Perkembangan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang semakin masif juga mesti diwaspadai. Apabila tak bisa menghubungkan perkembangan AI dengan pekerjaan di masa depan, bakal banyak yang menganggur.
"Orang-orang hanya berguna jika mereka memiliki pekerjaan. Jika mereka tidak memiliki pekerjaan, mereka bisa menciptakan agresi sosial," kata Profesor Department of Finance National University of Singapore (NUS) Business School, Johan Sulaeman, dalam diskusi dengan media di The Ridge, Singapura, Rabu, 7 Oktber 2026.
Berpikir Kritis Kunci Pendidikan di Era AI
Johan mengatakan sangat penting bagi pemerintah untuk mulai menyiapkan generasi muda dengan pembelajaran dan pelatihan AI. Dia menyebut pemerintah tak semestinya takut terhadap AI tapi menyiapkan agar AI berdampak pada manusia, tenaga kerja hingga menyesuaikan lapangan kerja ke depan.Salah satu pembelajaran yang penting adalah mengajarkan soal hal-hal yang bisa dilakukan AI dan yang tidak harus dipercayai dari AI. Pelajar mesti diajari menilai respons AI.
"Pendidikan yang paling penting adalah berpikir kritis (critical thinking). Salah satu masalah di Indonesia, sampai batas tertentu, adalah kurangnya budaya berdebat dan berani tidak setuju dengan orang lain. Karena itu, sebenarnya lebih mudah untuk tidak setuju dengan AI," tutur Johan.
Dia menyebut pelajar perlu diajari cara tidak setuju dengan AI, yaitu bagaimana bersikap kritis dan menilai jawaban AI secara cermat, lalu memasukkan semua itu ke dalam alur kerja. Caranya dengan mengajukan pertanyaan, rumuskan pertanyaan dengan tepat, kemudian kritisi jawaban AI.
Dia yakin pendidikan tidak akan pernah hilang karena AI tidak terlalu baik dalam mengajarkan soal berpikir kritis. Johan menyebut AI kerap tidak ingin dikritisi, hal itu terlihat ketika tidak setuju dengan jawaban yang diberikan.
Director of the Sustainable and Green Finance Institute di NUS itu juga menekankan interaksi manusia dibutuhkan untuk berpikir kritis. Sebab, sangat sulit untuk mengajar berpikir kritis secara online karena tidak bisa melihat pergerakan dan ekspresi muka manusia.
(kiri) Professor Sumit Agarwal, Low Tuck Kwong Distinguished Professor of Finance at the Business School & Professor of Economics and Real Estate at the National University of Singapore (NUS). Medcom.id/Renatha Swasty
Pendidik Berperan Mengurai Kebingungan Pelajar
Pendidik juga punya peran penting dalam pembelajaran AI bagi pelajar. Sebagai pendidik,mestinya dapat membantu mengurai atau menghilangkan kebingungan para murid.
Low Tuck Kwong Distinguished Professor of Finance at the Business School, Professor Sumit Agarwal, menyebut banyak pendidik tidak tahu penyebab kebingungan pelajar. Sehingga, mereka mencoba menyederhanakannya menjadi hal-hal yang secara umum bisa dipahami, lalu memberikan jawabannya.
"Padahal, saya sebenarnya tidak menghilangkan kebingungan itu, saya hanya memberikan jawaban. Sebagian murid menganggap jawaban itu sejalan dengan kebingungan mereka, lalu langsung memakainya," tutur Professor of Economics and Real Estate National University of Singapore (NUS) itu.
Nah, di sini AI dapat membantu pendidik untuk benar-benar memahami dari mana kebingungan itu berasal. Dia mencontohkan ketika anak-anak diminta menyelesaikan soal matematika, seperti menjumlah, membagi, atau mengalikan, mereka bisa menggunakan cara berbeda-beda.
Mereka mungkin memperoleh jawaban yang benar, tetapi dengan metode berbeda. Apabila si guru bisa memahami bagaimana mereka mengerjakannya, dia dapat memahami kebingungan yang dialami masing-masing anak.
Jadi, sebagai pendidik mesti tahu cara menghilangkan kebingungan itu atau setidaknya membantu pelajar memahami metodenya dengan lebih baik.
"Karena itu, menurut saya di sinilah pendidikan berbasis AI akan sangat bermanfaat. Kita berusaha memahami secara individual dari mana sumber kebingungan itu berasal dan bagaimana kita dapat membantu menyelesaikannya," ujar dia.
Sumit menyebut juga penting mendorong pelajar berdebat dengan jawaban dari AI. Sebab, AI cenderung memberikan jawaban yang kita sukai.