Ponsel. DOK Medcom
Ponsel. DOK Medcom

Mengenal Deepfake Audio, Suara AI yang Bisa Menipu Manusia

Renatha Swasty • 22 Januari 2026 09:03
Jakarta: Pernahkah Sobat Medcom mendapat telepon palsu yang suaranya menyerupai orang terdekat? Ternyata dengan kemajuan teknologi yang ada saat ini, hal tersebut bisa saja terjadi karena munculnya DeepFake Audio.
 
Apa itu DeepFake Audio? Dilansir dari akun Instagram @ditjensaintek, Deepfake audio adalah teknologi Artificial Intelligence (AI) yang bisa meniru suara seseorang, mulai dari intonasi, gaya bicara, hingga emosi. DeepFake Audio dapat membuat suara tersebut hanya dengan bermodal rekaman suara asli selama beberapa detik. 
 
Rekaman suara tersebut sering kali didapatkan dengan mudah dan diambil dari konten media sosial. Setelah itu, pelaku kejahatan bisa menciptakan kloning suara yang identik. Hasilnya hampir mustahil dibedakan oleh telinga manusia biasa, sehingga menjadi alat yang sangat berbahaya untuk melakukan manipulasi.

Deepfake Audio kini jadi ancaman serius karena bisa merusak kepercayaan antarmanusia. Teknologi ini sering digunakan untuk berbagai modus kejahatan, mulai dari penipuan permintaan transfer uang mendadak hingga penyebaran berita palsu.
 
Dalam banyak kasus nyata, korban biasanya menerima telepon dengan kalimat seperti, "Halo, ini aku. Tolong transfer sekarang, darurat!". Suara yang terdengar sangat mirip dengan orang terdekat sering kali memicu rasa panik. Hal tersebut tak jarang membuat korban hilang akal dan langsung menuruti permintaan pelaku tanpa berpikir panjang.
 
Untuk mengetahui informasi lengkap mengenai cara kerja, bahaya penggunaannya, dan cara menghindari DeepFake Audio. Yuk simak penjelasan di bawah ini.

Cara kerja DeepFake Audio

Melansir laman Poltekbang Palembang, DeepFake Audio memanfaatkan model AI canggih seperti Generative Adversarial Networks (GANs) atau jaringan saraf tiruan lainnya. Model AI ini menggunakan basis data rekaman suara yang luas. Sistem ini mampu mengenali pola serta karakteristik unik dari suara target. 
 
Teknologi ini mengandalkan sistem GANs yang terdiri dari dua komponen utama yaitu generator dan diskriminator. Generator bertugas memproduksi data tiruan, sementara diskriminator melakukan verifikasi untuk memisahkan antara data asli dan palsu.
 
Proses ini memungkinkan generator menghasilkan konten dengan tingkat realistis yang sangat tinggi. Di sisi lain, melalui metode kloning suara (voice cloning) AI akan mengolah data rekaman untuk meniru intonasi, nada, hingga aksen target ke dalam bentuk kalimat baru dengan akurat.
 
Kenapa DeepFake Audio Berbahaya?
 
Berikut beberapa ancaman yang dapat ditimbulkan oleh DeepFake Audio.

Ancaman Deepfake Audio

1. Penipuan transfer uang 

DeepFake Audio memiliki kemampuan memicu rasa panik. Hal tersebut merupakan ancaman paling berbahaya karena pelaku dapat menciptakan skenario darurat, seperti kecelakaan, atau masalah hukum. Pelaku akan menuntut korban mengirimkan uang. Suara yang didengar sangat mirip dengan aslinya tersebut akan membuat korban cenderung bertindak cepat tanpa berpikir panjang .

2. Mudah menyamar sebagai atasan atau keluarga 

Teknologi ini mampu merusak kepercayaan dalam lingkaran sosial dan profesional. Melalui teknologi ini, penipu bisa menyamar sebagai atasan ataupun keluarga.

3. Alat manipulasi dan pemerasan yang efektif 

DeepFake Audio dapat digunakan untuk memalsukan pernyataan seseorang. Rekaman suara buatan ini digunakan untuk memeras korban atau menghancurkan reputasi seseorang. Bukti suara dianggap sebagai bukti kuat karena itu banyak orang sulit membela diri dari fitnah AI.

4. Penyebaran berita palsu (Hoaks) yang meyakinkan 

Dengan adanya DeepFake Audio, pelaku bisa menyebarkan instruksi palsu atau pernyataan kontroversial. Hal ini sangat berbahaya karena dapat memicu kerusuhan atau kepanikan.

Cara agar terhindar dari DeepFake Audio

Agar terhindar dari serangan DeepFake Audio, berikut beberapa cara yang bisa Sobat Medcom lakukan.

1. Jangan langsung percaya pada suara 

Meskipun suara yang didengar sangat identik dengan orang yang dikenal, jangan jadikan itu sebagai satu-satunya bukti identitas. Teknologi AI saat ini sudah mampu meniru emosi untuk memancing empati.

2. Verifikasi lewat chat atau video call 

Apabila kamu menerima telepon darurat yang meminta uang atau data sensitif, segera tutup telepon tersebut. Kemudian, coba hubungi kembali orang yang bersangkutan melalui platform lain, misalnya mengirim pesan teks atau melakukan panggilan video (video call).

3. Gunakan pertanyaan pribadi 

Ajukan pertanyaan spesifik yang jawabannya hanya diketahui oleh kamu dan orang asli tersebut. Misalnya, tanyakan tentang nama panggilan kecil, kejadian unik yang dialami bersama, atau nama hewan peliharaan. Penipu biasanya tidak akan bisa menjawab informasi pribadi yang tidak tersedia di internet.

4. Jangan bagikan data dan OTP 

Data pribadi seperti alamat lengkap, nomor identitas, atau kode OTP (One-Time Password) merupakan hal yang penting untuk dijaga dan tidak boleh diketahui orang lain. Untuk menjaga keamanan kamu, jangan pernah berikan data pribadi maupun OTP kepada siapapun.                                  
Kemunculan DeepFake Audio merupakan pengingat bahwa di era digital saat ini, manusia bisa dengan mudah dibohongi. Oleh karena itu, masyarakat perlu mengingat teknologi kini makin canggih dan manusia harus makin waspada. Selain itu, jangan biarkan panik mengalahkan logika. 
 
Jadi, Sobat Medcom selalu jaga informasi pribadi dan jangan terpengaruh oleh tekanan yang terdengar meyakinkan di telepon yaa. (Talitha Islamey)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan