Pelatihan guru yang digelar Ikatan Guru Indonesia (IGI), dokumentasi IGI.
Pelatihan guru yang digelar Ikatan Guru Indonesia (IGI), dokumentasi IGI.

Literasi Matematika Rendah, Pelatihan Guru Perlu Dievaluasi

Pendidikan Darurat Matematika
Intan Yunelia • 14 November 2018 12:51
Jakarta: Ikatan Guru Indonesia (IGI) mengkritisi pola dan metode pelatihan guru yang selama ini diterapkan pemerintah. Metode pelatihan yang salah, menjadi salah satu pemicu rendahnya kompetensi dan literasi siswa, terutama di bidang matematika dan sains.
 
Ketua umum Pengurus pusat Ikatan Guru Indonesia, Muhammad Ramli Rahim mengatakan literasi siswa rendah akibat sistem pelatihan guru yang salah. Pemerintah saat ini masih menggunakan standar pelatihan guru yang sama, meski selama bertahun-tahun terjadi stagnasi pada kompetensi matematika dan sains.
 
"Pemerintah marah kalau pendidikan disebut gagal, lalu mengapa pemerintah tetap menempuh cara yang sama terus menerus untuk meningkatkan kompetensi siswa,"kata Ketua Umum Pengurus Pusat IGI, Muhammad Ramli Rahim di Jakarta, Rabu, 14 November 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca:Keliru Metode Belajar, Matematika Sukses Jadi Momok
 
Untuk diketahui, berdasarkan data Kemendikbud, 77,13% siswa memiliki kompetensi kurang di bidang matematika, 46,83% kompetensi membaca kurang, dan 73,61% kompetensi sains kurang. "Kalau datanya begini terus, jangan-jangan malah standar (pelatihan guru) yang dibuat pemerintah itu yang salah," kata Ramli.
 
Ia menceritakan, dalam sejumlah kesempatan, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud) kerap mengatakan pelatihan guru yang digelar IGI tidak memenuhi standar. "Biarlah tak memenuhi standar pemerintah, yang penting ruang-ruang kelas berubah menjadi lebih baik dan prestasi siswa bisa lebih meningkat, toh kami tak berharap bantuan APBD dan APBN," sindir Ramli.
 
Baca:Indonesia Gawat Darurat Matematika
 
Sejumlah hasil penelitian yang kredibel tingkat nasional maupun internasional mengungkapkan, Indonesia mengalami gawat darurat matematika. Kondisi gawat darurat bermatematika ini terjadi di semua jenjang, mulai pendidikan SD hingga SMA sederajat.
 
Penelitian terbaru di 2018, RISE (Research on Improvement of System Education) merilis hasil studinya. Data RISE menunjukan, kemampuan siswa memecahkan soal matematika sederhana tidak berbeda secara signifikan, antara siswa baru masuk SD dan yang sudah tamat SMA.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi