Sebagai utusan Allah SWT, setiap ibadah yang Rasulullah SAW lakukan menjadi panduan yang wajib diikuti oleh seluruh umatnya. Tak terkecuali ibadah haji dan umrah, yang tata caranya hingga kini masih bersumber dari apa yang diajarkan dan dicontohkan secara langsung di Tanah Suci.
Kisah perjalanan haji dan umrah Rasulullah SAW menyimpan lembaran sejarah yang luar biasa, penuh dengan pelajaran, pengorbanan, dan momen-momen yang mengubah peradaban. Dari perjanjian yang sempat mengganjal langkah menuju Ka'bah, hingga khotbah agung di Padang Arafah yang mengguncang hati ratusan ribu sahabat sekaligus.
Namun di balik semua kemegahan itu, ada satu fakta tentang perjalanan haji dan umrah Rasulullah SAW yang jarang diketahui secara mendalam oleh banyak orang. Fakta yang justru semakin mempertegas betapa istimewa dan penuh hikmahnya setiap momen ibadah yang dijalani.
Lantas, seperti apa kisah lengkap perjalanan haji dan umrah Rasulullah SAW yang penuh hikmah tersebut? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini yang dikutip dari laman thepilgrim.co:
Haji Satu-satunya: Hajjatul Wada
Pada awal tahun 10 Hijriah, Rasulullah SAW mengumumkan niatnya menunaikan haji dan mengajak seluruh umat Islam ikut serta bersamanya. Jabir bin Abdullah RA meriwayatkan saat pengumuman itu tersebar, ribuan orang dari berbagai penjuru berduyun-duyun menuju Madinah demi bisa berhaji bersama Rasulullah.Rasulullah SAW berangkat dari Madinah ketika masih tersisa lima hari di bulan Zulkaidah, diiringi lautan manusia yang ingin meneladani setiap langkah dan geraknya. Haji yang ditunaikan saat itu kelak dikenal sebagai Hajjatul Wada atau Haji Perpisahan, karena menjadi haji pertama sekaligus terakhir dalam hidup Rasulullah SAW.
Puncak dari perjalanan suci itu terjadi pada 9 Zulhijah, ketika Rasulullah SAW berdiri di lembah Uranah, Padang Arafah, dan menyampaikan khotbah bersejarahnya. Dalam khotbah itu, ia menegaskan kesetaraan manusia, kesucian darah dan harta, serta pesan abadi tentang keadilan dan persaudaraan yang hingga kini masih relevan bagi seluruh umat manusia.
Beberapa bulan setelah menunaikan haji tersebut, Rasulullah SAW wafat dengan tenang di Madinah. Oleh karena itu, Hajjatul Wada dipandang sebagai puncak dan penyempurnaan dari seluruh perjalanan hidup serta misi kenabian Rasulullah SAW.
Baca Juga :
Ciri-ciri Haji Mabrur beserta Pengertiannya
Empat Kali Umrah Rasulullah SAW
Meskipun hanya sekali berhaji, Rasulullah SAW tercatat empat kali menunaikan umrah setelah hijrah ke Madinah, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas RA. Keempat umrah tersebut masing-masing memiliki latar belakang dan kisah yang berbeda-beda, di antaranya:1. Umrah Hudaibiyah (6 Hijriah)
Umrah pertama terjadi ketika Rasulullah SAW dan para sahabat berniat memasuki Makkah, namun perjalanan mereka dihadang oleh kaum Quraisy di kawasan Hudaibiyah. Peristiwa itu berujung pada penandatanganan Perjanjian Hudaibiyah yang meskipun tampak merugikan di awal, justru menjadi kemenangan besar bagi perkembangan Islam.2. Umratul Qadha (7 Hijriah)
Umrah kedua ditunaikan sebagai pemenuhan kesepakatan dalam Perjanjian Hudaibiyah yang memperbolehkan umat Islam memasuki Makkah. Rasulullah SAW beserta lebih dari 1.400 sahabat tinggal di Makkah selama tiga hari sebelum akhirnya kembali ke Madinah.3. Umrah dari Ji'ranah (8 Hijriah)
Umrah ketiga dilaksanakan ketika Rasulullah SAW dalam perjalanan pulang dari Thaif, usai membagikan rampasan perang Hunain kepada para sahabat. Ia mengambil miqat dari Ji'ranah sebelum memasuki Makkah untuk menunaikan umrah.4. Umrah Bersama Hajjatul Wada (10 Hijriah)
Umrah keempat sekaligus yang terakhir ini ditunaikan bersamaan dengan pelaksanaan Hajjatul Wada, haji perpisahan Rasulullah SAW. Umrah ini menyempurnakan seluruh rangkaian ibadahnya di Tanah Suci sebelum beberapa bulan kemudian wafat di Madinah.Teladan Abadi dari Perjalanan Suci
Meski Rasulullah SAW hanya sekali berhaji, warisan tata cara dan spirit haji yang ia tinggalkan menjadi pedoman bagi seluruh umat Islam sepanjang zaman. Setiap gerakan, doa, dan keputusannya selama Hajjatul Wada diabadikan secara rinci dalam literatur hadis dan menjadi rujukan utama pelaksanaan haji hingga hari ini.Rasulullah SAW sendiri bersabda, "Ambillah dariku tata cara hajimu," sebuah pesan yang menegaskan betapa pentingnya mengikuti sunah dalam setiap ritualnya. Perjalanan satu kali haji itu terbukti cukup untuk mewariskan panduan sempurna yang terus hidup dan dijalankan oleh jutaan jemaah dari seluruh penjuru dunia setiap tahunnya.
Kisah haji dan umrah Rasulullah SAW bukan sekadar catatan sejarah, melainkan cermin yang seharusnya menjadi inspirasi bagi setiap umat Islam yang merindukan Baitullah. Sebab di balik setiap langkah beliau di Tanah Suci, tersimpan pelajaran tentang keikhlasan, ketundukan, dan kecintaan yang tak terbatas kepada Allah SWT. (Talitha Islamey)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News