Pelatihan literasi dosen Unpam kepada siswa SMK Sasmita Jaya 1, Tangerang Selatan, Banten. DOK Unpam
Pelatihan literasi dosen Unpam kepada siswa SMK Sasmita Jaya 1, Tangerang Selatan, Banten. DOK Unpam

Panduan Gen Z Kelola Medsos untuk Bisnis Sekaligus Jaga Keamanan Digital Ala Dosen Unpam

Renatha Swasty • 12 Mei 2026 18:04
Ringkasnya gini..
  • Pelatihan cerdas berliterasi di media sosial diisi dengan materi pentingnya ‘Branding’ yang diawali dengan penamaan akun media sosial.
  • Tim dosen juga memberikan materi terkait bijak dalam bermedia sosial.
  • Literasi internet bukan sekadar kemampuan baca tulis, tapi kemampuan menguasai pengetahuan dan bijaksana menggunakan internet.
Jakarta: Dunia digital dan internet merupakan dua hal yang sulit dilepaskan dari remaja dan generasi (gen) Z saat ini. Perlu literasi terukur dan terarah kepada mereka agar tidak membawa kerugian pada diri sendiri.
 
Hasil survei Penetrasi Internet Indonesia 2024 oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indoensai (APJII) menunjukkan gen Z (kelahiran 1997-2012) menjadi pengguna inernet terbesar yakni sebesar 34,4 persen dibandingankan dengan generasi lainnya. Sementara iut, survei Dginex bersama inveture dan ivosights menggambarkan rata-rata gen Z menghabiskan waktu 4 hingga 6 jam per hari untuk berselanjar di dunia maya, 31 persennya digunakan untuk mengakses media sosial. 
 
Hal ini mendorong tim dosen prodi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang memberikan pelatihan literasi media sosial kepada 39 siswa SMK Sasmita Jaya 1, Tangerang Selatan, Banten. Pelatihan mengusung tema “Cerdas Berliterasi di Media Sosial” sebagai Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). 

Media sosial untuk bisnis

Pelatihan diawali dengan perkenalan sekaligus brainstorming untuk mengetahui karakter penggunaan media sosial siswa SMK. Sesuai hasil survei, rata-rata siswa mengaku menghabiskan waktu lebih dari 3 jam dalam sehari untuk mengakses internet, mulai dari media sosial hingga mencari hal terkait pekerjaan rumah dan sekolah. 

Para remaja ini mengaku, media sosial digunakan bukan lagi sekedar terhubung dengan teman sebaya tapi juga terkait mata pelajaran di sekolah, salah satunya mata pelajaran kewirausahaan. Siswa di sekolah menengah atas kejuruan ini sadar, media sosial punya segudang manfaat lebih dari sekedar koneksitas dengan para pengikut atau kaum selebritas. 
 
Dosen Buko Vinaring Wedar Vauzi mengawali pelatihan cerdas berliterasi di media sosial dengan materi pentingnya ‘Branding’ yang diawali dengan penamaan akun media sosial. Salah satu siswa, Ahmad, mengaku memulai mempromosikan bisnisnya justru dengan akun pribadi yang dibuat dengan nama unik yakni, "Ahmad Mamat Memet". 
 
Ketika ditanya kenapa tidak menggunakan nama lengkap, Ahmad menjawab, "Biar terkesan unik, gampang diingat, dan siapa tahu mengundang netizen buat follow akun saya, bu," beber Ahmad melalui keterangan tertulis dikutip Selasa, 12 Mei 2026.
 
Rata-rata, para remaja ini menggunakan akun media sosial Instagram dan TikTok, baik untuk akun pribadi maupun untuk promosi. Kedua aplikasi media sosial ini dikenal menyediakan format video pendek yang menarik.
 
Sejumlah siswa lainnya juga sudah memiliki ide bisnis bahkan mulai membuat akun media sosial untuk pemasaran bisnisnya. Misalnya Avi, yang mau membuat kue berbentuk puding atau Arief yang mencoba memasarkan kue tradisional, klepon. 
 
Bahkan, Arief sudah punya nama untuk bisnisnya yaitu ‘Junkie Klepon’. Nama unik bisa jadi menarik pengguna internet untuk berselancar di akun media sosial Junkie Klepon. 
  Dosen Vina menyarankan agar siswa menata isi akun media sosial dengan berbagai visual foto menarik dan video pendek. "10 detik pertama video menjadi pertaruhan apakah pengguna internet melanjutkan pencarian atau justru scroll beralih ke akun lain", ujar dia.
 
Dosen Prima Virginia menjelaskan terkait pemasaran dan promosi, pembuatan materi dan waktu (timing) menjadi penting untuk diperhitungkan sebelum ditampilkan di layar akun medsos. 
 
"Materi untuk akun media sosial tidak sekedar bahasa yang gampang atau biasa didengar, tapi sudahkah ditentukan siapa target pasarnya? Apakah isi materi dan visual cukup menarik dan unik sehingga menampilkan hal berbeda dibandingkan produk lain?", ujar Prima.

Bijak menggunakan media sosial

Media sosial juga memiliki dan membawa dampak negatif. Salah satu siswi, Ayu, menyoroti kasus pelecehan seksual di dunia digital yang menyeret puluhan mahasiswa di universitas negeri beberapa waktu terakhir. 
 
"Saya percaya teman-teman laki-laki di sekolah ini bijak menggunakan media digital tidak seperti kakak-kakak di kampus-kampus itu ya..," seloroh dia. 
 
Saran Ayu ditambahkan tim dosen IKOM Unpam, bahwa penggunaan internet dan ponsel pintar tidak bisa seenaknya mengetik berbagai kata-kata yang tidak pantas. Sebab, hasil ketikan meninggalkan jejak digital yang susah dihilangkan dan berdampak di kemudian hari.
 
Tim dosen IKOM Unpam juga memberikan materi terkait brainroot yakni kondisi di mana pengguna media sosial terlampau banyak menerima informasi yang mengakibatkan kelelahan otak. Hal ini sebagai dampak negatif lain dari penggunaan internet. 
 
Secara tidak sadar, internet memengaruhi emosi, nalar, hingga gaya hidup dari pengguna. Para dosen mendorong agar siswa tidak sekedar mengetahui dan mengasah kemampuan pengetahuan baca tulis terkait literasi di media sosial, tapi juga berhati-hati dengan jemarinya. 
 
Setiap ketikan, setiap unggahan, setiap kegiatan yang dilakukan melalui jari dan jemari, direkam oleh mesin algoritma di internet. Sehingga membuat para penggunanya secara tidak sadar mengira ponsel pintarnya, yang menampilkan berbagai aplikasi dan media sosial, mengetahui dan memenuhi segala keinginan penggunanya. 
 
Padahal, secara tidak sadar dan tidak langsung, para pengguna internet justru yang ‘memberi makan’ mesin di internet itu, termasuk menyebarkan data dan informasi pribadinya. Literasi internet bukan sekadar kemampuan baca tulis, tapi kemampuan menguasai pengetahuan dan bijaksana menggunakan internet agar tidak kita tidak dikendalikan (atau bahkan bergantung) dengan mesin. Termasuk, memilih penggunaan aplikasi, membatasi penyebaran informasi (terutama data pribadi), hingga membatasi durasi berselancar di dunia maya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA