Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Nunuk Suryani bahkan mengaku menggunakan ChatGPT untuk membantunya menyiapkan pidato. Pengakuan itu disampaikan Nunuk saat berbicara mengenai tantangan guru menghadapi pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan.
“Saya ini juga pelaku. Jadi kalau misalnya ingin mau membuat pidato sekarang ini, saya bertanyanya kepada ChatGPT: ‘Tolong buatkan pidato yang baik yang akan diberikan di sambutan, kata Nunuk di Jakarta, Rabu 23 September 2026.
Nunuk membandingkan proses tersebut dengan ketika seseorang menyusun pidato secara manual. Menurutnya, membuat sambutan sendiri dapat membutuhkan waktu berjam-jam, sedangkan AI mampu menghasilkan draf dalam waktu sangat singkat.
“Kalau kita buat sambutan sendiri, itu perlu waktu berjam-jam. Kalau asisten pribadi (aspri) saya untuk membuat, itu perlu kata-kata yang saya koreksi berkali-kali,” katanya.
Baca Juga :
Universitas Al-Azhar Kairo Bakal Buka 4 Fakultas Baru, Artificial Intelligence hingga Kedokteran
Ia menyebut ChatGPT dapat menyajikan materi dalam hitungan menit layaknya aspri sangat cerdas bagai robit. Namun, bukan berarti hasil yang diberikan AI langsung digunakan begitu saja dalam pidatonya.
Nunuk juga mengungkap dirinya harus menggunakan ChatGPT maupun Gemini versi berbayar dan cukup sering berinteraksi dengan keduanya untuk hasil pidato yang lebih baik. Menurutnya, interaksi yang berulang membuat AI dapat semakin memahami konteks pekerjaan dan pemikiran yang ingin disampaikan.
“Dan saya sering berinteraksi dengan dia, seolah-olah dia sebagai aspri saya, dan dia tahu pemikiran saya, diskusi saya, apa yang saya kerjakan, apa saja yang sedang saya buat,” ujarnya.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi contoh bagi Nunuk untuk menjelaskan posisi AI dalam dunia pendidikan. Menurut dia, pemanfaatan AI tidak perlu langsung dipandang sebagai sesuatu yang salah.
“Jadi apakah salah kita memanfaatkan? Tentu tidak,” tegasnya.
Ilustrasi Teknologi. Foto: Acer
Namun, Nunuk mengingatkan guru agar memahami batas antara menggunakan AI sebagai alat bantu dengan sekadar menyalin hasil yang diberikan chatbot. Hal ini menjadi tantangan baru ketika siswa menggunakan ChatGPT, Gemini, maupun platform AI lainnya untuk mengerjakan tugas sekolah.
“Bagaimana Bapak, Ibu guru harus tahu lebih dulu bahwa yang dibuat oleh anak-anak kita itu bukan hanya sekadar menyalin,” katanya.
Menurut Nunuk, perkembangan AI juga membuat guru perlu mempertimbangkan kembali cara memberikan dan menilai tugas siswa. Guru tidak cukup hanya melihat kalimat atau hasil akhir yang dikumpulkan peserta didik.
“Jadi apa yang Bapak, Ibu nilai sekarang? Apakah kalimat, apakah tugas yang diberikan, ataukah bagaimana kecerdasan substansi itu hadir karena kecerdasan membuat perintah?” ujarnya.
Ia menilai kemampuan menggunakan AI secara cerdas juga menjadi bagian dari kecakapan baru. Sebab, AI akan memberikan respons berdasarkan instruksi yang diberikan penggunanya.
“AI itu akan bisa memberi jawaban ketika kita bisa memerintahnya dengan cerdas,” kata Nunuk.
Meski demikian, ia menekankan penggunaan AI dalam pendidikan tetap perlu memperhatikan etika. Guru perlu memastikan teknologi tersebut membantu proses pembelajaran, bukan justru membuat peserta didik melewati proses belajar dan berpikir.
“Ini isu yang sangat penting dan sangat sensitif dan strategis,” ujar Nunuk.
Pemerintah sendiri telah memasukkan coding dan kecerdasan artifisial sebagai bagian dari pembelajaran pilihan di sekolah. Nunuk menyebut sekitar 60 ribu satuan pendidikan di Indonesia telah memberikan mata pelajaran pilihan coding dan AI.
Dengan semakin luasnya penggunaan AI, Nunuk menilai guru perlu terus meningkatkan kompetensinya. "Bukan untuk melarang teknologi, melainkan agar mampu memahami cara penggunaannya dan membimbing peserta didik memanfaatkan AI secara tepat," pungkas dia.
Baca Juga :