Prof Dr Titin Andri Wihastuti SKp MKes, salah satu guru besar yang baru dikukuhkan di Universitas Brawijaya. UB/Humas.
Prof Dr Titin Andri Wihastuti SKp MKes, salah satu guru besar yang baru dikukuhkan di Universitas Brawijaya. UB/Humas.

UB Kukuhkan Dua Guru Besar Baru

Pendidikan Guru Besar
Daviq Umar Al Faruq • 24 Juli 2019 17:16
Malang: Universitas Brawijaya (UB) kembali mengukuhkan dua guru besar baru di Gedung Widyaloka kampus UB, Rabu 24 Juli 2019.  Kedua guru besar tersebut adalah Prof Dr Ir Maftuch MSi dan Prof Dr Titin Andri Wihastuti SKp MKes.
 
Maftuch didapuk sebagai guru besar Bidang Imunologi dan Kesehatan Ikan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK). Dia menjadi Guru Besar ke-17 di FPIK, dan ke-241 di UB.  Sementara itu, Titin dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Keperawatan pada Fakultas Kedokteran (FK). Dia merupakan Guru Besar ke-31 di FK, dan ke-242 di UB.
 
Maftuch menjadi guru besar lewat penelitiannya yang berjudul "Peran Imunologi dalam Pengembangan Kesehatan Hewan Akuakultur".  Dia menjelaskan akuakultur dibangun dan dikembangkan untuk meningkatkan produksi perikanan, memenuhi kebutuhan pangan umat manusia, dan menurunkan produksi perikanan tangkap agar tidak terjadi penangkapan ikan berlebihan. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun demikian banyak kendala yang dihadapi akuakultur. Tidak sedikit ditemukan kegagalan panen akibat serangan penyakit virus, bakteri, parasit dan jamur.
 
Baca:  Indonesia Krisis Guru Besar Usia Muda
 
Penyakit infeksi di perairan muncul dengan mudah akibat adanya interaksi tiga komponen, yaitu lingkungan, kondisi hewan, dan patogen yaitu penyebab terjadinya suatu penyakit dalam hewan perairan.  Pendekatan diagnostik berbasis imunologi sudah banyak dikembangkan, hewan akuakultur akan menanggapi benda asing atau bukan asing secara imunologis.
 
Salah satunya dengan ekspresi beberapa molekul dan sel yang bisa dideteksi dengan satu peralatan imunologi yang sudah sangat baku dan standar.  "Namun hal tersebut belum cukup, maka saya mengusulkan beberapa alat atau instrumentasi untuk mendeteksi dini lingkungan akuakultur," papar pria kelahiran Lamongan, 25 Agustus ini.
 
Sedangkan, Titin menjadi guru besar lewat penelitiannya yang berjudul 'Perspektif Ilmu Biomedik untuk Pengembangan dan Inovasi Keperawatan di Masa Depan'.
 
Baca:  Politisi Demokrat Dikukuhkan Jadi Guru Besar Unnes
 
Dia menjelaskan, perkembangan ilmu dan teknologi termasuk ilmu biomedik yang sangat pesat, memberikan dampak positif terhadap bidang ilmu kesehatan. termasuk keperawatan.  Perawat sebagai bagian integral dari tim kesehatan dapat memanfaatkan berbagai perkembangan keilmuan untuk meningkatkan kontribusinya dalam memberikan tindakan keperawatan baik berupa upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif kepada klien.
 
Salah satu tantangan terbesar dalam dunia keperawatan saat ini adalah bagaimana mengelaborasikan berbagai disiplin ilmu dasar seperti biologi, fisiologi, kimia, kebijakan kesehatan, ekonomi, teknik, pendidikan, komunikasi, dan ilmu sosial ke dalam penelitian, teori, dan praktik klinis keperawatan. 
 
Teknik perawatan kesehatan dapat dikembangkan melalui penelitian biomedik sehingga didapatkan hasil suatu instrumen, prosedur dan teknik perawatan baru yang lebih efektif dan efisien.
 
"Elaborasi ilmu biomedik dan keperawatan telah menggerakkan saya untuk melakukan beberapa penelitian biomedik dalam keperawatan. Penelitian multidisiplin ilmu yang telah saya lakukan berfokus pada keperawatan kardiovaskuler dalam kajian patofisiologi/patomekanisme dan terapi keperawatan, khususnya kulit manggis," kata Titin.
 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif