Operasi tersebut dilaporkan menggunakan armada kapal kecil yang masing-masing mampu mengangkut dua hingga tiga ranjau laut.
Berdasarkan laporan CBS News, kekuatan ranjau laut Iran diperkirakan mencapai 2.000 hingga 6.000 unit. Meski jumlah pastinya belum terverifikasi, ranjau tersebut diketahui berasal dari produksi dalam negeri serta pasokan dari Rusia dan Tiongkok.
Ketegangan ini dipicu serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari yang menargetkan sejumlah objek vital di Iran. Operasi militer itu menyebabkan kerusakan infrastruktur yang signifikan serta menimbulkan korban sipil.
Teheran kemudian membalas dengan meluncurkan gelombang serangan ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di berbagai kawasan Timur Tengah.
| Baca juga: Prancis Kerahkan Kapal Perang ke Selat Hormuz, Apa Tujuannya? |
Awalnya, AS dan Israel mengeklaim serangan tersebut bertujuan melumpuhkan ancaman program nuklir Iran. Namun, belakangan kedua negara memperjelas bahwa operasi militer itu diarahkan untuk memicu perubahan kekuasaan (regime change) di Iran.
Konflik semakin memanas setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan gugur pada hari pertama operasi militer AS-Israel.
Situasi di Selat Hormuz kini menjadi perhatian dunia karena perannya yang strategis dalam distribusi minyak global. Potensi blokade melalui ranjau laut dikhawatirkan dapat memicu krisis energi dan meningkatkan ketidakpastian pasar global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News