"Pertama, memutus rantai stunting melalui edukasi para mahasiswa di kampus. Bagaimana ini sangat penting karena para mahasiswa ini kelompok elit dari masyarakat Indonesia," ujar Deputi Lalitbang BKKBN Muhammad Rizal Martua Damanik dalam seminar daring Hari Keluarga Nasional, Kamis, 8 Juli 2021.
Rizal mengatakan, sangat disayangkan bila mahasiswa terjun langsung ke masyarakat, namun tak memiliki wawasan pentingnya menyelesaikan permasalahan stunting. Ia berharap ada tindaklanjut dari para guru besar untuk membekali wawasan mahasiswa tentang stunting.
"Apakah memasukkan materi stunting ini dalam kurikulum salah satu mata kuliah, atau dalam saat penerimaan mahasiswa baru, atau mahasiswa yang akan meninggalkan kampusnya, semacam short course tentang apa dan bagaimana stunting," ujarnya.
Baca: API: Profesor Lintas Disiplin Ilmu Siap Andil Atasi Stunting di Indonesia
Rizal juga berharap adanya edukasi dan sosialisasi mahasiswa saat menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Khususnya, di desa-desa yang menjalankan program Kampung KB, atau Kampung Keluarga Berkualitas sebanyak kurang lebih 6.000 kampung di seluruh Indonesia.
Menurutnya, kampung KB perlu intervensi lebih lanjut dari para mahasiswa untuk menghentikan mata rantai stunting. Selain itu, menyejahterakan penduduk melalui kegiatan yang meningkatkan gizi masyarakatnya.
Ia mengatakan, jika perguruan tinggi yang jumlahnya sekitar 3.000-4.000 mengirimkan mahasiswa ke Kampung KB memberikan materi dan edukasi berkesinambungan, akan berdampak besar pada penurunan stuntint
"Saya melihat satu peluang bagaimana kita dapat cepat penurunan stunting, menanam rempah-rempah, dan menghasilkan satu hal yang luar biasa," ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News