Ilustrasi kuliah. Medcom.id
Ilustrasi kuliah. Medcom.id

Merenungi Kembali Pengajaran Ki Hadjar Dewantara Soal Pendidikan

Renatha Swasty • 14 Juli 2022 17:32
Jakarta: Pendidikan adalah usaha kebudayaan. Sebagai usaha kebudayaan, pendididkan dinilai sebagai sesuatu yang luar biasa karena pada situasi saat ini telah menempatkan pendidikan di perguruan tinggi sebagai bisnis.
 
Pendidikan selama ini dinilai telah terjebak dalam pendekatan-pendekatan yang sifatnya kognitif. Oleh karena itu, perlu merenungkan pengajaran Ki Hadjar Dewantara yang menempatkan pendidikan bukan sekadar soal kognitif melainkan juga soal rasa dan karsa.
 
Rektor Universitas Sarjana Tamansiswa (UST), Pardimin, mengatakan Tamansiswa menempatkan pendidikan sebagai usaha kebudayaan dan kemasyarakatan. Pendidikan diarahkan untuk mendekatkan pada lingkungan alam, sosial, dan budaya yang dihidupi di lingkungannya.

Pardimin menuturkan pendidikan adalah proses pembudayaan berkaitan dengan proses humanisasi yang memiliki antitesis yang antinilai. Sebagai bagian dari Tamansiswa, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta menempatkan 'Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan Nasional' sebagai dharma keempat dari Caturdharma.
 
Dia menyebut kebudayaan adalah buah budi manusia yang mengandung sifat-sifat luhur dan indah. Sebagai hasil perjuangan hidup manusia terhadap kekuatan alam dan zaman yang berlangsung terus menerus sepanjang hidup manusia demi membawa kemajuan hidup dan penghidupan kepada manusia untuk mewujudkan hidup tertib damai, salam dan bahagia.
 
Sebagai hasil perjuangan, kebudayaan tidak hanya mengandung sifat-sifat keluhuran dan kehalusan, namun mengandung sifat-sifat kemajuan dan berfaedah dalam arti meringankan hidup manusia. Kemajuan kebudayaan dikembangkan sesuai dengan teori trikon, yaitu, kontinu, konvergen dan konsentris.
 
“Kontinu diartikan sebagai terus menerus, berkesinambungan mengembangkan kebudayaan asli. Konvergen, secara selektif dan adaptif memadukan kebudayaan kita dengan kebudayaan asing yang dipandang perlu untuk kemajuan bangsa, dan konsentris, menuju kearah kesatuan kebudayaan dunia dengan tetap terus mempunyai sifat kepribadian di dalam lingkungan kemanusiaan dunia," papar dia dikutip dari laman ugm.ac.id, Kamis, 14 Juli 2022.
 
Pardimin mengapresiasi diskusi dalam rangka memperingati 100 tahun Tamansiswa yang diinisiasi Dewan Guru Besar UGM. Dia menyebut diskusi ini memperlihatkan Tamansiswa bukan hanya milik UST Yogyakarta, Majelis Luhur Tamansiswa, atau cabang-cabang Tamansiswa, melainkan milik bersama.
 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All




TERKAIT

BERITA LAINNYA