Siswa SMK Muhammadiyah 2 Muntilan, Jawa Tengah, Muhammad Zidni, merupakan salah satu siswa yang diberangkatkan bekerja di luar negeri. Zidni akan bekerja di bidang pelayanan atau hospitality di Jerman.
Ia akan bertugas di sebuah rumah sakit di wilayah Sankt Wendel. Zidni mengaku sudah mempersiapkan diri.
"Pertama kemampuan bahasa, keemudian tentu mental, pengetahuan budaya dan budaya kerja," kata Zidni melalui sambungan zoom pada acara pelepasan 3 Ribu Lulusan SMK dan 600 Lulusan LKP Bekerja di Luar Negeri dan Peluncuran SMK 3+1, di Surabaya, Jawa Timur, Rabu, 20 Mei 2026.
Ia mengaku pengalaman kerja itu akan dijadikannya modal pengetahuan. Sehingga, saat pulang ke Indonesia dia bisa membuka lapangan kerja terkait pelayanan.
"Saya mau membuat panti asuhan untuk lansia," ujar dia.
| Baca juga: Auto Siap Kerja, Siswa SMK Bisa Latihan di 7 Ribu Tempat Praktik Milik Pemerintah |
Siswi SMK Galang Onsan Mandiri, Binjai, Sumatera Utara, Disqia Warohmah, akan berangkat ke Jepang. Ia mendapatkan pekerjaan sebagai care giver atau pendamping lansia.
Disqia juga mengaku akan membawa pengalamannya ke Indonesia. Kemudian, pengalaman kerja itu akan ditularkan sebagai ilmu kepada almamaternya.
Disqia juga berharap kesempatan kerja di Jepang ini dapat meningkatkan perekonomian keluarganya. Ia ingin keluarganya juga merasakan kehidupan di Jepang.
"Saya ada keinginan membawa keluarga tinggal di Jepang," sebut Disqia.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi meluncurkan program SMK 3+1 sebagai strategi baru menyiapkan lulusan sekolah vokasi lebih siap memasuki dunia kerja. Para lulusan bakal mendapat pendampingan khusus selama satu tahun setelah sekolah tiga tahun untuk dapat bekerja di dalam maupun luar negeri.
Peluncuran program ini juga ditandai dengan pelepasan 3 ribu lulusan SMK dan 600 lulusan lembaga kursus (LKP) untuk bekerja di berbagai negara. Mereka bakal bekerja di Arab Saudi, Jepang, Korea, Malaysia hingga sejumlah negara eropa.
| Baca juga: 10 Politeknik Terbaik di Indonesia Versi Webometrics 2026, Mana Incaran Kamu? |
Mendikdasmen Abdul Mu'ti mengatakan program SMK 3+1 menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat link and match pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri global. Dia mengakui keterserapan tenaga kerja masih menjadi pekerjaan rumah.
“Ini merupakan usaha kami untuk menyiapkan lulusan SMK dapat memasuki dunia kerja, baik di dalam maupun di luar negeri. Mereka bisa belajar dari SMK yang tiga tahun, kemudian menambah satu tahun untuk penyiapan masuk dunia kerja dengan kemitraan perusahaan dan juga kemitraan berbagai agensi,” ujar Mu’ti dalam Pelepasan 3 Ribu Lulusan SMK dan 600 Lulusan LKP Bekerja di Luar Negeri dan Peluncuran SMK 3+1, di Surabaya, Rabu, 20 Mei 2026.
Kemendikdasmen juga menggandeng Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) untuk memastikan keamanan dan perlindungan peserta program. Pemerintah juga mendampingi pengurusan paspor, visa, hingga dokumen keberangkatan lainnya agar peserta tidak mengalami hambatan administratif maupun finansial.
Saat ini, terdapat 115 SMK dari berbagai daerah di Indonesia yang terlibat dalam program nasional SMK 3+1. Jawa Timur menjadi provinsi yang memiliki lulusan SMK paling banyak untuk pengiriman tenaga kerja ke luar negeri.
Pada peluncuran program SMK 3+1 dan pelepasan perdana ini, sebanyak 3.000 lulusan SMK berasal dari 411 SMK di seluruh Indonesia. Sedangkan, 600 lulusan LKP berasal dari 60 LKP seluruh Indonesia.
| Baca juga: Program SMK 3+1 Diluncurkan, Kemendikdasmen Lepas 3.000 Lulusan SMK Kerja di Luar Negeri |
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News