Diskusi AI dalam peringatan 45 tahun (Lustrum IX) BINUS
Diskusi AI dalam peringatan 45 tahun (Lustrum IX) BINUS

Takut AI Rebut Kerjaan Kita? Ini Jawaban Cerdas Guru Besar BINUS

Citra Larasati • 04 Juli 2026 15:36
Ringkasnya gini..
  • Khawatir AI bakal gantikan manusia? Di HUT ke-45, Guru Besar BINUS tegaskan AI justru hadir untuk perkuat hidup kita.
  • Lewat gagasan "AI for Life", BINUS University bahas peran penting AI di ranah teknologi, industri kreatif, hingga hukum.
  • Jadikan AI sebagai mitra, bukan ancaman! Ini saatnya Gen Z manfaatkan teknologi demi bangun inovasi masa depan bangsa.
Jakarta: Perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang super cepat kerap bikin overthinking. Banyak yang cemas, jangan-jangan AI akan merebut pekerjaan manusia di masa depan.
 
Menjawab keresahan tersebut, Dewan Guru Besar BINUS University justru membawa kabar menyejukkan. Bertepatan dengan momen peringatan 45 tahun (Lustrum IX) perjalanannya, BINUS menegaskan bahwa AI tidak diciptakan untuk menyingkirkan manusia, melainkan untuk memberdayakan kita lewat gagasan besar bertajuk "AI for Life".
 
Selama 45 tahun berdiri, BINUS University tak hanya sekadar menjadi tempat kuliah, tetapi juga ekosistem yang berkomitmen menjawab tantangan zaman. Melalui visi A World-class University, Fostering and Empowering the Society in Building and Serving the Nation, kampus ini memandang AI harus dimanfaatkan secara etis, bertanggung jawab, dan bermakna.

Ketua Dewan Guru Besar BINUS University, Prof. Dr. Ir. Harjanto Prabowo, M.M., menekankan bahwa momentum usia ke- 45 ini menjadi ajang bagi para akademisi untuk turun gunung dan menyumbangkan pemikiran strategis bagi masyarakat.
 
“Di usia 45 tahun BINUS, kami bersyukur atas perjalanan yang telah dilalui dan menghargai seluruh kontribusi yang telah membentuk BINUS hingga hari ini. Namun, rasa syukur itu juga harus diwujudkan melalui komitmen untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi bagi Indonesia. Melalui gagasan AI for Life, Dewan Guru Besar BINUS ingin menegaskan bahwa teknologi, khususnya AI, harus diarahkan untuk memperkuat kehidupan manusia, bukan menggantikannya,” ujar Harjanto dalam keterangan persnya, dikutip Sabtu, 4 Juli 2026.

Bukan Cuma Urusan Anak IT

Dewan Guru Besar BINUS University sepakat bahwa AI bukan sebatas tools atau aplikasi semata. AI adalah agen transformasi yang memengaruhi segala lini. Oleh karena itu, perumusan gagasan AI for Life ini dibedah melalui tiga sudut pandang lintas keilmuan:

1. Transformasi Teknologi & Produktivitas (Subtim A)

Digawangi oleh Prof. Firdaus Alamsjah, Prof. Widodo Budiharto, dan Prof. Engkos A. Kuncoro, tim ini menyoroti bahwa tantangan terbesar Indonesia bukan sekadar mengadopsi AI, tapi bagaimana mengubahnya menjadi nilai ekonomi nyata. Industri dan kampus harus upgrade dari sekadar AI adoption menjadi AI transformation. Kuncinya? SDM yang melek literasi digital, tata kelola data yang aman, dan kepemimpinan adaptif.

2. Peluang di Bisnis & Industri Kreatif (Subtim B)

Apakah AI akan mematikan kreativitas? Tentu tidak! Prof. Harjanto Prabowo, Prof. John Fredy Bobby Saragih, Prof. Mita Purbasari Wahidiyat, dan Prof. Lindrianasari menegaskan bahwa AI adalah partner kolaborasi ideal. AI bisa mempercepat eksekusi ide, tapi "ruh" sebuah karya, seperti rasa, kepekaan sosial, dan konteks budaya, tetaplah butuh sentuhan manusia. Jadi, AI memperkaya kreativitas, bukan menggantikannya.

3. Geopolitik, Keamanan Siber, & Hukum (Subtim C)

Prof. Mts Arief, Prof. Tirta N. Mursitama, dan Prof. Shidarta membedah AI dari kacamata kebijakan negara. AI kini menjadi penentu daya saing global dan keamanan nasional. Indonesia harus siap dengan regulasi yang responsif, jaminan perlindungan data pribadi, dan strategi yang melindungi kepentingan publik di tengah "perang asimetris" dunia digital.

Membangun Era Kecerdasan Baru

Gagasan ini juga selaras dengan orasi ilmiah bertajuk “Shaping the Next Intelligence Era: Artificial Intelligence, Leadership, and Collaboration.” Tanpa kolaborasi dan kepemimpinan yang beretika, kecanggihan teknologi akan kehilangan arah. Di sinilah perguruan tinggi hadir sebagai kompas yang membangun literasi dan mencetak talenta unggul.
 
Sebagai penutup, Harjanto kembali mengingatkan filosofi dasar berdirinya institusi pendidikan ini. “BINUS lahir dengan semangat Bina Nusantara. Karena itu, setiap pemikiran dan inovasi yang kami hadirkan harus kembali kepada kontribusi bagi bangsa. AI for Life adalah ajakan agar kita tidak hanya mengejar kemajuan teknologi, tetapi juga memastikan bahwa teknologi tersebut membawa manfaat nyata bagi manusia dan Indonesia,” tambah Harjanto.
 
Dengan semangat Co-Creating the Intelligent Society, BINUS mengajak seluruh elemen bangsa, termasuk Gen Z, untuk melihat kecerdasan buatan sebagai sarana membangun masa depan yang inklusif dan kolaboratif.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA