Delapan Rektor dan Dosen Raih Academic Leader Awards 2018
Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) Kemristekdikti, Ali Ghufron Mukti, saat membuka Academic Leader Awards 2018, Humas Kemenristekdikti.
Jakarta:Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) memberikan Academic Leader Award 2018 kepada delapan akademisi yang terdiri dari rektor dan dosen berprestasi, menghasilkan inovasi, dan menjalankan tridarma perguruan tinggi.

Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID), Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti mengatakan, peraih anugerah Academic Leader Award 2018, adalah mereka yang tidak hanya telah menghasilkan inovasi, tetapi juga telah berdedikasi menjalankan Tridarma pendidikan tinggi. "Artinya, mereka mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan negara tanpa sedikit pun meninggalkan tugas pokoknya," kata Ghufron, di Jakarta, Jumat malam, 17 Agustus 2018.

Akademisi yang mendapat anugerah Academic Leader tahun ini untuk kategori Dosen di bidang Sains adalah Fitri Khoerunnisa dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).  Fitri merupakan penemu biomaterial untuk pengolahan/pemurnian air (bioflokulan/membrane) dan bionutrient.

Kemudian di bidang teknologi dianugerahkan pada Agus Purwanto dari  Universitas Sebelas Maret (UNS), sebagai penemu dan pengembang teknologi pembuatan baterai litium pertama di Indonesia.  Pada bidang kesehatan dianugerahkan pada Wiku Bakti Bawono Adisasmito dari Universitas Indonesia (UI), untuk Inovasi jamu hewan Herbachick dan HerbaFit yang mampu meningkatkan kesehatan hewan secara alami, dan aman dikonsumsi produknya oleh manusia.

Terakhir, di bidang Pertanian dianugerahkan pada Achmad Subagio, dari Universitas Jember, sebagai penemu agroindustri MOCAF (Modified Cassava Flour): Integrated farmingberbasis singkong di lahan suboptimal untuk meningkatkan pemerataan pembangunan dan ketahanan pangan nasional.

Sementara untuk kategori Dosen dengan “Tugas Tambahan” untuk Pemimpin PTS dianugerahkan pada Harjanto Prabowo dari Universitas Bina Nusantara.  Harjanto telah berhasil membawa Universitas Bina Nusantara menjadi satu-satunya PTS asal Indonesia yang masuk ke dalam peringkat 50 besar Asia.

Kemudian Rektor/Direktur PTN Satker dianugerahkan pada Samsul Rizal, dari Universitas Syiah Kuala, yang berhasil menerapkan konsep pengembangan mutu terstruktur dan berkelanjutan.  Sehingga dapat meningkatkan akreditasi institusi dari C menjadi A, dan telah membawa berbagai kebijakan baru di bidang kebijakan akademik.

"Salah satunya dengan menerapkan pendidikan percepatan doktor melalui penggunaan dana sendiri. Selain itu berhasil menggerakkan SDM untuk meningkatkan jumlah publikasi internasional dari 964 artikel menjadi 4.810 artikel," sebut Ghufron.

Baca: Rektor UNS Dinilai Sukses Dorong Hilirisasi Riset

Sedangkan untuk Rektor PTN BLU (Badan Layanan Umum) dianugerahkan pada Ravik Karsidi dari Universitas Sebelas Maret (UNS).  Ravik dinilai merupakan sosok yang gencar mendorong hilirisasi produk riset hasil karya dosen UNS di tingkat nasional, dan berhasil menerapkan Sistem Perencanaan Berbasis pada Cost Structure Analysis(CSA) yang membantu penyusunan DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran) UNS yang transparan dan akuntabel.

Untuk Rektor di PTN-BH diberikan pada Kadarsah Suryadi, dari Institut Teknologi Bandung (ITB), yang dianggap telah memperjuangkan ITB untuk bergerak dari Research University menuju Entrepreneurial University.

Upaya ini terlihat dalam tiga Key Performance Indicators, yakni excellent in teaching and learning, yaitu berupa 93% prodi terakreditasi A,Excellent in research berupa jumlah publikasi internasional yang mencapai lebih dari 2000 pada 2017, Excellent in Innovation and Entrepreneurship yang telah menghasilkan 85 start up and 18 spin off Companies.

(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id