Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Penggunaan Internet Produktif Masih Minim, Literasi Digital Perlu Dikuatkan

Pendidikan kemampuan literasi Literasi Digital Literasi
Arga sumantri • 02 Agustus 2021 18:18
Jakarta: Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Noor Halimah Anjani menyebut penggunaan internet untuk aktivitas produktif masyarakat sudah semakin tidak terhindarkan, terlebih sejak pandemi covid-19. Namun, berbagai kendala seperti penguasaan literasi digital serta perluasan konektivitas, masih perlu diatasi. 
 
"Penggunaan internet untuk kegiatan produktif dapat memunculkan peluang ekonomi baru, serta mendukung pertumbuhan ekonomi digital, namun keterbatasan konektivitas dan kurangnya keterampilan digital dapat semakin memperburuk kesenjangan digital yang ada," kata Halimah melalui keterangan tertulis, Senin, 2 Agustus 2021.
 
Ia membeberkan, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan masih rendahnya penggunaan internet untuk aktivitas produktif. Sebanyak 92 persen penggunaan internet adalah untuk mengakses sosial media, 77 persen untuk mencari berita, 26 persen untuk kegiatan jual beli dan hanya 8 persen untuk layanan perbankan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut dia, rendahnya penggunaan internet untuk aktivitas produktif dipengaruhi oleh rendahnya literasi digital dalam memperluas kesempatan dan meningkatkan pendapatan. Wawancara CIPS dengan beberapa perempuan pelaku usaha menunjukkan bahwa internet sudah mulai dipergunakan untuk kegiatan usaha.
 
Baca: Ajang Kreativitas, Wisata Virtual Perpustakaan Hingga Dongeng Sejarah si Pitung
 
Namun, kebanyakan belum memahami bagaimana internet dapat meningkatkan penjualan secara signifikan. Banyak juga yang masih belum memiliki rasa percaya diri untuk memasarkan produknya. 
 
Padahal, kata dia, dalam situasi pembatasan kegiatan masyarakat seperti sekarang ini, kemampuan menggunakan internet dalam jual-beli akan sangat membantu dalam menjaga keberlangsungan usaha masyarakat.
 
Halimah membeberkan permasalahan lain ialah masih terbatasnya keterjangkauan infrastruktur konektivitas internet. Berdasarkan data dari Susenas tahun 2019, 5.972 dari total 83.820 desa di Indonesia, terdapat tidak memiliki sinyal telepon seluler sama sekali. Sedangkan, 19.771 desa masih memiliki sinyal yang lemah.
 
Data dari APJII pada awal 2020 lalu menunjukkan bahwa penetrasi internet sudah mencapai 73 persen. Sayangnya, hanya 56 persen dari total tersebut terkonsentrasi di pulau Jawa. Artinya, masih terdapat kesenjangan dalam akses internet bagi masyarakat di luar Pulau Jawa.
 
 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif