Ilustrasi Medcom.id/ Mohammad Rizal
Ilustrasi Medcom.id/ Mohammad Rizal

Legislator Minta Kewajiban Menerbitkan Jurnal Internasional Dihapus

Pendidikan Pendidikan Tinggi Publikasi Ilmiah
Ilham Pratama Putra • 30 Januari 2020 19:50
Jakarta:  Anggota Komisi X DPR dari fraksi Partai Gerindra, Djohar Arifin Husin mengusulkan kepada Mendikbud, Nadiem Makarim agar kewajiban dosen menerbitkan karya ilmiah di jurnal internasional sebagai syarat kenaikan dan mempertahankan jabatan fungsional dihapuskan.  Djohar menilai kewajiban itu minim manfaat, bahkan dalam praktiknya hanya menyulitkan dosen.
 
"Ada yang sampai menggadaikan sepeda motornya. Ada yang mobil. Macam-macam penderitaan dosen-dosen karena harus menulis (karya ilmiah yang diterbitkan di jurnal internasional). Ini hendaknya dihapuslah," kata Djohar dalam rapat kerja Komisi X dengan Kemendikbud di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa 28 Januari 2020.
 
Djohar bahkan menilai, kewajiban publikasi karya ilmiah di jurnal internasional untuk kenaikan jabatan fungsional terasa mengada-ada.  Sebab kebijakan tersebut justru lebih banyak merugikan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kerugian yang pertama, hasil penelitian tadi nanti kita serahkan kepada orang di luar negeri. Kedua kita juga bayar kan? Seluruh dosen harus membayar untuk membuat tulisan di luar negeri," ungkap dia.
 
Untuk diketahui, kewajiban menerbitkan karya ilmiah di jurnal internasional bagi pejabat fungsional dosen, peneliti, dan jabatan fungsional lainnya diterapkan di era Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir.
 
"Terutama sebagai persyaratan kenaikan dan mempertahankan jenjang jabatan, serta mahasiswa sebagai persyaratan kelulusan," kata Nasir dalam sambutannya di Acara Pemberian penghargaan kepada pemenang SINTA Award 2019, di JCC, Jakarta, Kamis, 12 September 2019.
 
Kebijakan tersebut diterapkan karena selama bertahun-tahun peringkat publikasi ilmiah Indonesia sangat rendah.  Jangankan di dunia, Indonesia kala itu bahkan kesulitan menyalip empat negara tetangganya di kawasan Asia Tenggara.
 
Sejak diterapkannya kewajiban publikasi ilmiah itu terbukti, capaian publikasi ilmiah Indonesia terutama yang terbit di jurnal terindeks internasional seperti Scopus mengalami kemajuan pesat. 
Terhitung per 9 September 2019, jumlah publikasi ilmiah Indonesia yang dihasilkan di 2018 dan sudah terbit di jurnal terindeks Scopus mencapai 34.007 publikasi.
 
Angka ini untuk pertama kalinya menduduki posisi pertama di Asia Tenggara, diikuti oleh Malaysia sebanyak 33.286 publikasi.  Jenis karya ilmiah sebagai syarat utama menduduki jenjang jabatan akademik tertentu dapat berbeda satu dengan yang lainnya.  
 
Jurnal internasional adalah jurnal yang memenuhi kriteria sebagai berikut:  
 
1. Karya ilmiah yang diterbitkan ditulis dengan memenuhi kaidah ilmiah dan etika keilmuan 
 
2. Memiliki ISSN
 
3. Ditulis dengan menggunakan bahasa resmi PBB (Inggris, Perancis, Arab, Rusia, dan Cina)
 
4. Memiliki terbitan versi online
 
5. Dikelola secara profesional
 
6.  Editorial Board (Dewan Redaksi) adalah pakar di bidangnya dan biasanya berasal dari berbagai negara.
 
7. Artikel ilmiah yang diterbitkan dalam satu issue berasal dari penulis berbagai negara
 
8. Memuat karya ilmiah dari penulis yang berasal dari berbagai negara dalam setiap penerbitannya
 
9. Terindeks oleh database internasional bereputasi seperti Scopus dan Web of Science, Microsoft Academic Search dan/atau laman sesuai dengan pertimbangan tim pakar Ditjen Dikti.

 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif