“Data anomali itu sekitar 2.900 peserta,” kata Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ifan Iskandar di UNJ, Kamis 23 April 2026.
Data tersebut disusun berdasarkan adanya pola yang mencurigakan. Salah satunya terkait lokasi ujian yang tidak sesuai dengan lokasi tempat tinggal.
| Baca juga: Curang Pakai Ijazah dan KTP Palsu, Pemeriksaan Berlapis Unesa Gagalkan Aksi Joki UTBK |
“Misalnya dari Jakarta tapi memilih ujian di Papua atau daerah lain,” ujarnya.
Selain itu, ditemukan juga indikasi identitas ganda yang menjadi salah satu tanda potensi kecurangan UTBK 2026. “Ada yang menggunakan nama sama tapi wajah berbeda,” ucapnya.
Data ini digunakan panitia SNPMB sebagai alat deteksi awal kecurangan. Untuk itu, kampus diminta meningkatkan kewaspadaan. “Kampus harus lebih memperhatikan peserta dalam daftar ini,” jelasnya.
Adanya data anomali ini tidak langsung bermakna terjadi kecurangan. Namun bisa menjadi indikator penting yang mengarah pada kecurangan. “Ini untuk antisipasi, bukan langsung menuduh,” katanya.
| Baca juga: Sanksi Kecurangan UTBK 2026: Auto Blacklist di Semua Jalur Masuk PTN hingga Dipolisikan |
Panitia nasional berperan dalam penyusunan data. Berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya. “Data ini berbasis pengalaman kecurangan sebelumnya,” ujarnya.
UNJ menindaklanjuti dengan pengawasan ketat, terutama terhadap peserta mencurigakan. “Kami lakukan pemeriksaan lebih detail,” tuturnya.
Langkah ini diharapkan dapat mencegah terjadinya pelanggaran UTBK. Sebab integritas ujian tulis untuk masuk PTN ini menjadi prioritas dalam pelaksanaannya. “Kita ingin ujian berjalan jujur,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News