Jakarta: Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menyoroti pentingnya penerapan ajaran Tri Pusat Pendidikan dari Ki Hajar Dewantara. Hal ini untuk memperkuat sistem pendidikan nasional.
Rerie, sapaan karib Lestari Moerdijat, mengatakan pembahasan mengenai Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas) yang sedang berjalan harus dikembalikan pada pemikiran-pemikiran besar kebangsaan, terutama yang digagas oleh Bapak Pendidikan Indonesia.
Dia menyoroti diskusi mengenai pendidikan seringkali terjebak pada aspek nomenklatur dan administrasi, sehingga kehilangan esensi filosofisnya. Rerie menekankan pentingnya membawa isu pendidikan ke dalam tataran lebih dalam, yaitu jiwa dari pendidikan itu sendiri.
Hal ini selaras dengan konsep Tri Pusat Pendidikan yang dicetuskan Ki Hajar Dewantara yang menekankan sinergi tiga lingkungan utama dalam mendidik anak yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Anggota Komisi X DPR RI itu mengatakan pemikiran Ki Hajar Dewantara menjadi semakin relevan di tengah dinamika pendidikan saat ini.
Rerie menyoroti model pendidikan tidak bisa hanya berfokus pada metode mengajar, tetapi juga bagaimana menciptakan ekosistem yang mendukung.
Ajaran Tri Pusat Pendidikan mengingatkan tanggung jawab pendidikan tidak hanya berada di pundak guru dan sekolah, melainkan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat .
Rerie mengkritisi sejumlah praktik yang telah berlangsung dalam sistem pendidikan, salah satunya adalah pemaknaan keliru mengenai keterlibatan orang tua. Ia mengingatkan keterlibatan orang tua bukan sekadar kehadiran fisik dalam setiap kegiatan sekolah, melainkan pemahaman mendalam tentang substansi pendidikan anak.
"Pemahaman mendalam ini merupakan salah satu aspek penting dalam lingkungan keluarga sebagai pusat pendidikan pertama dan utama," ujar Rerie dalam Forum Diskusi Aktual Berbangsa dan Bernegara MPR RI bertema Menghidupkan Kembali Tri Pusat Pendidikan bersama Institut Sarinah melalui keterangan tertulis, Kamis, 25 Juni 2026.
Selain itu, Rerie juga menyoroti belum adanya pemikiran mendalam mengenai kebudayaan dalam proses pembahasan sistem pendidikan. Menurut dia, kebudayaan sebagai hasil karya pikiran dari proses belajar mengajar harus menjadi bagian integral dari sistem pendidikan.
Hal ini sejalan dengan konsep Ki Hajar Dewantara yang menempatkan kebudayaan sebagai salah satu asas penting dalam pendidikan melalui Pancadharma. Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu mengingatkan pelaksanaan sistem pendidikan nasional yang baik menjadi kunci dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
Rerie menekankan Revisi UU Sisdiknas yang saat ini berlangsung penting mendapat masukan-masukan kritis yang menyentuh aspek filosofis, bukan sekadar teknis administratif.
Direktur Institut Sarinah, Eva Kusuma Sundari, menilai saat ini tidak ada yang mengurus aspek parenting dalam proses pendidikan. Eva juga menegaskan pentingnya menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam upaya membangun karakter anak bangsa.
Pendidikan di keluarga untuk menanamkan norma dan nilai yang berlaku sangat penting dalam membentengi anak dari ancaman tindak kekerasan di masyarakat.
Menurut Eva, internalisasi nilai-nilai Pancasila harus mampu diterapkan dalam keluarga.
Aktivis Pendidikan Indra Charismiadji berpendapat mengelola pendidikan nasional praktiknya harus belajar dari operasional ojek online yang di awal operasi harus jelas titik jemput dan titik antarnya, serta jelas besaran biaya yang dibutuhkan.
Menurut Indra, dengan capaian PISA relatif rendah dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2045 yang menarget pendapatan per kapita US$30.000 per tahun, hal itu tidak mungkin dicapai bila sektor pendidikan tidak segera dibenahi.
Mengutip Ki Hajar Dewantara, Indra menegaskan pendidikan adalah tuntunan hidup pada sebuah ekosistem yang berpusat pada tiga alam, yaitu keluarga, komunitas, dan perguruan/sekolah. "Sayangnya, selama ini pendidikan kita hanya berpusat pada sekolah semata," ujar Indra.
Direktur Eksekutif Yayasan Sukma Ahmad Baedowi berpendapat sekolah yang baik harus memiliki dan melakukan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (APBS) dengan baik.
"Kalau rencana APBS-nya salah, proses pendidikannya gagal dan itu yang kerap terjadi di sekolah-sekolah saat ini," ujar Baedowi.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan