Menariknya, visi Clarissa sebagai mahasiswa tidak hanya berorientasi pada capaian akademik. Di tahun pertamanya Clarissa langsung tancap gas membangun startup berbasis kecerdasan buatan (AI).
Di tengah kesibukannya menjalani perkuliahan, ia bersama sejumlah rekannya mengembangkan Clean AI Labs (tryclean.ai). Clean AI Labs menjelma sebagai startup B2B yang memanfaatkan data aktivitas bisnis untuk membantu perusahaan menemukan calon pembeli.
Startup tersebut menggunakan data riil seperti pengiriman, perizinan, dan pergantian pemasok untuk membantu perusahaan mengidentifikasi prospek bisnis. Dalam perjalanannya, Clean AI Labs memperoleh pendanaan USD50 ribu dari Jackson Square Ventures dan USD500 ribu dari Y Combinator.
Bagi Clarissa, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses mengembangkan kemampuan di luar ruang kelas. Ia tidak hanya berfokus pada perkuliahan, tetapi juga mencoba mengaplikasikan pengetahuan dan minatnya ke dalam proyek nyata.
Perjalanan Pendidikan Clarissa
Sebelum berangkat ke Amerika Serikat, Clarissa telah memperoleh LoA dari 14 perguruan tinggi di luar negeri. Sejumlah kampus yang menerimanya antara lain National University of Singapore (NUS), Nanyang Technological University (NTU), University of Illinois Urbana-Champaign (UIUC), UC San Diego, UC Davis, University of Edinburgh, hingga King's College London.Dari berbagai pilihan tersebut, Clarissa memilih UC San Diego. Ia memilih kampus tersebut karena menilai kampus tersebut sesuai dengan minat dan tujuan pendidikannya.
Keputusan itu tidak datang secara tiba-tiba. Sejak duduk di bangku SMANU M. H. Thamrin, Clarissa telah aktif mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri, termasuk kompetisi sains dan organisasi. Ia pernah menjadi wakil ketua OSIS serta mengikuti ajang fisika internasional. Pengalamannya tersebut mengantarkan Clarissa meraih honorable mention dalam International Physics Olympiad (IPhO) dan Asian Physics Olympiad (APhO).
“Sebelumnya, saya telah memetakan tujuan pendidikan sejak duduk di bangku SMANU M. H. Thamrin melalui berbagai kegiatan pengembangan diri, termasuk mengikuti International Physics Olympiad dan menjadi wakil ketua OSIS,” ujar Clarissa dikutip dari kemdiktisaintek.go.id, Kamis 1 Oktober 2026.
Ilustras. Foto: Pexels
Perjalanan Clarissa menuju UC San Diego kemudian mendapat dukungan melalui Beasiswa Garuda. Clarissa pertama kali mengetahui program tersebut ketika mengikuti program persiapan Beasiswa Indonesia Maju.
Informasi mengenai Beasiswa Garuda kemudian menjadi salah satu pilihan yang membawanya melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat. “Saya pertama mengetahui tentang Beasiswa Garuda karena partisipasi saya di program persiapan Beasiswa Indonesia Maju. Saya ingat, saya diberitahu bahwa saya diterima Beasiswa Garuda dalam waktu yang berdekatan dengan saat saya diterima beasiswa lain,” kata Clarissa.
Pada akhirnya, Clarissa memilih Beasiswa Garuda karena program tersebut membuka kesempatan baginya untuk melanjutkan pendidikan di Amerika Serikat, tepatnya UC San Diego. Selama menjadi penerima beasiswa, ia juga mendapatkan dukungan dalam mempersiapkan keberangkatan.
Menurut Clarissa, tim Beasiswa Garuda membantu sejumlah kebutuhan administratif. Termasuk pembuatan dokumen resmi serta menghubungkan penerima beasiswa dengan kedutaan besar setempat.
Setelah menjalani tahun pertama perkuliahan, Clarissa memandang Beasiswa Garuda tidak semata-mata sebagai dukungan finansial untuk menempuh pendidikan di luar negeri. Lingkungan penerima beasiswa justru menjadi ruang bagi Clarissa untuk bertemu dengan pelajar lain yang memiliki minat dan ambisi di berbagai bidang.
“Menurut saya, Beasiswa Garuda tidak hanya membantu saya secara finansial namun juga secara sosial. Lewat beasiswa ini, saya bisa ketemu teman-teman yang sangat ambisius, dan saya sangat senang berbicara dengan mereka tentang hal-hal yang sedang terjadi di Indonesia maupun dunia global,” tuturnya.
Menurut Clarissa, lingkungan tersebut membuat para penerima beasiswa dapat saling bertukar gagasan dan membantu satu sama lain. Pengalaman selama kuliah di Amerika Serikat juga membuatnya berkembang secara akademik maupun personal.
Selain mengikuti kegiatan perkuliahan, Clarissa terlibat dalam riset robotika dan mengikuti hackathon. Interaksi dengan lingkungan akademik di UC San Diego turut memperluas wawasannya mengenai perkembangan teknologi dan meningkatkan kepercayaan dirinya untuk mencoba berbagai hal baru.
Untuk tahun ke depan, Clarissa juga telah menyiapkan sejumlah target pengembangan diri. Salah satunya mengembangkan teknologi yang telah dibangunnya agar dapat memberikan manfaat lebih luas.
Bagi Clarissa, kesempatan mendapatkan pendidikan di luar negeri bukan sekadar pencapaian personal. Pengalaman tersebut juga menjadi ruang untuk belajar, membangun jejaring, serta memahami berbagai persoalan dari perspektif yang lebih luas.
Ia pun mengajak pelajar yang sedang mempersiapkan diri mendapatkan Beasiswa Garuda untuk tidak hanya berorientasi pada hasil akhir. “Bagi sebagian orang, kesempatan untuk mengenyam pendidikan mungkin terasa seperti hal yang biasa. Namun, kita perlu ingat bahwa masih banyak saudara kita yang bahkan belum sempat memikirkan hal ini, karena mereka masih harus berjuang dari nol untuk sampai ke titik yang sama,” ujar Clarissa.
Ia mengingatkan pelajar untuk tetap bersyukur terhadap kesempatan yang dimiliki. Sekaligus menjadikan setiap proses, termasuk kegagalan, sebagai bagian dari perjalanan.
“Jangan lupa untuk terus menjadi pribadi yang introspektif dan peduli sekitar. Semangat untuk teman-teman yang sedang berjuang meraih Beasiswa Garuda! Ingat, dunia sangatlah besar, banyak sekali yang bisa dipelajari,” pesannya.