Keputusan Iran menutup selat Hormuz bukan tanpa dampak. Seperlima dari seluruh pasokan minyak dunia melewati jalur ini, sehingga penutupan aksesnya langsung memicu guncangan besar pada pasar energi global dan membuat harga minyak melonjak tajam melampaui angka 100 dolar per barel.
Namun di balik penutupan selat tersebut, Teheran ternyata tidak menutup pintu sepenuhnya. Iran diam-diam memberikan izin kepada sejumlah kapal dari negara-negara tertentu untuk tetap melintas, sementara kapal-kapal milik AS dan sekutunya dilarang keras masuk ke perairan tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengakui hal ini secara terbuka. Dia menyebut Teheran telah didekati oleh sejumlah negara yang memohon jalur aman bagi kapal-kapal mereka dan keputusan akhir diserahkan kepada pihak militer Iran.
Lantas, negara mana saja yang sudah mendapat izin dari Teheran dan negara mana yang masih berjuang di meja negosiasi? Berikut daftarnya yang dilansir dari laman aljazeera.com:
Daftar Negara yang Diizinkan Iran Melewati Selat Hormuz
Sebelum perang pecah pada 28 Februari 2026, harga minyak mentah Brent berada di kisaran 65 dolar per barel. Begitu Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada 2 Maret, harga minyak tersebut langsung naik jauh melampaui 100 dolar per barel.Pada Senin, harga minyak Brent tercatat naik 2,5 persen menjadi 105,70 dolar per barel atau lebih dari 40 persen lebih tinggi dibandingkan dengan sebelum perang dimulai. Angka ini mencerminkan betapa besarnya ketergantungan dunia pada jalur sempit yang kini dikuasai penuh oleh Iran.
Penasihat senior panglima tertinggi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Ebrahim Jabari, sempat mengancam setiap kapal yang nekat menyeberangi selat tanpa izin akan dibakar oleh angkatan laut dan IRGC. Ancaman itu bukan sekadar ancaman dan dunia pun tahu itu.
Berikut daftar negara yang diizinkan Iran untuk melewati Selat Hormuz:
1. Pakistan
Pakistan menjadi salah satu negara pertama yang berhasil meloloskan kapalnya melewati Selat Hormuz. Sebuah kapal tanker berjenis Aframax berbendera Pakistan bernama Karachi dilaporkan berhasil berlayar keluar dari Teluk melalui selat tersebut pada hari Minggu. Keberhasilan ini menjadi sinyal awal bahwa Iran memang membuka celah bagi negara-negara tertentu yang dianggap bukan bagian dari kubu musuh.2. India
India menjadi salah satu negara yang paling diuntungkan dari kebijakan pengecualian Iran ini. Duta Besar Iran untuk India, Mohammad Fathali, secara resmi mengonfirmas Teheran telah memberikan izin kepada beberapa kapal India untuk melintas, sebuah pengecualian yang disebut langka di tengah blokade yang sedang berlangsung.Pada hari Sabtu, dua kapal tanker India yang mengangkut gas petroleum cair berhasil melewati selat tersebut dengan selamat dan sedang dalam perjalanan menuju pelabuhan di India bagian barat.
3. Turki
Turki menghadapi situasi lebih rumit. Dari 15 kapal Turki yang dilaporkan tertahan di dekat perairan Iran, hanya satu yang berhasil mendapatkan izin melintas. Menteri Transportasi dan Infrastruktur Turki, Abdulkadir Uraloglu, menjelaskan izin diberikan khusus untuk kapal yang sebelumnya telah menggunakan pelabuhan Iran dan telah lulus pemeriksaan pihak berwenang Iran. Keempat belas kapal lainnya masih harus bersabar menunggu kepastian.4. China
China adalah negara yang paling banyak dirugikan oleh blokade ini. Tak tanggung-tanggung, 45 persen kebutuhan minyak China dipasok melalui Selat Hormuz. Maka wajar Beijing bergerak cepat dan aktif bernegosiasi dengan Teheran.Menurut laporan Reuters, China sedang dalam pembicaraan dengan Iran untuk mengizinkan kapal pengangkut minyak mentah dan gas alam cair Qatar melewati selat tersebut dengan aman. Meski memiliki hubungan yang selama ini bersahabat dengan Iran, China dilaporkan tidak senang dengan keputusan Teheran yang dinilai melumpuhkan jalur pasokan energinya dan terus mendesak Iran untuk membuka akses bagi kapal-kapalnya.
5. Prancis dan Italia
Dua negara besar Eropa ini tidak tinggal diam. Prancis dan Italia dilaporkan telah meminta pembicaraan resmi dengan Iran terkait kemungkinan izin bagi kapal-kapal mereka untuk melintas di Selat Hormuz.Hal ini dilaporkan oleh Financial Times yang mengutip pejabat-pejabat yang tidak disebutkan namanya. Langkah diplomatik ini menunjukkan bahwa dampak blokade Iran sudah terasa hingga ke jantung Eropa.
Nasib AS saat sekutu kompak menolak
Presiden AS, Donald Trump, mencoba membangun koalisi angkatan laut untuk mengamankan Selat Hormuz secara militer. Dalam unggahannya di platform Truth Social, Trump menyebut China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris untuk mengirimkan kapal perang ke wilayah tersebut.Namun seruan itu tidak disambut antusias. Sebaliknya, sejumlah negara kompak menolak.
Jerman dengan tegas menyatakan tidak akan berpartisipasi dalam operasi militer apa pun untuk menjaga Selat Hormuz selama perang masih berlangsung.
Yunani mengambil sikap yang sama, menolak segala bentuk keterlibatan militer di selat tersebut. Bahkan Inggris, yang selama ini dikenal sebagai sekutu paling setia AS, memilih berhati-hati. Perdana Menteri Keir Starmer menegaskan Inggris tidak akan terlibat dalam perang yang lebih luas.
Analis keamanan Timur Tengah, Rodger Shanahan, menilai penolakan ini bukan sesuatu yang mengejutkan. Menurutnya, sebagian besar sekutu AS memang sudah menentang perang ini sejak awal, sehingga mereka pun enggan memberikan dukungan lebih jauh.
Bagaimana dengan Indonesia?
Sebelumnya, beredar kabar yang menyatakan dua kapal milik Pertamina telah mendapat izin untuk melintasi Selat Hormuz. Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh Pjs Corporate Secretary PT Pertamina International Shipping (PIS), Vega Vita, yang menegaskan informasi itu tidak benar.Mengutip laman Metrotvnews.com, Vega Pita menjelaskan dua kapal, yakni PIS Paragon dan PIS Rinjani, telah berhasil keluar dari area Timur Tengah melalui Teluk Oman tanpa melewati Selat Hormuz.
Sementara itu, dua kapal lainnya yaitu VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro dilaporkan masih berada di Teluk Arab dan dalam pemantauan intensif. Vega menegaskan kedua kapal beserta seluruh kru dalam kondisi aman dan terus berkoordinasi agar dapat segera melanjutkan perjalanan dengan selamat. (Talitha Islamey)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News