Ilustrasi Badai. Foto: Pexels
Ilustrasi Badai. Foto: Pexels

Bumi Dilanda Badai Geomagnetik G1, Ini yang Sebenarnya Terjadi

Ilham Pratama Putra • 07 Oktober 2026 19:00
Ringkasnya gini..
  • Bumi mengalami badai geomagnetik G1 dengan indeks Kp mencapai 5 pada 4 Oktober 2026.
  • Aktivitas geomagnetik terdeteksi di wilayah Indonesia bagian utara dan selatan ekuator.
  • Badai G1 merupakan level terendah dan diperkirakan berkaitan dengan angin Matahari berkecepatan tinggi.
Jakarta: Bumi dilanda badai geomagnetik skala G1 pada 4 Oktober 2026 lalu. Meski masuk kategori paling rendah atau badai lemah, fenomena ini tetap menunjukkan adanya gangguan pada medan magnet Bumi akibat aktivitas Matahari.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat indeks geomagnetik global atau Kp mencapai 5 pada 4 Oktober 2026 pukul 18.00–21.00 UTC. Aktivitas kemudian melemah pada 5 Oktober dengan indeks Kp di bawah 4.

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi ketika badai geomagnetik G1 melanda Bumi? Berikut penjelasannya:

Medan Magnet Bumi Mengalami Gangguan

Melansir unggahan instagram @infobmkg, Badai geomagnetik merupakan gangguan sementara pada medan magnet Bumi. Hal ini diakibatkan interaksi aktivitas Matahari dengan lingkungan antariksa di sekitar Bumi.
Medan magnet Bumi berperan sebagai pelindung dari lingkungan antariksa. Ketika terjadi peningkatan aktivitas matahari, kondisi medan magnet tersebut dapat ikut mengalami perubahan.

Muncul Badai Intensitas Lemah

Badai geomagnetik G1 merupakan kategori Minor Storm atau badai lemah. G1 merupakan tingkatan paling rendah dalam skala badai geomagnetik G1 hingga G5.

Secara umum, semakin tinggi tingkat badai geomagnetik, semakin besar pula potensi gangguan terhadap berbagai sistem yang bergantung pada kondisi lingkungan antariksa. Karena kejadian kali ini berada pada level G1, aktivitasnya tergolong lemah dan tidak menunjukkan kondisi badai geomagnetik ekstrem.
WhatsApp Image 2026-10-07 at 3_41_28 PM
Ilustrasi Badai. Foto: Pexels.


Aktivitas Badai di Ekuator Indonesia

BMKG mencatat aktivitas badai magnetik di wilayah Indonesia, baik di bagian utara maupun selatan ekuator. Di Indonesia bagian utara ekuator, aktivitas kemagnetan Bumi menunjukkan pola yang selaras dengan aktivitas yang tercatat pada observatorium geomagnetik di wilayah lintang tinggi.

Aktivitas serupa juga terdeteksi dengan jelas di Indonesia bagian selatan ekuator. Polanya menunjukkan keselarasan dengan peningkatan indeks badai pada observatorium geomagnetik lintang tinggi.

Matahari Turut Memicu Aktivitas Badai

Badai geomagnetik dapat dipicu oleh sejumlah aktivitas Matahari. Salah satunya aliran angin Matahari berkecepatan tinggi atau High-Speed Solar Wind (HSS).

Untuk kejadian G1 pada 4 Oktober 2026, badai kemungkinan berkaitan dengan interaksi HSS yang diperkirakan berasal dari coronal hole atau lubang korona. Coronal hole merupakan wilayah di atmosfer Matahari yang memiliki karakteristik medan magnet sehingga memungkinkan angin Matahari berkecepatan tinggi mengalir ke ruang antariksa.

Efek Badai G1 pada H+1

Badai geomagnetik G1 terdeteksi pada 4 Oktober 2026 pukul 18.00–21.00 UTC dengan indeks Kp mencapai 5. Sehari setelahnya, aktivitas tersebut mulai melemah dengan indeks Kp berada di bawah 4. Artinya, kondisi geomagnetik tidak terus berada pada level G1 setelah periode pengamatan tersebut. Lebih detil, berikut tingkatan badai geomagnetik:

Lima Tingkatan Badai Geomagnetik


Badai geomagnetik diklasifikasikan dalam lima tingkatan, mulai dari G1 hingga G5 sebagai berikut:
  • G1: Minor Storm atau badai lemah
  • G2: Moderate Storm atau badai sedang
  • G3: Major Storm atau badai kuat
  • G4: Severe Storm atau badai sangat kuat
  • G5: Extreme Storm atau badai ekstrem
Dalam unggahan instargram @infobmkg juga dijelaskan jika BMKG melakukan pemantauan aktivitas kemagnetan Bumi dengan melihat indeks K di wilayah Indonesia dan membandingkannya dengan indeks kemagnetan Bumi global atau Kp. Pemantauan ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan kondisi geomagnetik, termasuk ketika terjadi peningkatan aktivitas akibat pengaruh Matahari.

Badai geomagnetik G1 pada dasarnya merupakan fenomena dengan tingkat kekuatan rendah. Namun, pemantauan tetap diperlukan untuk mengetahui perubahan aktivitas Matahari dan kondisi medan magnet Bumi dari waktu ke waktu.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan