Senior Lecturer di Department of Marketing National University of Singapore (NUS) Business School, Samer El Hajjar. Medcom.id/Renatha Swasty
Senior Lecturer di Department of Marketing National University of Singapore (NUS) Business School, Samer El Hajjar. Medcom.id/Renatha Swasty

Gen Z Mulai Tinggalkan Bali? Riset NUS Ungkap Dampak Overtourism

Renatha Swasty • 08 Oktober 2026 13:07
Ringkasnya gini..
  • Lonjakan wisatawan menyebabkan overtourism di Bali, yang memicu ketegangan sosial dan memicu pergeseran preferensi Gen Z.
  • Akademisi NUS menyarankan pemerintah Indonesia mengembangkan destinasi alternatif seperti Lombok dan Batam.
  • Pembangunan infrastruktur dan konektivitas wajib disiapkan sebelum gencar melakukan promosi pemasaran destinasi baru.
Singapura: Bali yang dikenal sebagai surga tropis mempesona dengan pantai, budaya, dan keramahan penduduk menghadapi overtourism atau keberlebihan wisatawan. Pemerintah mesti bergerak cepat mengatasi hal ini jika tak mau kehilangan turis. 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat per Mei 2025, jumlah wisatawan di Bali mencapai 6.948.754 orang. Angka ini naik 9,72 persen dari tahun 2024 yang berjumlah 6.333.360. 

Senio Lecturer di Department of Marketing National University of Singapore (NUS) Business School, Samer El Hajjar, mengungkap ada dua dampak yang dirasakan dari overtourism. Pertama, dampak sosial. 

Dia menyebut masyarakat Bali bakal mulai merasakan tekanan. Hal itu bukan hanya karena biaya hidup meningkat, melainkan juga karena sebagian wisatawan datang dengan membawa tradisi mereka sendiri dan merasa tidak perlu beradaptasi dengan masyarakat serta tradisi Bali. 

"Menurut saya, hal ini agak kurang sopan dan dapat menciptakan apa yang saya sebut sebagai ketegangan sosial. Jika Anda berbicara dengan warga lokal di sana, mereka akan berkata, "Kami menyukai pariwisata. Kami senang menyambut orang-orang dari seluruh dunia, itu sangat luar biasa. Namun, lihatlah biaya hidup saat ini dan lihatlah perilaku para wisatawan tersebut." ujar Samer saat berbincang dengan media di The Ridge, Singapura, Rabu, 7 Oktober 2026. 

Kedua, orang-orang kini mulai menghindari keramaian, terutama Generasi Z. Mereka melihat keramaian di Instagram atau TikTok lalu berpikir untuk menghindari Bali dan pergi ke tempat lain.

Dia menilai pemerintah Indonesia mesti segera bergerak membuka daerah wisata lainnya. Sebab, berdasarkan riset yang dia dan timnya lakukan melalui Nation Brand Research (NBR) menemukan ke depan para wisatawan akan menghindari keramaian, mencari pengalaman baru, dan mencari acara-acara menarik. 

Wisatawan akan mencari destinasi yang jarang dikunjungi orang lain. Hal ini terjadi karena mereka ingin merasa istimewa, menginginkan ruang pribadi, serta menginginkan pengalaman yang disesuaikan dengan kebutuhan pribadi mereka (personalized).

"Jadi, salah satu prediksi utama kami adalah adanya pergeseran pilihan wisatawan dari tempat-tempat terkenal ke tempat-tempat alternatif. Dalam konteks Indonesia, kami memprediksi akan ada pertumbuhan di kota-kota dan pulau-pulau lainnya," beber dia.

Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan potensi di tempat lain. Samer mencontohkan Lombok yang juga tidak kalah bagus dari Bali. 

Namun, dia menekankan untuk membuka pariwisata di wilayah lain perlu membangun konektivitas dan infrastruktur. Samer mengaku setiap kali berlibur ke Lombok mesti menghadapi kendala infrastruktur. 
 
"Jadi, Anda harus membangun infrastruktur yang lebih baik di destinasi-destinasi tersebut terlebih dahulu sebelum menarik kedatangan wisatawan," tutur dia. 

Samer mengatakan salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah melakukan hal sebaliknya, yakni gencar melakukan kampanye pemasaran dan iklan agar orang-orang datang berkunjung, padahal destinasinya belum siap. Maka itu, penting bagi pemerintah menyiapkan destinasinya terlebih dahulu dari segi pembangunan infrastruktur.

Mahasiswa Master of Business Administration (MBA) NUS Business School, Azhar Muhammad, yang juga terlibat dalam NBR menekankan bila pemerintah Indonesia berinvestasi pada infrastruktur, konektivitas jalan, keamanan, serta pembangunan lebih banyak resor di pulau-pulau lainnya maka wisatawan akan melihat nilai yang berbeda dari wilayah tersebut dibandingkan Bali. 

Dia mencontohkan Batam yang punya potensi sebagai tempat wisata. Azhar pernah tinggal di dekat sebuah resor yang pengelolaannya sudah sangat baik.

"Jika ada lebih banyak resor, wisatawan yang tadinya datang ke Bali hanya untuk sekadar berkunjung sekali, mungkin akan menjelajahi wilayah ini dan kembali lagi untuk tujuan yang berbeda," tutur dia.

Para wisatawan yang mengunjungi Bali juga dapat diarahkan ke wilayah-wilayah terdekat agar mereka dapat mengeksplorasi bagian lain dari Indonesia. Di sini, kata dia, letak pentingnya kemitraan antara pemerintah dan sektor swasta. 

Pemerintah dapat bekerja sama dengan pihak hotel dan perusahaan penyedia jasa pariwisata untuk memberikan rekomendasi kepada wisatawan. Misalnya, jika mereka mengunjungi Bali untuk menikmati pemandangan pantai, pengelola dapat merekomendasikan pulau atau tempat terdekat yang memiliki tujuan serupa, seperti tempat baru yang tidak terlalu ramai, lebih tenang, dan damai. 

"Wisatawan yang menyukai suasana seperti itu dapat dialihkan ke sana. Ini menciptakan efek limpahan (spillover effect) dari satu lokasi ke lokasi lain dalam periode waktu yang sama," ujar Azhar.

Samer menyebut pemerintah Indonesia juga bisa mulai menargetkan wisata yang lebih spesifik, misalnya Lombok dengan pariwisata halalnya. Dia menuturkan populasi Muslim di dunia mencapai 1,3 miliar jiwa, dan banyak di antaranya tergolong sejahtera. 

Dia mengatakan pasar 1,3 miliar orang ini sangat menyukai pariwisata halal dan senang membelanjakan uang mereka di destinasi wisata halal. 

"Jadi, selalu ada ruang untuk menarik konsumen baru di berbagai destinasi lain. Namun ingat, setelah infrastrukturnya siap, barulah kita melakukan kampanye pemasaran untuk mengajak orang berkunjung ke lokasi-lokasi tersebut," tegas dia. 


Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan