Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DIY, dr. Ari Kurniawati, memaparkan bahwa tren kasus campak di Yogyakarta misalnya, menunjukkan peningkatan drastis dalam beberapa waktu terakhir. Hingga minggu ke-9 tahun 2026, tercatat 73 kasus campak terkonfirmasi.
Angka ini melonjak sekitar 5,6 kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. “Kasus paling banyak ditemukan pada anak usia 2-9 tahun. Sebagian kasus juga terjadi pada bayi di bawah sembilan bulan yang belum cukup umur untuk mendapatkan imunisasi,” ungkap Ari dikutip dari laman UGM, dikutip Rabu, 18 Maret 2026.
Ancaman Juga Mengintai Orang Dewasa
Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK-KMK UGM, dr. Ida Safitri Laksanawati, Sp.A(K)., mengingatkan bahwa kerentanan terhadap campak tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Kunci utama perlindungan terletak pada kelengkapan dosis vaksin kombinasi Measles and Rubella (MR).Menurutnya, meskipun cakupan vaksinasi dosis pertama (MR1) di DIY tergolong tinggi, yakni di atas 95 persen, cakupan untuk dosis kedua (MR2) ternyata masih berada di angka 90 persen. Kesenjangan inilah yang menjadi celah bagi melemahnya kekebalan kelompok.
“Ini menjadi alarm bagi kita. Ketika cakupan MR2 tidak optimal, dalam rentang waktu lima tahun ke depan, kadar antibodi orang yang sudah divaksinasi akan menurun signifikan,” tegas dokter spesialis anak RSUP Dr. Sardjito tersebut.
Ida menekankan agar masyarakat tidak panik, melainkan meningkatkan kewaspadaan melalui persiapan yang matang. Ia mendorong para pemudik untuk lebih cermat dalam menimbang risiko sebelum bepergian.
“Perhatikan di mana kasus itu menyebar, dan dengan siapa Anda akan bepergian. Terutama dengan anggota keluarga yang berisiko, misalnya bayi usia 6 bulan yang tentu belum mendapatkan vaksin campak. Jika tidak terlalu penting, sebaiknya jangan diajak ke tempat keramaian,” terangnya.
Penularan Sering Tak Disadari
Sementara itu, Dosen Departemen Biostatistik, Epidemiologi dan Kesehatan Populasi FK-KMK UGM, dr. Risalia Reni Arisanti, MPH, membagikan temuan lapangan yang menunjukkan bahwa penularan sering kali terjadi tanpa disadari dalam lingkup keluarga.Menurut pengamatannya, karena gejala awal campak mirip dengan penyakit lain seperti demam berdarah, masyarakat kerap tidak menaruh kecurigaan dini sehingga penanganan medisnya menjadi kurang tepat. Sebagai langkah antisipasi, ia mengimbau masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi tubuh.
“Masing-masing dari kita diharapkan dapat bersikap bijaksana. Begitu merasa tidak enak badan, langkah pertama adalah memakai masker dan membatasi interaksi guna mencegah penularan kepada anggota keluarga lain,” paparnya.
| Baca juga: Kasus Campak Mengintai di Hari Raya, Ini Pesan Penting Dosen Unika Atma Jaya |
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News