Guru. DOK Kemenag
Guru. DOK Kemenag

Prabowo Minta Sekolah Ajarkan Bahasa Prancis, P2G: Dari Mana Gurunya?

Renatha Swasty • 29 Mei 2026 19:04
Ringkasnya gini..
  • Indonesia kekurangan guru ASN di sekolah negeri sebanyak 374 ribu.
  • Dengan asumsi satu sekolah ada dua guru Prancis dan Portugis, dibutuhkan 480 ribu guru bahasa asing tersebut.
  • Yang akan terjadi di sekolah nanti adalah guru mata pelajaran lain yang akan mengajar pelajaran bahasa Prancis dan Portugis.
Jakarta: Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) mengkritik wacana Presiden Prabowo Subianto yang meminta sekolah mengajarkan bahasa Prancis kepada murid. P2G menilai hal ini akan membuat kekurangan guru nasional semakin bertambah. 
 
Sebelumnya, Prabowo juga menginstruksikan agar bahasa Portugis diajarkan di sekolah. Koordinator Nasional P2G, Satriwan Salim, menyebut saat ini, Indonesia kekurangan guru ASN di sekolah negeri sebanyak 374 ribu. 
 
Dengan asumsi satu sekolah ada dua guru Prancis dan Portugis, dari total sekitar 240 ribu sekolah SD-SMA/sederajat, maka dibutuhkan 480 ribu guru bahasa asing tersebut. 

"Dan kebutuhan 480 ribu guru tidak akan bisa terpenuhi oleh pemerintah, apalagi sudah 6 tahun pemerintah tak lagi merekrut guru PNS. Alhasil tak ada guru profesional yang akan mengajar pelajaran tersebut," ujar Satriwan dalam keterangan tertulis, Jumat, 29 Mei 2026. 
 
Satriwan sangsi pemerintah dapat merekrut 480 ribu guru baru bahasa Portugis dan Prancis, sebab untuk memenuhi kebutuhan dasar 374 ribu guru saja, pemerintah belum bisa merealisasikannya. Sementara itu, UU ASN sudah melarang pemda dan sekolah merekrut guru honorer.
  "Yang akan terjadi di sekolah nanti adalah guru mata pelajaran lain yang akan mengajar pelajaran bahasa Prancis dan Portugis. Ini jelas menyalahi prinsip profesionalitas dan beban baru bagi guru," tegas dia.
 
Dia menuturkan mata pelajaran bahasa Prancis dan bahasa asing lainnya yaitu bahasa Arab, Korea, Mandarin, Jerman, dan Jepang sudah menjadi mata pelajaran pilihan bagi murid yang berminat. Selain itu, sudah masuk dalam struktur kurikulum nasional sejak Kurikulum 2006 hingga Kurikulum Merdeka.
 
"Bahasa Asing Non-Bahasa Inggris sudah termaktub eksplisit dalam struktur kurikulum nasional jenjang SMA/MA/SMK berdasarkan Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025 tentang Kurikulum Pada Jenjang PAUD Dikdasmen," ujar Satriwan.
 
Bahkan, mata pelajaran Bahasa Asing Non-Bahasa Inggris sudah masuk dalam mata pelajaran bagi murid jenjang SMK jurusan perhotelan dan pariwisata. Hal ini sebagai program keahlian untuk mendukung keterampilan (skill) mereka dalam menghadapi dunia kerja, mengingat SMK disiapkan untuk bekerja.
 
Pada Mei 2026, Kemdikdasmen berencana meluncurkan Program Sertifikasi Bahasa Asing Non-Bahasa Inggris yang mencakup Bahasa Arab, Mandarin, Jepang, Korea, Jerman, dan Prancis. Skema ini telah dibuka dan menjangkau lebih dari 120 SMK dengan sasaran 13 ribu siswa.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA