Guru Besar Pendidikan Dokter dan Bioetika FKKMK UGM, Mora Claramitha, menyebut kodrat roh pendidikan adalah memfasilitasi Natuur (watak) menjadi Kultuur (kebiasaan) dan bermuara pada perikehidupan yang baik. Sifat pendidikan ialah kontekstual, sesuai dengan kondisi yang muaranya adalah pengaturan hidup atau perikehidupan yang baik.
“Karenanya tujuan pendidikan tidak berhenti pada pengetahuan dan kepandaian atau ketrampilan, namun matangnya jiwa atau diri pribadi sehingga dapat mewujudkan kehidupan yang tertib dan bermanfaat bagi orang lain. Kematangan jiwa atau diri yang dimaksudkan adalah keluhuran budi dan bijaksana," tutur dia.
Mora menyebut lambang Tut Wuri Handayani dalam pendidikan berarti membuka kesempatan dan potensi yang seluas-luasnya, yaitu mewujudkan satu tujuan manusia yang berbudi luhur.
Dalam Bahasa Inggris, Tut Wuri Handayani diterjemahkan sebagai facilitating, nurturing, dan empowering. Lambang ditetapkan Kementerian Pendidikan pada 1977.
Mora menjelaskan implikasi pemikiran Ki Hadjar Dewantara pada pendidikan tinggi di Indonesia di antaranya pembelajar sepanjang hayat dan kemampuan melakukan refleksi. Selain itu juga menyangkut soal pemberian umpan balik yang membangun, mentoring yang berkelanjutan, pembelajaran berbasis kebutuhan dan tempat di masyarakat industri, pembelajaran berbasis keunggulan kebudayaan lokal mengacu pada nilai-nilai universal.
“Intinya pembudayaan menuju kemandirian belajar menjadi insan yang berbudi luhur," papar dia.
Plt Direktur Riset, Teknologi, dan Pengabdian pada Masyarakat, Dirjen Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Kemendikbudristek, Teuku Faisal Fathani, menyatakan bukan kapasitasnya turut menggali nilai-nilai luhur Ki Hadjar Dewantara. Namun, dia mencoba mendengar dan mengobservasi agar bisa memformulasikan pemikiran dari Ki Hadjar Dewantara bisa dibuat lebih terstruktur dan sistematis.
Sehingga diharapkan bisa memengaruhi atau mengarahkan pendidikan di Kemendikbudristek. Khususnya, pendidikan tinggi, riset, dan teknologi.
“Saya mengusulkan bagaimana nanti antara Universitas Sarjana Tamansiswa dan UGM bisa bersama membangun pusat unggulan atau Pusat Studi yang bisa menggali lebih dalam nilai-nilai luhur dari Ki Hadjar Dewantara untuk kemajuan pendidikan Indonesia," tutur dia.
| Baca juga: Hardiknas Perlu Hidupkan Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara Soal Budaya Pancasila |
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News