Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Cerita Sulitnya Mahasiswa Teknik Tuntaskan Skripsi

Dilema Skripsi di Tengah Korona, Antara Idealisme dan Realita

Pendidikan Virus Korona Pendidikan Tinggi
Ilham Pratama Putra • 03 April 2020 17:51
Jakarta: Nadya Ulhaq pesimistis bisa menuntaskan masa studinya tahun ini di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Penelitian untuk skripsinya menemui banyak kendala akibat pandemi virus korona (covid-19).
 
Nadya tak bisa leluasa melakukan bimbingan hingga terjun langsung ke lapangan guna mengambil data. Begitu pula dengan pratik laboratorium, tak bisa terlaksana buat sementara waktu.
 
"Mau enggak mau diterima saja. Jadi semua pada down dan makin pesimis bisa lulus tahun ini. Kita harus ikutin keadaan. Ibarat kecepatan kita biasanya 10, sekarang cuma bisa lima," kata Nadya kepada Medcom.id, Jumat 3 April 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nadya mengaku, memulai skripsinya sejak akhir 2019. Batas waktu penyelesaian skripsi Nadia jatuh pada Juni 2020.
 
Baca:Korona, Kemendikbud Membolehkan Skripsi Tanpa Riset Lapangan
 
Nadya mengakui mendapat berbagai tawaran dari pihak kampus. Salah satunya, opsi untuk memperpanjang masa penelitian. Tapi, harus bayar uang kuliah tunggal (UKT) lagi.
 
"Memang sih boleh ngajuin keberatan biaya, cuma belum tentu disetujui. Sekarang semua tetap inginnya lulus tepat waktu," jelas Nadya.
 
Nadia mengaku sudah pesimistis bisa lulus tepat waktu. Sebab, bimbingan daring pun tak berjalan optimal lantaran dosen pembimbing tak selalu mudah dihubungi.
 
"Misal hari ini kita Whatsapp belum tentu hari ini kita dapat penjelasan. Harus dikontak berulang-ulang. Bagaimana bisa tepat waktu?," ungkapnya.
 
Pengambilan data di lapangan juga menemui kendala di tengah kebijakan pembatasan aktivitas selama pandemi. Sebagai mahasiswa teknik, data lapangan sangat vital.
 
Nadya mengaku ditawari kampus mengubah metode skripsi. Pihak kampus menyarankan mahasiswa melakukan penelitian berdasarkan data sekunder atau jurnal yang telah ada.
 
"Itu aku jadikan opsi terakhir untuk ganti judul dan data yang bakal dipakai. Beberapa teman sudah ganti judul, tapi sayang (skripsi) sudah separuh jalan," lanjut Nadya.
 
Baca juga:Skripsi di ITB, Penelitian Lapangan Diganti Studi Literatur
 
Nadya memilih menunggu kondisi darurat korona mereda. Dia masih ingin penelitiannya benar-benar tampak seperti skripsi pada umumnya. Sementara ini, ia memprioritaskan materi skripsi yang bisa dikerjakan dari rumah.
 
"Dosen ku juga bilang begitu, sabar dulu sampai kondisi yang lebih baik," ungkapnya.
 
Nadya mengharapkan adanya kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk meringankan masalah skripsi. Misalnya, tak membebankan UKT untuk mahasiswa yang melakukan perpanjangan penelitian skripsi.
 
"Ya syukur-syukur bisa kayak Ujian Nasional yang dihapuskan. Beban skripsi kan sebenarnya lebih-lebih dari UN yang banyak tetek-bengeknya dan harus ada turun lapangan," pungkasnya.
 

(AGA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif