Aroma gurih dari santan yang kental seolah menjadi pemeran utama dalam setiap perayaan hari kemenangan. Namun, di balik kelezatan tersebut, sering kali muncul kekhawatiran mengenai kesehatan saat menyantap sisa hidangan yang dipanaskan berkali-kali.
Banyak orang percaya memanaskan masakan bersantan berulang dapat mengubah kandungan lemaknya menjadi kolesterol jahat. Anggapan ini sering kali membuat masyarakat merasa was-was saat ingin menghangatkan kembali menu favorit keluarga.
Padahal, secara ilmiah fenomena yang terjadi pada santan saat terkena panas berulang tidak sesederhana mitos yang beredar. Yuk bedah lebih dalam mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada nutrisi santan saat proses pemanasan berlangsung.
Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia, Agustino Zulys, menjelaskan pada dasarnya santan bukanlah bahan pangan yang berbahaya. Sebab, santan murni mengandung sekitar 20 hingga 30 persen lemak yang memberikan rasa gurih alami.
"Ada satu hal yang sering salah dipahami. Lemak santan tidak berubah dari lemak baik menjadi lemak jenuh hanya karena dipanaskan," tegas Zulys dikutip dari unggahan Instagram @prof.zulys, Senin, 23 Maret 2026.
Pemanasan masakan bersantan berulang dalam durasi yang lama dapat memicu terjadinya oksidasi pada kandungan lemak tak jenuh di dalamnya. Proses kimiawi ini menyebabkan pembentukan peroksida yang kemudian terurai menjadi berbagai produk sekunder, seperti senyawa aldehid, keton, dan alkohol.
Kehadiran senyawa-senyawa tersebut secara langsung menurunkan kualitas masakan, yang ditandai dengan munculnya aroma tengik serta perubahan rasa yang tidak lagi segar. Selain merusak cita rasa dan aroma, proses oksidasi ini juga berdampak signifikan terhadap nilai kesehatan hidangan tersebut.
Perubahan kimia yang terjadi selama pemanasan berlebih berisiko menghasilkan radikal bebas yang dapat merugikan tubuh jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Oleh karena itu, penurunan kualitas lemak ini menjadi alasan utama mengapa masakan bersantan sebaiknya tidak dipanaskan berkali-kali, demi menjaga keamanan pangan dan kesehatan tubuh.
Zulys menekankan masalah utamanya bukan pada perubahan santan menjadi jahat, melainkan pada penurunan kualitas lemaknya. Oleh karena itu, masakan bersantan tetap boleh dipanaskan kembali dengan catatan tertentu.
Masyarakat disarankan memanaskan masakan dengan suhu moderat atau tidak terlalu panas dan durasi yang tidak terlalu lama. Batas maksimal pemanasan yang dianjurkan adalah tiga kali. Hindari memanaskan makanan secara terus-menerus hingga mendidih dalam waktu lama agar kualitas nutrisi tetap terjaga dan terhindar dari senyawa berbahaya. (Talitha Islamey)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News