Mendikbudristek, Nadiem Makarim (kanan). Foto: BKHM
Mendikbudristek, Nadiem Makarim (kanan). Foto: BKHM

Nadiem Mengaku 'Merinding' Melihat Capaian Transformasi Digital Kemendikbudristek

Citra Larasati • 10 Agustus 2022 20:43
Jakarta:  Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) merancang dan meluncurkan Ekosistem Teknologi Pendidikan sebagai akselerator dari transformasi pendidikan nasional. Rancangan sejumlah platform dalam ekosistem tersebut mampu menjawab kebutuhan kondisi pendidikan nasional yang merujuk pada data krisis pembelajaran di Indonesia.
 
Dalam 20 tahun terakhir, Indonesia mengalami krisis pembelajaran.  Hasil tes PISA menunjukkan literasi, numerasi, dan sains peserta didik di Indonesia tidak ada peningkatan yang signifikan.  Di samping itu, 70 persen siswa usia 15 tahun berada di bawah kompetensi minimum untuk literasi dan numerasi.
 
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim mengaku terharu atas capaian transformasi digital Kemendikbudristek dalam menyediakan platform yang bermanfaat bagi ekosistem pendidikan di Indonesia. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saya melihatnya itu merinding, karena tiga tahun yang lalu kita mencanangkan ide untuk benar-benar mendigitalisasi aktivitas kita di Kemendikbud. Pada saat itu, saya sama sekali tidak mengetahui apakah hal sebesar ini bisa terjadi atau tidak, tapi kita berkomitmen. Ternyata hasilnya terlihat sekali," kata Nadiem di Jakarta, Rabu, 10 Agustus 2022.
 
Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi (Kapusdatin) M. Hasan Chabibie mengungkapkan, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) memegang peranan penting dalam melakukan transformasi pendidikan nasional. “Sesuai dengan arahan langsung dari Presiden Republik Indonesia Joko Widodo untuk dapat memanfaatkan teknologi dalam memecahkan masalah krisis pendidikan yang ada,” terang Hasan. 
 
Platform-platform yang sudah ada pada ekosistem teknologi pendidikan di Indonesia saat ini adalah Merdeka Mengajar, Rapor Pendidikan, ARKAS, SIPLah, Tanya BOS, Akun Belajar.id dan Kampus Merdeka. “Tiap-tiap platform ini kami buat agar seluruh pemangku kepentingan di dunia pendidikan di Indonesia dapat melakukan lompatan kemajuan secara bersama-sama,” jelas Hasan. 
 
Saat ini, Ekosistem Teknologi Pendidikan di Indonesia sudah menjangkau 364 ribu satuan pendidikan di 514 kabupaten/kota dari total 435 ribu sekolah dasar, menengah, kejuruan, dan PAUD, 2,7 juta lebih guru dari 3,7 juta guru, 724 ribu mahasiswa, 2.655 perguruan tinggi dan vokasi dari total 3.115 seluruh Indonesia.  Kemudian 2.700 lebih mitra industri, 84 ribu lebih penyedia barang dan jasa, serta 35 juta total peserta didik (data per Agustus 2022). 
 
Kemendikburistek bekerja sama dengan GovTech Edu yang merupakan mitra strategis dalam menciptakan berbagai platform yang membantu guru, kepala sekolah, dinas pendidikan, mahasiswa, dan dosen untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih baik. 
 
Chief Technology Officer GovTech Edu, Ibrahim Arief mengatakan, Platform Merdeka Mengajar membantu guru dalam mengajar sesuai kemampuan murid, mengakses materi pelatihan mandiri kapan pun di mana pun.  Juga embantu guru menginspirasi rekan sejawat dan terkoneksi ke banyak komunitas guru di seluruh Indonesia.
 
Setelah enam bulan dirilis, aplikasi platform ini telah diunduh sebanyak 1,6 juta lebih pengguna, 312 ribu lebih guru telah mengunduh perangkat ajar, sebanyak 51 ribu lebih Bukti Karya telah dibagikan, lebih dari 1.000 komunitas guru di seluruh Indonesia, dan total 55 ribu lebih konten tersedia di dalam platform Merdeka Mengajar.  “Pencapaian tersebut tentunya bukanlah hasil akhir, karena platform ini akan terus dikembangkan secara berkelanjutan,” imbuh Ibrahim. 
 
Baca juga:  Kemendikbudristek Ungkap Tiga Peran Teknologi untuk Pendidikan di Tengah Pandemi

 
(CEU)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif