Dalam film tersebut, Dian Sastrowardoyo memainkan dua peran sekaligus, yakni sebagai manusia dan sebagai AI bernama I-BU. Untuk membedakan keduanya, ia harus menggunakan intonasi bicara yang berbeda.
Dian Sastrowardoyo menjelaskan bahwa suara AI yang muncul dalam film Esok Tanpa Ibu direkam secara manual oleh dirinya sendiri tanpa bantuan mesin.
“Suara Aibu... pengennya sih ada (pakai teknologi AI) ya, tapi enggak. Jadi akhirnya kita harus merekam pakai aku, aku harus berakting sebagai AI,” kata Dian Sastrowardoyo di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Senin, 19 Januari 2026.
Demi mendapatkan suara AI yang natural, Dian mengaku sering berinteraksi dengan asisten virtual di ponsel pribadinya.
“Waktu itu supaya bisa berintonasi seperti AI, aku jadi sering ngobrol sama AI yang ada di HP aku, supaya bisa hafal sama intonasinya dia (AI) kan,” ucapnya.
Menurut Dian, suara AI memiliki ciri khas tertentu, terutama pada pola intonasi yang cenderung konsisten dan seragam dalam setiap pengucapan.
“Ternyata ada satu ciri khas dari suaranya AI. Jadi, dia tuh kayak intonasinya harus seragam gitu lho. 'Apakah kamu mau bertanya lebih lanjut?' Ada belakangan tuh nanya lagi gitu,” jelas Dian sambil menirukan suara AI.
“Kedua, intonasinya yang 'Halo', dan walaupun dia udah natural banget tapi belakangan ada yang seragam terus,” lanjutnya.
Sutradara Ho Wi-ding menegaskan bahwa film Esok Tanpa Ibu sama sekali tidak menggunakan teknologi AI dalam proses produksinya, meski mengangkat tema tentang kecerdasan buatan.
“Tidak... kami tidak menggunakan AI. Semuanya diciptakan oleh manusia,” tegasnya.
Baca Juga :
Novel Laut Bercerita Diadaptasi Jadi Film Panjang, Dibintangi Reza Rahazian dan Dian Sastro
Film Esok Tanpa Ibu dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 22 Januari 2026. Selain Dian Sastrowardoyo, film ini juga dibintangi oleh Ringgo Agus Rahman dan Ali Fikry.
Film Esok Tanpa Ibu menceritakan kehidupan remaja berusia 16 tahun yang berubah total setelah ibunya mengalami koma. Kondisi tersebut membuatnya kesepian dan memicu konflik dengan sang ayah.
Untuk mengatasi kesedihannya, ia menggunakan I-BU, sebuah teknologi kecerdasan buatan ciptaan temannya yang mampu meniru suara, wajah, hingga kepribadian ibunya. Namun, kehadiran teknologi ini justru memicu dilema emosional dan memengaruhi hubungan antara ayah dan anak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News