Sekitar 200 mahasiswa walk out ketika Pichai naik ke panggung. Sementara itu, kelompok-kelompok kecil di antara wisudawan melambaikan spanduk, meniup peluit, dan mengibarkan bendera Palestina sebelum turut meninggalkan acara di tengah-tengah pidato berlangsung.
Mahasiswa juga mengkritik hubungan perusahaan tersebut dengan Badan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE). Spanduk-spanduk yang dibawa mahasiswa memuat tulisan seperti "ICE SPIES WITH GOOGLE AI" dan "GENOCIDE RUNS ON GOOGLE," serta "FREE FREE PALESTINE,".
Para mahasiswa juga mengibarkan bendera Palestina dan berteriak "free Palestine," seperti yang terlihat dalam rekaman video daring dari acara tersebut.

Ratusan mahasiswa protes dengan mengibarkan bendera Palestina. DOK tangkapan layar Project Nimbus merupakan kontrak komputasi awan senilai USD1,2 miliar yang kontroversial pada tahun 2021. Kontrak ini dibagi bersama Amazon untuk menyediakan layanan komputasi awan dan kecerdasan buatan bagi militer Israel.
Pichai sendiri yang merupakan alumni Pascasarjana Universitas Stanford di bidang Ilmu dan Teknik Material, sama sekali tidak membicarakan soal AI dalam pidatonya.
Dia membagikan kisah mengenai kegagalan dan keberhasilannya di masa-masa awal kehidupannya, seperti berimigrasi ke California, memilih menghentikan program doktoralnya dan beralih ke gelar magister. Pichai juga membicarakan berbagai perjuangan yang ia hadapi ketika pertama kali bergabung dengan Google.
Dia juga berpesan kepada wisudawan untuk tidak pernah menyerah.
"Kamu masih punya ribuan momen yang menanti di depan. Yang terpenting bukanlah menjalani semuanya dengan sempurna, melainkan menemukan cara untuk terus melangkah maju," pesan Pichai.

Ratusan wisudawan Stanford melakukan walk out saat CEO Google and Alphabet, Sundar Picahi pidato. DOK tangkapan layar
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda