“Keputusan ini dikeluarkan Pemerintah Jerman dalam hal ini oleh The Standing Conference of the Ministers of Education and Cultural Affairs atau KMK yang disampaikan langsung kepada KBRI Berlin,” kata Ardi dalam keterangan tertulis, Kamis, 16 Juni 2022.
Ardi memaparkan bukti telah diakuinya ijazah SMK dari Indonesia juga dapat dilihat di situs resmi Anabin, anabin.kmk.org. Basis data Anabin menampilkan daftar informasi seluruh institusi dan jenjang pendidikan yang telah dievaluasi di Jerman hingga kini oleh Central Office for Foreign Education (Zentralstelle für ausländisches Bildungswesen/ ZAB/ Kantor Pusat Pendidikan Asing).
Dengan basis data Anabin, calon peserta didik dapat mencari informasi mengenai apakah kualifikasi akademik yang dimiliki diakui di Jerman. Pihaknya memprediksi diakuinya ijazah SMK oleh pemerintah Jerman, jumlah mahasiswa Indonesia yang studi di Jerman akan mengalami peningkatan pesat di tahun-tahun mendatang.
Terlebih lagi saat ini Indonesia menghasilkan sekitar 1,5 juta lulusan SMK setiap tahun. Ardi menyebut sebelum keputusan ini terbit, ijazah sekolah menengah Tanah Air yang diakui oleh Pemerintah Jerman hanya ijazah Sekolah Menengah Atas (SMA) dan/atau Madrasah Aliyah (MA).
“Lulusan SMA/MA dari Indonesia yang ingin studi S1 di Jerman disyaratkan untuk mendaftar dan mengikuti program preparatory college atau studienkolleg (STK) selama dua semester di berbagai institusi pendidikan negeri atau swasta di Jerman,” tutur Ardi.
Adapun, syarat mengikuti program STK adalah ijazah SMA/MA dan sertifikat kompetensi bahasa Jerman minimal di level B2. Ardi menyebut ada juga institusi yang mensyaratkan B1 dan C1 namun jumlahnya tidak banyak.
“Jadi, umumnya level Bahasa Jerman B2 sudah memadai,” tutur Ardi.
Jenis program STK yang diambil bergantung pada program studi S1 yang menjadi pilihan calon mahasiswa. Misalnya, program teknik, sains, dan matematika, jenis program STK yang diambil adalah T.
Berbeda dengan program bisnis, ilmu sosial, dan ekonomi, program STK-nya ialah W. Program kedokteran, biologi, dan farmasi, mensyaratkan program STK dengan kode M.
Sementara itu, program humaniora, desain/seni, program STK-nya ialah G. Terakhir, program/jurusan bahasa, program STKnya adalah S.
Usai menempuh studienkolleg selama dua semester, peserta wajib mengikuti asesmen akhir yang disebut Feststellungsprüfung (FSP). Setelah lulus FSP, calon mahasiswa bisa mendaftar dan menempuh studi S1 di kampus tujuan. Ardi menyebut hingga saat ini hampir semua universitas negeri di Jerman menerapkan kebijakan no tuition fee kepada seluruh mahasiswa, termasuk mahasiswa internasional.
Sedikit berbeda dengan SMA/MA, calon mahasiswa yang akan mendaftar dengan ijazah SMK harus sudah menempuh studi di universitas di Indonesia selama satu tahun baru kemudian mendaftar program STK. Persyaratan ikut program STK tidak berlaku bila calon mahasiswa pemegang ijazah SMA dan SMK telah menempuh pendidikan program sarjana di Indonesia selama minimal empat semester atau dua tahun.
“Dengan kata lain, mereka langsung dapat mendaftar pada program sarjana yang menjadi tujuan studinya di Jerman,” ucap Ardi.
Ardi menyampaikan saat ini terdapat sekitar 8.000 pelajar Indonesia yang menempuh pendidikan di Jerman. Selain terkenal dengan biaya pendidikan yang murah, Jerman juga menawarkan keindahan alam dan berbagai fasilitas publik inklusif yang dapat diakses seluruh masyarakat.
Mahasiswa yang studi di Jerman juga mendapatkan kesempatan untuk kerja paruh waktu. Paling menarik, setelah menyelesaikan pendidikannya, mahasiswa diberikan kesempatan mencari kerja di Jerman.
“Harapannya, semakin banyak talenta muda Indonesia yang dapat menempuh pendidikan tinggi di Jerman dan kembali ke Tanah Air untuk membangun bangsa,” tutur Ardi.
Baca: 10 Jurusan SMK Paling Diminati, Prospek Karier Bergaji Menggiurkan
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News