FITNESS & HEALTH
Apa Itu Child Grooming? Kenali Bahaya dan Dampaknya bagi Anak
Fatha Annisa
Minggu 11 Januari 2026 / 16:18
Jakarta: Aurelie Moeremans baru-baru ini membuka kisah pahit ketika dirinya menjadi korban grooming, dalam buku yang ditulis sang aktris berjudul Broken Strings. Apa itu grooming dan bagaimana dampaknya bagi anak?
Melansir National Office for Child Safety Australia, grooming atau child grooming merupakan proses manipulatif ketika seseorang yang sudah dewasa secara bertahap membangun hubungan, kepercayaan, dan koneksi emosional dengan anak atau remaja dengan tujuan seksual, mengeksploitasi, atau menyakiti.
Grooming bisa terjadi secara langsung maupun online. Kondisi ini bukan terjadi melalui percakapan yang bersifat seksual sejak awal, prosesnya justru dimulai dengan pendekatan yang tampak “normal” atau ramah untuk memperoleh kepercayaan korban maupun orang di sekitarnya.
Prosesnya pun dapat berlangsung berminggu-minggu atau bahkan bertahun-tahun. Sementara itu, pelaku child grooming bisa siapa saja, mulai dari orang yang ada di sekitar korban hingga orang tak dikenal.
Grooming terhadap anak atau remaja, baik secara online maupun tatap muka, dapat mencakup:
1. Membangun kepercayaan korban, termasuk melalui perhatian khusus atau hadiah.
2. Menganggap mereka seperti orang dewasa untuk membuat mereka merasa berbeda dan istimewa.
3. Mendapatkan kepercayaan orang tua, keluarga, atau pengasuh korban.
4. Mengisolasi korban dari keluarga dan teman yang mendukung dan melindungi.
5. Meyakinkan korban untuk menggunakan platform online yang berbeda demi menjaga kerahasiaan ‘hubungan’ keduanya.
6. Memaksa korban, termasuk melalui ancaman, penguntitan, dan meminta korban untuk menjaga rahasia.
7. Memanipulasi korban untuk menyalahkan diri sendiri atas situasi tersebut.
8. Mendorong atau memeras mereka agar terlibat dalam aktivitas seksual, memproduksi gambar pelecehan seksual anak, atau berpartisipasi dalam obrolan virtual yang bersifat seksual.
9. Sentuhan non-seksual terhadap anak atau remaja yang berkembang menjadi perilaku seksual seiring waktu.
Korban child grooming sering mengalami kecemasan, depresi, dan stres pasca-trauma (PTSD) akibat manipulasi dan hubungan yang tidak sehat dengan pelaku. Ini bisa menimbulkan rasa bersalah yang tidak realistis dan tekanan psikologis jangka panjang.
2. Masalah kepercayaan dan hubungan sosial
Korban sering kehilangan kepercayaan pada orang lain, terutama terhadap figur dewasa, sehingga mereka bisa menarik diri dari lingkungan sosial, kesulitan membangun hubungan sehat, dan mengalami isolasi sosial.
3. Trauma seksual dan psikologis
Manipulasi dan eksploitasi seksual yang terjadi lewat grooming dapat menyebabkan trauma mendalam, yang memengaruhi perkembangan emosional anak dan kesehatan mentalnya hingga dewasa.
4. Efek jangka panjang hingga dewasa
Dampak grooming tidak hanya berlangsung saat masih kecil; banyak korban berkembang menjadi orang dewasa dengan gangguan stres pascatrauma, kecemasan yang berkepanjangan, bahkan keinginan mengakhiri hidup sebagai akibat dari trauma masa lalu.
5. Keterbatasan laporan dan dukungan
Karena proses grooming sering melibatkan manipulasi, isolasi, dan ancaman, banyak korban tak melapor atau tidak mengekspresikan pengalaman mereka, sehingga trauma berlanjut tanpa intervensi atau dukungan psikologis yang memadai.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(PRI)
Melansir National Office for Child Safety Australia, grooming atau child grooming merupakan proses manipulatif ketika seseorang yang sudah dewasa secara bertahap membangun hubungan, kepercayaan, dan koneksi emosional dengan anak atau remaja dengan tujuan seksual, mengeksploitasi, atau menyakiti.
Grooming bisa terjadi secara langsung maupun online. Kondisi ini bukan terjadi melalui percakapan yang bersifat seksual sejak awal, prosesnya justru dimulai dengan pendekatan yang tampak “normal” atau ramah untuk memperoleh kepercayaan korban maupun orang di sekitarnya.
Prosesnya pun dapat berlangsung berminggu-minggu atau bahkan bertahun-tahun. Sementara itu, pelaku child grooming bisa siapa saja, mulai dari orang yang ada di sekitar korban hingga orang tak dikenal.
| Baca juga: 6 Hal Sensitif yang Diungkap Aurelie Moeremans dalam Buku Broken Strings, Termasuk Kekerasan Seksual |
Grooming terhadap anak atau remaja, baik secara online maupun tatap muka, dapat mencakup:
1. Membangun kepercayaan korban, termasuk melalui perhatian khusus atau hadiah.
2. Menganggap mereka seperti orang dewasa untuk membuat mereka merasa berbeda dan istimewa.
3. Mendapatkan kepercayaan orang tua, keluarga, atau pengasuh korban.
4. Mengisolasi korban dari keluarga dan teman yang mendukung dan melindungi.
5. Meyakinkan korban untuk menggunakan platform online yang berbeda demi menjaga kerahasiaan ‘hubungan’ keduanya.
6. Memaksa korban, termasuk melalui ancaman, penguntitan, dan meminta korban untuk menjaga rahasia.
7. Memanipulasi korban untuk menyalahkan diri sendiri atas situasi tersebut.
8. Mendorong atau memeras mereka agar terlibat dalam aktivitas seksual, memproduksi gambar pelecehan seksual anak, atau berpartisipasi dalam obrolan virtual yang bersifat seksual.
9. Sentuhan non-seksual terhadap anak atau remaja yang berkembang menjadi perilaku seksual seiring waktu.
| Baca juga: Mencium Anak Tanpa Izin, Apakah Termasuk Grooming? Ini Penjelasan Ahli |
Dampak Child Grooming
1. Gangguan mental dan emosionalKorban child grooming sering mengalami kecemasan, depresi, dan stres pasca-trauma (PTSD) akibat manipulasi dan hubungan yang tidak sehat dengan pelaku. Ini bisa menimbulkan rasa bersalah yang tidak realistis dan tekanan psikologis jangka panjang.
2. Masalah kepercayaan dan hubungan sosial
Korban sering kehilangan kepercayaan pada orang lain, terutama terhadap figur dewasa, sehingga mereka bisa menarik diri dari lingkungan sosial, kesulitan membangun hubungan sehat, dan mengalami isolasi sosial.
3. Trauma seksual dan psikologis
Manipulasi dan eksploitasi seksual yang terjadi lewat grooming dapat menyebabkan trauma mendalam, yang memengaruhi perkembangan emosional anak dan kesehatan mentalnya hingga dewasa.
4. Efek jangka panjang hingga dewasa
Dampak grooming tidak hanya berlangsung saat masih kecil; banyak korban berkembang menjadi orang dewasa dengan gangguan stres pascatrauma, kecemasan yang berkepanjangan, bahkan keinginan mengakhiri hidup sebagai akibat dari trauma masa lalu.
5. Keterbatasan laporan dan dukungan
Karena proses grooming sering melibatkan manipulasi, isolasi, dan ancaman, banyak korban tak melapor atau tidak mengekspresikan pengalaman mereka, sehingga trauma berlanjut tanpa intervensi atau dukungan psikologis yang memadai.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(PRI)