Melansir visualcapitalist.com penurunan tersebut menempatkan Indonesia di antara 30 negara dengan penurunan kebebasan akademik paling signifikan di dunia. Dalam daftar itu, Indonesia berada di bawah Venezuela yang mencatat penurunan 57 persen dan di atas Comoros dengan penurunan 53 persen.
Negara yang mengalami penurunan paling tajam adalah Nikaragua dengan 95 persen, disusul Myanmar sebesar 94 persen dan Afghanistan 83 persen. Ketiga negara tersebut mengalami gejolak politik yang berdampak besar terhadap dunia pendidikan tinggi dan kebebasan sivitas akademika.
| Baca juga: Inovasi dalam Penelitian Harus Bisa Dieksekusi, Bukan Sekadar Menarik di Atas Kertas |
Apa Itu Kebebasan Akademik?
Academic freedom atau kebebasan akademik adalah sebuah ukuran sejauh mana perguruan tinggi dan sivitas akademika dapat melakukan penelitian, mengajar, mempublikasikan hasil riset, serta bertukar gagasan tanpa campur tangan politik atau tekanan dari negara. Indikator ini tidak mengukur kualitas universitas maupun peringkat perguruan tinggi, melainkan ruang independensi akademik dalam menjalankan fungsi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.Artinya, penurunan 56 persen yang dialami Indonesia menunjukkan adanya penurunan skor kebebasan akademik dibandingkan satu dekade sebelumnya. Angka tersebut tidak serta-merta berarti Indonesia menjadi negara dengan kebebasan akademik terburuk, tetapi menunjukkan bahwa penurunannya termasuk yang paling besar selama periode pengamatan.
V-Dem menjelaskan bahwa Academic Freedom Index disusun berdasarkan sejumlah indikator, antara lain kebebasan melakukan riset dan mengajar, kebebasan bertukar serta menyebarluaskan pengetahuan akademik, otonomi kelembagaan perguruan tinggi, integritas kampus. Teramsuk kebebasan berekspresi akademisi dan budaya kampus.
Laporan tersebut juga menyoroti bahwa penurunan kebebasan akademik tidak hanya terjadi di negara berkembang. Amerika Serikat turut masuk dalam daftar dengan penurunan 57 persen selama 2015-2025.
| Baca juga: Alasan Sah Buat Ngopi Tiap Hari: Studi Ungkap 2 Cangkir Kopi Bikin Risiko Demensia Menurun! |
Menurut Visual Capitalist, berbagai pembatasan pendanaan federal, meningkatnya pengawasan terhadap universitas, serta kebijakan yang memengaruhi mahasiswa dan peneliti internasional menjadi faktor yang menambah tekanan terhadap dunia akademik di negara tersebut. V-Dem menilai kebebasan akademik memiliki dampak yang jauh melampaui lingkungan kampus.
Universitas berperan menghasilkan riset, inovasi, tenaga kerja terampil, dan kolaborasi ilmiah lintas negara. Ketika ruang akademik menyempit akibat tekanan politik, hal itu dapat memengaruhi topik penelitian yang dikaji, keberanian mempublikasikan temuan ilmiah, hingga kerja sama internasional antarakademisi.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda