Dalam pidato pengukuhan sebagai guru besar, Rozaki menyoroti bagaimana media sosial mengubah cara masyarakat memandang agama dan etnisitas. Algoritma, menurutnya, tidak hanya menyajikan informasi, tetapi juga memperkuat keyakinan yang sudah ada.
Akibatnya, ruang publik berubah menjadi ruang gema, tempat di mana perbedaan tidak lagi dipertemukan, melainkan dipertajam.
“Kita menghadapi populisme identitas yang diperkuat oleh teknologi digital,” ujar Rozaki pada Rabu, 8 April 2026.
Rozaki melihat gejala ini berbahaya ketika identitas dijadikan alat mobilisasi politik. Agama dan etnisitas, yang seharusnya menjadi perekat sosial, justru berpotensi memecah belah.
Ia juga menyinggung fenomena bergesernya otoritas pengetahuan. Di era digital, suara influencer kerap lebih didengar dibandingkan dengan akademisi.
Situasi ini membuat ruang publik rentan terhadap disinformasi dan penyederhanaan isu-isu kompleks.
Namun, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Suka itu tidak berhenti pada kekhawatiran. Ia mendorong penguatan literasi digital dan kesadaran kewargaan sebagai jalan keluar.
Di tengah derasnya arus informasi, ia mengingatkan satu hal sederhana: identitas seharusnya menjadi jembatan, bukan tembok.
Dikutip dari laman uin-suka.ac.id, UIN Sunan Kalijaga mengukuhkan enam guru besar melalui Sidang Senat Terbuka di Gedung Multipurpose, Rabu, 8 April 2026. Mereka yang dikukuhkan sebagai guru besar adalah:
- Prof. Dr. Suwadi dan Prof. Dr. Zainal Arifin dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan dalam bidang Evaluasi Pendidikan dan Kepemimpinan Pendidikan Islam
- Prof. Dr. Lindra Darnela dan Prof. Dr. Muhammad Nur dari Fakultas Syariah dan Hukum dalam bidang Hukum Internasional serta Politik dan Tata Negara Islam
- Prof. Dr. Abdur Rozaki dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi dalam bidang Ilmu Islam dan Etnisitas
- Prof. Dr. Muhammad Wakhid Musthofa dari Fakultas Sains dan Teknologi dalam bidang Matematika Terapan
Noorhaidi menekankan guru besar memiliki kewajiban menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara optimal, termasuk menghasilkan publikasi ilmiah, menulis buku, serta aktif menyebarkan gagasan di ruang-ruang akademik. Guru besar juga diharapkan mampu menjadi motor pengembangan keilmuan sesuai bidang yang disandangnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News