Melansir unggahan di akun Instagram @brin_indonesia, banyak kasus child grooming yang tidak dilaporkan karena stigma. Padahal, ribuan kasus child grooming tetap terjadi.
BRIN menulis anak-anak paling berisiko di ruang digital, tempat pelaku memanfaatkan hubungan online untuk memanipulasi korban secara tersembunyi. Dalam data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak, per Juli 2025 tercatat 15.615 kasus kekerasan, sebesar 45 persen di antaranya adalah kasus Kekerasan seksual.
Apa saja mitigasi yang dapat kita lakukan? Yuk, simak penjelasan dari Periset Pusat Riset Kependudukan BRIN, Andhika Ajie Baskoro, berikut ini:
Andhika mengatakan tidak ada data pasti terkait jumlah kasus child grooming. Namun, laporan Komdigi Tahun 2024 menyebutkan ruang digital menjadi tempat pelaku melakukan cyber grooming.
"Terdapat 1.450.403 kasus. Data ini menjadi gambaran besarnya risiko anak untuk termanipulasi di ruang digital," ujar Andhika.
Untuk lebih jelasnya, simak dulu apa itu Child Grooming hingga prosesnya! Berikut informasinya:
Apa itu Child grooming?
Child grooming mengacu pada bagian dari kekerasan seksual pada anak. Child grooming merupakan sebuah upaya manipulatif yang dilakukan pelaku untuk memfasilitasi dirinya melakukan kekerasan seksual terhadap anak (minor). Sekaligus memastikan perbuatannya tetap tersembunyi dari jangkauan publik atau otoritas (undetected).Proses Grooming Sering Tidak Disadari
Remaja sering kali tidak menyadari karena berada di bawah pengaruh manipulasi pelaku. Remaja, yang kemampuan kognitifnya masih berkembang, mengalami Cognitive Distortion sehingga merasa perlakuan si pelaku merupakan bentuk "kasih sayang" atau "perhatian".United Nations Population Fund (UNFPA) menjelaskan bahwa akses terhadap pendidikan seksualitas merupakan hak asasi manusia yang bersifat universal. Mengapa hal ini penting?
Orang tua tidak dapat memantau anak selama 24 jam penuh. Oleh karena itu, anak perlu memiliki pemahaman yang baik tentang seksualitas agar mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Dalam konteks child grooming, pengetahuan ini menjadi bekal penting bagi anak untuk mengenali dan menghindari upaya pelaku. Orang tua perlu menghadirkan ruang diskusi yang aman dan bebas penghakiman untuk membahas berbagai isu, termasuk seksualitas.
Orang tua juga perlu memahami risiko yang mengintai remaja di ruang digital, seperti aplikasi kencan serta langkah mitigasi yang dapat dilakukan. Dalam hal ini, kehadiran negara menjadi penting untuk memberikan edukasi dan pelatihan agar orang tua memiliki kapasitas memadai dalam mendampingi dan melindungi anak di lingkungan digital.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News