Sehingga persiapan perlu dilakukan sejak dini, terutama pada tingkat kepemimpinan perguruan tinggi.
“Kami menyebutnya Education 6.0, bahwa pendidikan pada 2035 akan berbeda sekali. Oleh karena itu, kami harus mempersiapkan para rektor dan pimpinan perguruan tinggi lebih dini untuk menghadapi perubahan,” kata Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI), Budi Djatmiko, dalam APTISI Executive Rector Leadership Academy (AERLA) Angkatan I, Rabu, 21 Oktober 2026.
Budi menyebut perubahan juga terlihat pada konsep pengelolaan kampus, yakni perkembangan teknologi mendorong munculnya konsep kampus berbasis cloud. Dulu, berbasis padat tembok, sekarang sudah berbicara tentang kampus berbasis cloud.
Dia berharap melalui program ini, para pimpinan perguruan tinggi dapat bertukar gagasan, berbagi pengalaman, serta merancang pengembangan kurikulum yang sesuai dengan tantangan pendidikan ke depan.
Penguatan kompetensi tersebut tidak hanya ditujukan kepada rektor, tetapi juga diharapkan menjangkau dekan, ketua program studi, pengelola yayasan, dosen, hingga mahasiswa. Dalam jangka panjang, pendekatan serupa diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas pendidikan pada berbagai jenjang.
Program AERLA dirancang sebagai wadah untuk berbagi praktik baik, bertukar pengalaman, dan merumuskan solusi atas tantangan global pendidikan tinggi. Pimpinan PTS perlu memiliki visi kepemimpinan yang adaptif, transformatif, dan berorientasi pada dampak nyata.
Baca Juga :
APTISI: Jangan Latah Buka Perguruan Tinggi Asing
Tantangan yang dihadapi perguruan tinggi saat ini mencakup digitalisasi, penguatan riset, hingga komersialisasi inovasi. APTISI ingin mendorong terbentuknya kepemimpinan kampus yang inovatif dan mampu meningkatkan daya saing perguruan tinggi swasta Indonesia di tingkat global.
Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi, Khairul Munadi, menyampaikan kepemimpinan menjadi salah satu faktor penting dalam proses transformasi perguruan tinggi. Kolaborasi dengan APTISI dinilai dapat mempercepat peningkatan kompetensi pimpinan kampus, baik perguruan tinggi negeri (PTN) maupun PTS.
“Dalam konteks memajukan atau mentransformasi perguruan tinggi, salah satu kuncinya adalah leadership,” kata dia.
Dia menyebut kolaborasi antarlembaga memungkinkan pengembangan kompetensi pimpinan perguruan tinggi dilakukan dengan jangkauan lebih luas. Menurut dia, apabila upaya tersebut dilakukan terpisah, prosesnya akan membutuhkan waktu lebih lama mengingat jumlah pimpinan pendidikan tinggi yang perlu dijangkau.
Kemendiktisaintek turut mengapresiasi inisiatif APTISI karena sejalan dengan upaya kementerian mewujudkan Diktisaintek Berdampak. AERLA diharapkan menjadi gerakan transformasi kepemimpinan perguruan tinggi agar lebih visioner, relevan dengan perkembangan sains dan teknologi, serta mampu menjawab kebutuhan industri masa depan.
Melalui program ini, APTISI dan Kemendiktisaintek mendorong penguatan kepemimpinan sebagai fondasi transformasi pendidikan tinggi. Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan mutu tata kelola perguruan tinggi sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap pembangunan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. (Adinda Kinanthi)