Menurut Dosen Program Studi Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer Unika Atma Jaya, Dr.dr. Regina Satya Wiraharja, M.Sc., kasus campak masih ditemukan di Indonesia dan perlu menjadi perhatian masyarakat. Pada tahun 2025 tercatat sekitar 11.094 kasus campak yang terkonfirmasi laboratorium dengan 69 kematian atau Case Fatality Rate (CFR) sekitar 0,1 persen. Sementara pada minggu ketujuh tahun 2026 sudah tercatat 572 kasus dengan 4 kematian. Selain itu, terdapat 13 wilayah yang dilaporkan mengalami peningkatan kasus campak.
Regina menjelaskan bahwa campak merupakan penyakit infeksi yang sangat mudah menular. Penyakit ini disebabkan oleh virus RNA dari genus Morbilivirus dalam family Paramyxoviridae yang menyerang saluran pernapasan. “Penularan campak terjadi melalui droplet, yaitu percikan ludah atau ingus penderita yang tersebar di udara melalui pernapasan, batuk, atau bersin dan dapat terhirup oleh orang lain,” jelasnya.
Setelah masuk ke dalam tubuh, virus akan berkembang biak dan menyebar melalui saluran getah bening, limpa, hati, dan saluran pernapasan. Masa inkubasi campak umumnya berlangsung sekitar 8 hingga 14 hari.
Gejala campak muncul melalui beberapa tahap. Pada tahap awal yang berlangsung sekitar 2-7 hari, penderita biasanya mengalami demam tinggi, lemas, pilek, batuk, serta mata merah yang sensitif terhadap cahaya. Pada beberapa kasus juga dapat muncul bercak khas di bagian dalam pipi yang dikenal sebagai Koplik spots.
Selanjutnya, pada tahap ruam yang biasanya muncul sekitar hari ke-4 hingga ke-14, ruam kemerahan mulai terlihat dari area telinga atau wajah kemudian menyebar ke seluruh tubuh dan berlangsung sekitar 6-7 hari, sering disertai demam tinggi. Memasuki tahap penyembuhan, demam biasanya mulai mereda dalam 3-4 hari, sementara ruam berubah menjadi kecokelatan dan menghilang secara bertahap dalam 7-10 hari.
Meski banyak kasus campak dapat sembuh dengan sendirinya, penyakit ini tetap perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan komplikasi serius seperti radang paru, diare, dehidrasi, infeksi telinga tengah, hingga peradangan otak. Risiko komplikasi lebih tinggi pada bayi, individu dengan daya tahan tubuh lemah, serta orang yang mengalami kekurangan gizi atau vitamin A.
Pada ibu hamil, infeksi campak juga dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan seperti kelahiran prematur, bayi dengan berat badan lahir rendah, bahkan keguguran.
Karena itu, Dr. Regina menekankan pentingnya langkah pencegahan untuk menurunkan risiko penularan campak, terutama pada masa hari raya ketika interaksi sosial meningkat. “Vaksinasi campak atau MMR merupakan cara paling efektif untuk mencegah penyakit ini. Pada anak-anak, vaksin diberikan sebanyak tiga kali yaitu pada usia 9 bulan, 2 tahun, dan 5 hingga 6 tahun,” ujarnya.
Selain vaksinasi, masyarakat juga dianjurkan untuk menjaga kebersihan tangan dengan mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer, menerapkan etika batuk dan bersin, serta menggunakan masker terutama saat mengalami gejala infeksi saluran pernapasan.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga asupan gizi seimbang, termasuk kecukupan vitamin A yang berperan dalam menjaga kesehatan jaringan saluran pernapasan dan mendukung sistem kekebalan tubuh.
Apabila seseorang mengalami gejala yang mengarah pada campak, Dr. Regina menyarankan untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan serta membatasi kontak dengan orang lain guna mencegah penularan lebih lanjut.
Dengan meningkatnya mobilitas masyarakat selama momen hari raya, kewaspadaan terhadap penyakit menular seperti campak tetap diperlukan agar masyarakat dapat merayakan kebersamaan dengan aman dan sehat.
| Baca juga: Kemnaker Imbau Perusahaan Terapkan WFA Jelang Nyepi dan Idulfitri 2026, Simak Aturannya |
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News