:34
Ringkasnya gini..
  • NUS Business School menerapkan simulasi AI eksekutif C-suite untuk mahasiswa MBA agar siap menghadapi dunia kerja nyata.
  • Mahasiswa dilatih mengajukan pertanyaan kritis, memvalidasi data, dan mengambil keputusan di tengah ketidakpastian.
  • Pembelajaran dilengkapi mentor AI bermetode Sokratik dan memperoleh respon positif dengan skor kepuasan 4,1 dari 5.
Singapura: Perkembangan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan menuntut mahasiswa Master of Business Administration (MBA) membutuhkan keterampilan baru tidak sekadar menjawab pertanyaan. Praktik nyata diperlukan agar mereka siap menghadapi berbagai masalah nyata di lingkungan kerja.

Hal itu mendorong NUS Business School menciptakan simulasi AI yang memungkinkan akses langsung bagi mahasiswa ke CEO, CFO, atau eksekutif tingkat C-suite (C-level) mana pun dari perusahaan besar. Uji coba (pilot study) dari studi ini baru saja dilakukan pada bulan April bersama para siswa MBA di Singapura, implementasi kedua dilakukan di Jakarta pada segmen Executive MBA pada Agustus, dan akan memasuki uji coba ketiga. 

Vice Dean of MBA Programmes and Professor of Marketing National University of Singapore (NUS), Jochen Wirtz, mengungkap sebelumnya pembelajaran berlangsung dengan mahasiswa membaca sebuah studi kasus, berdiskusi, menganalisis, dan mempresentasikannya. 

Studi kasus telah dikurasi oleh seorang penulis. Caranya, dengan datang ke perusahaan, memeriksa dokumen, melihat kondisi industri dan perekonomian, memasukkan berbagai faktor pendukung, lalu menulis studi kasus tersebut. Jadi, lingkungan informasinya telah dikurasi dan disintesis atau dengan kata lain dikurasi dan dibuat sendiri oleh si penulis.

"Kini, pendekatan barunya adalah siswa menciptakan lingkungan informasi mereka sendiri," ujar Jochen saat diskusi dengan media di The Ridge, Singapura, Rabu, 7 Oktober 2026. 

Jochen mengungkap simulasi yang dia buat memiliki karakter CEO, CFO, dan CTO berbasis AI. Ketiganya memberikan jawaban tidak sempurna kepada para mahasiswa, sehingga mereka perlu menyesuaikan strategi wawancara. 

Mahasiswa dapat mengajukan pertanyaan berbeda, menantang jawaban yang diberikan, dan terkadang jawaban-jawaban tersebut bisa saling bertolak belakang. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memvalidasi dan merekonsiliasinya.
 
"Hal ini sangat mencerminkan apa yang sebenarnya terjadi di dunia nyata. Sebab, di dunia nyata, masalah tidak disajikan di atas lembaran kertas yang rapi di mana segala sesuatunya sudah terstruktur," tutur dia.

Jochen mengatakan mahasiswa harus mencari tahu di mana letak masalahnya, bagaimana cara menyelesaikannya, bagaimana mengumpulkan informasi, serta bagaimana menghadapi ketimpangan informasi. 

"Jadi, keterampilan baru yang sedang dilatih adalah kemampuan bertanya, mengambil keputusan di tengah ketidakpastian (ambiguity), serta melakukan validasi dan rekonsiliasi dari berbagai pemangku kepentingan (stakeholders)," kata dia. 

Dia menyebut setiap siklus alur wawancara akan mengasah kemampuan mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan yang lebih baik, mengenali jawaban yang lemah, dan menyusun rekomendasi akhir yang lebih kuat. Di sepanjang alur dan perjalanan pembelajaran ini, mahasiswa didampingi oleh seorang mentor berbasis AI lainnya yang membantu serta membimbing menggunakan metode Sokratik (Socratic method). 

Jochen mengungkap AI simulasi ini mendapat respons positif dari mahasiswa yang mencobanya. Tingkat kepuasan mencapai 4,1 dari 5.

Mahasiswa menunjukkan peningkatan kemampuan dalam melakukan wawancara manajemen yang terstruktur dan terarah. Sebelumnya, studi kasus membutuhkan kecepatan membaca ketimbang berpikir kritis, di mana mahasiswa hanya mengerjakan satu tugas singkat tanpa adanya pengulangan atau penyempurnaan. 

Sekarang, setiap mahasiswa terlibat langsung dengan pihak manajemen, dinamika pemangku kepentingan disimulasikan di seluruh angkatan, dan terdapat alur umpan balik yang membuat proses belajar menjadi lebih baik.

"Poin utamanya adalah bahwa AI dapat digunakan sebagai alat efisiensi. Kita semua memahami hal itu. Namun di sini, saya menggunakan AI sebagai platform untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih kaya dan realistis yang mencerminkan praktik profesional di dunia nyata," ujar Jochen. 
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan