Dirjen Risbang Kemendiktisaintek Fauzan Adziman. Foto: Youtube Grace Tahir
Dirjen Risbang Kemendiktisaintek Fauzan Adziman. Foto: Youtube Grace Tahir

Dirjen Fauzan Adziman Sebut Sukses Bukan Milik Orang 'Pintar', Tapi yang Gigih

Ilham Pratama Putra • 18 Juli 2026 12:09
Ringkasnya gini..
  • Fauzan Adziman mengaku tidak percaya ada orang yang terlahir pintar atau jenius.
  • Menurutnya, grit dan persistence lebih menentukan kesuksesan dibanding kecerdasan akademik.
  • Pengalaman hidupnya menjadi bukti bahwa pendidikan dapat mengubah masa depan seseorang.
Jakarta: Di tengah budaya pendidikan yang masih kerap mengukur keberhasilan dari nilai ujian dan kecerdasan akademik, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Risbang) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Fauzan Adziman, justru memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, tidak ada manusia yang sejak awal ditakdirkan lebih pintar dibanding yang lain.
 
Baginya, keberhasilan lebih banyak ditentukan oleh ketekunan. Termasuk kegigihan, dan kemauan untuk terus belajar dibanding sekadar bakat bawaan.
 
"Saya tidak percaya kata pintar. Saya juga tidak percaya istilah jenius. Yang saya percaya adalah kalau kita mau berusaha, satu per satu kemampuan itu bisa dibangun," kata Fauzan dalam Siniar di kanal YouTube Grace Tahir dikutip Sabtu, 18 Juli 2026.

Fauzan mengungkap apa yang dia sampaikan bukan sekadar teori. Fauzan mengaku membangun keyakinan tersebut dari perjalanan hidupnya sendiri, mulai dari masa remaja yang penuh keterbatasan hingga akhirnya menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB), Tokyo Institute of Technology, dan University of Oxford.
 
Baca juga: Kurikulum Baru UGM 2026, Bagaimana Nasib Mahasiswa Lama?  

Keyakinan itu tumbuh melalui kenangan pada salah satu titik terberat dalam hidupnya ketika masih berusia sekitar 15 tahun. Setelah kehilangan ibunya, ia harus menjalani kehidupan yang penuh keterbatasan hingga sempat berpikir untuk menyambung hidup dengan menjadi penyemir sepatu di kawasan Blok M, Jakarta Selatan.
 
Saat itu, ia hanya memiliki uang Rp25 ribu. Misinya hanya satu, mencoba memikirkan cara bertahan hidup.
 
"Saya berpikir, kalau saya menyemir sepatu, berapa lama saya bisa mengubah hidup saya? Lalu saya melihat orang-orang yang mengendarai mobil bagus. Saya bertanya, kenapa mereka bisa sampai di sana? Hipotesis saya waktu itu adalah pendidikan," ujarnya.
 
Sejak saat itu, ia memutuskan kembali fokus belajar. Baginya, setiap nilai baik yang diperoleh merupakan investasi untuk masa depan.
 
"Setiap malam saya belajar. Saya berpikir ini tabungan saya supaya suatu saat bisa membawa kehidupan ekonomi yang lebih baik," katanya.
 
Berbekal pengalaman tersebut, Fauzan meyakini faktor pembeda seseorang bukanlah tingkat kecerdasan. Melainkan grit atau daya juang dan persistence atau kegigihan.
 
Menurut dia, banyak orang terjebak pada label pintar atau tidak pintar sejak usia sekolah. Padahal, setiap individu memiliki potensi yang bisa berkembang apabila diberi kesempatan dan terus diasah.
 
"Saya tidak pernah merasa saya pintar. Bahkan saya tidak merasa ada beda kepintaran antara orang satu dengan yang lain. Yang ada adalah energinya mau dipakai ke mana," ujarnya.
 
Ia menilai setiap orang memiliki kekuatan masing-masing. Ada yang unggul di bidang akademik, olahraga, seni, maupun kemampuan memimpin. 
 
Karena itu, sistem pendidikan seharusnya membantu menemukan dan mengembangkan potensi tersebut. Bukan sekadar memberi label berdasarkan nilai ujian.
 
Keyakinan itu juga diperkuat ketika Fauzan membangun perusahaan teknologi berbasis riset di Inggris. Perusahaannya menerima hampir seribu pelamar setiap tahun, sebagian besar berasal dari universitas bergengsi seperti Oxford, Cambridge, hingga Imperial College London.
 
Lebih lanjut, Fauzan berharap sistem pendidikan Indonesia ke depan semakin banyak melatih kemampuan berpikir kritis, menyelesaikan persoalan kompleks, sekaligus membangun karakter peserta didik. Ia menilai tantangan masa depan tidak lagi hanya membutuhkan lulusan yang pandai menghafal materi pelajaran, tetapi juga mampu terus belajar ketika menghadapi perubahan yang sangat cepat.
 
"Yang paling penting adalah kemauan untuk terus berkembang. Karena kemampuan itu bisa dibangun sedikit demi sedikit," katanya.
 
Baca juga: Kurikulum Baru UGM 2026, Mahasiswa Bebas Pilih Second Major, Minor, hingga Fast Track  

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan