Khutbah berisi pesan keagaaman yang disampaikan khatib. Pada Salat Jumat 2 Januari 2026, Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan tema Islam, Fungsi Khalifah, dan Kesadaran Ekoteologis.
Berikut contoh khutbah Jumat yang dapat menjadi gambaran yang ditulis oleh Kepala Pusbangkom SDM Pendidikan dan Keagamaan, Kementerian Agama, Mastuki, dikutip dari laman kemenag.go.id:
Khutbah 1
اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ جَعَلَ الْاِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ وَيَنْهَوْنَ الْفَسَادَ مَكَانًا عَلِيًّا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا،
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ .قَالَ اللهُ تَعَالَى : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Alḥamdulillāh, segala puji hanya milik Allah SWT., Rabb al-alamin, Tuhan semesta alam, yang telah menciptakan langit dan bumi, menundukkan matahari dan bulan, menurunkan hujan, menumbuhkan pepohonan, menciptakan flora dan fauna, dan menjadikan bumi ini sebagai hunian yang layak bagi manusia.
Salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasul pilihan, Muhammad SAW., keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman. Sosok yang tidak hanya membawa risalah tauhid, tetapi juga teladan akhlak ekologis: memperlakukan hewan dengan kasih sayang, merawat tetumbuhan dengan sabda dan tindakannya, hemat dalam menggunakan air, dan melarang perusakan bumi.
Dari atas mimbar yang terhormat ini khatib menyerukan kepada kita semua untuk terus memperbarui keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Rabbul Jalil. Iman dan takwa yang dilandasi keselarasan hubungan/relasi antara Tuhan, manusia, dan alam. Hubungan vertikal dengan Tuhan disebut hablum minallah, hubungan horizontal dengan sesama manusia (hablum minannas), dan relasi dengan alam sebagai sesama ciptaan Allah dan sarana bagi manusia untuk hidup dan kewajiban mengelolanya (hablun minal 'alam).
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Di masa lampau, hubungan antara manusia dan alam bukanlah hubungan antara subjek dan objek yang terpisah, melainkan sebuah keintiman yang sangat mendalam. Para leluhur kita memiliki semacam bahasa batin dengan semesta.
Konon, ketika mereka hendak menanam sebutir benih di sebuah lahan, ada ritual sunyi yang mereka lakukan. Mereka akan mengambil segenggam tanah, mencium batu dan benih itu, seolah-olah sedang berbisik dan berdialog.
Melalui sentuhan, melalui insting, dan melalui keheningan batin, mereka bisa merasakan apakah lahan itu cocok dan mau menerima benih tersebut. Bukan karena mereka memiliki teknologi canggih, melainkan karena mereka memiliki kedekatan batin dengan alam. Sehingga alam menyingkapkan dirinya kepada manusia karena manusia begitu menghormati dan mencintai alam.
Kearifan serupa juga kita temukan di berbagai suku-suku pesisir. Saat nelayan hendak melaut—mengambil rezeki dari lautan—mereka mempersembahkan sebagian hasil bumi kepada laut sebagai lambang persahabatan dan izin. Cerita-cerita semacam itu juga kita dengar dari orang-orang tua tentang pengalaman penjaga hutan atau orang rimba, penjaga sungai, dan penjaga gunung (juru kunci). Di tempat-tempat dimana hubungan manusia dengan alam begitu tak berjarak, kedekatan batin itu tercipta karena mereka saling menghargai.
Saat ini, suasana kedekatan batin dengan alam itu tampaknya mulai mengendur. Seakan ada dinding tebal antara manusia dan alam. Akibatnya, manusia menjadi asing dengan alam. Padahal dalam iman Islam, alam adalah ayat kauniyah, tanda-tanda kekuasaan Allah yang terbentang di alam semesta.
Namun, ketika "tanda-tanda" itu diperlakukan tidak benar, misalnya hutan dirusak/digunduli, sungai dicemari, udara dipenuhi asap, air tercemari polusi, manusia kehilangan sensitifitas; tidak lagi bisa mencium perubahan musim. Sulit mengenali kapan hujan akan tiba dan kapan kemarau akan berakhir, karena alam sudah sulit diprediksi.
Sesungguhnya pada level ini, bukan hanya ekosistem yang hancur, tetapi juga “halaman depan” dari mushaf besar bernama alam yang robek oleh ulah manusia. Kita bukan hanya merusak lingkungan, tapi juga mengabaikan ayat-ayat Allah yang terbentang di sekitar kita.
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Kita semua tentu menyaksikan, dengan hati yang pedih, bencana ekologi di Sumatera. Hujan lebat yang diperkuat oleh siklon tropis memicu banjir bandang dan longsor di berbagai wilayah Sumatera—mulai dari Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat. Ribuan korban meninggal, dan berapa yang dinyatakan hilang. Ribuan rumah rusak atau terendam, dan puluhan ribu warga mengungsi. Belum lagi kerusakan infrastruktur, lahan pertanian, dan permukiman begitu luas. Dalam banyak analisis, selain faktor cuaca ekstrem akibat perubahan iklim, kerusakan lingkungan seperti pembalakan liar dan deforestasi di daerah hulu turut memperparah skala bencana.
Sebagai insan beragama, kita tentu berempati, mendoakan, dan membantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana. Tetapi lebih dari itu, bencana demi bencana yang melanda negeri ini harus menjadi cermin teologis. Jangan-jangan, selama ini kita lebih sibuk membicarakan ibadah ritual, tetapi melupakan ajaran penting agama bahwa menjaga alam adalah bagian dari iman, dan merawat bumi adalah ibadah.
Kejadian banjir, longsor, dan krisis iklim seolah-olah sinyal bahwa alam marah dan memberontak kepada kita. Bencana adalah cara alam bertindak, menyampaikan pesan, mengingatkan bahwa kita telah melanggar perjanjian suci, bahwa kita telah kehilangan cinta dan kesadaran spiritual terhadap alam, dan bumi yang kita pijak ini.
Allah telah mengingatkan:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rūm: 41).
Ayat ini seolah sedang turun kembali hari ini, di negeri kita. Indonesia yang dikenal sebagai jamrud kathulistiwa dan negara dengan kekayaan hayati luar biasa. Namun dalam beberapa tahun terakhir, data menunjukkan bahwa kita sedang berada di situasi yang sangat mengkhawatirkan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa sepanjang tahun 2024 terjadi 2.181 bencana alam di Indonesia, dan sekitar 50 persen di antaranya adalah banjir. Banjir dan tanah longsor bukan lagi kejadian langka, tetapi seperti “tamu rutin” yang datang setiap tahun, bahkan setiap musim.
Dari aspek hutan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melaporkan angka deforestasi netto tahun 2024 mencapai sekitar 175,4 ribu hektare, dengan mayoritas terjadi di hutan sekunder. Data global juga menunjukkan bahwa Indonesia kehilangan sekitar 260 ribu hektare hutan alam pada 2024, yang setara dengan jutaan emisi karbon.
Di sisi lain, kajian Switch Asia dari Uni Eropa tahun 2025 menunjukkan Indonesia menghasilkan jutaan ton sampah plastik setiap tahun; sekitar 1,8 juta ton di antaranya tergolong mismanaged plastic waste, tidak terkelola dengan baik dan berisiko besar mencemari sungai dan laut. Indonesia bahkan masih masuk deretan negara penyumbang besar sampah plastik ke laut.
Semua kerusakan lingkungan (ekologis) itu bukan hanya persoalan teknis atau kepentingan ekonomis, tetapi persoalan moral dan spiritual. Bencana yang datang silih berganti adalah teguran teologis agar kita kembali kepada etika iman.
Allah Swt. berfirman:
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ
“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A‘rāf: 56).
Di ayat lain:
هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya…” (QS. Al-Mulk: 15).
Ayat ini mengandung dua sisi: kemudahan dan amanah. Bumi dimudahkan untuk dihuni oleh manusia, bukan untuk dieksploitasi tanpa batas.
Ma'asyiral muslimin yang dirahmati ALlah,
Al-Qur’an secara eksplisit menyebut manusia sebagai wakil/mandataris Tuhan di muka bumi (khalifatullah fil ardh). Sebagaimana dinyatakan sendiri oleh Allah:
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةًۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Banyak di antara kita menafsirkan khalifah fil ardh seolah-olah pihak yang diberi otoritas absolut dan izin penuh untuk melakukan apa saja terhadap bumi. Penafsiran ini menjustifikasi bahwa karena kita wakil Tuhan, maka kita berhak mendominasi dan menguras sumber daya alam tanpa batas moral. Tafsir yang keliru inilah yang memperkuat cara pandang antroposentris, cara pandang yang berpusat pada manusia. Padahal makna khalifah lebih mengarah pada “pengganti” atau “wakil”—dan karenanya bertindak sesuai keinginan Yang Diwakili (yakni Tuhan).
Dalam pengertian seperti ini, sebagai khalifah, manusia diberi amanah (trust) menjaga ciptaan-Allah : mengelola bumi dan alam dengan penuh tanggung jawab, adil, dan bijaksana. Tanggung jawab ini mencakup menjaga keseimbangan (mizan) ciptaan, melestarikan sumber daya alam, dan memastikan keberlanjutan bagi generasi mendatang. Karena itu, relasi manusia dengan alam tidak bisa dipisahkan dari relasinya dengan Tuhan.
Alam semesta dan segala isinya adalah amanah dari Allah yang dititipkan kepada manusia; ia harus dijaga dan dikelola dengan sebaik-baiknya, bukan dihancurkan. Amanah menuntut manusia untuk tidak hanya mengambil manfaat dari alam, tapi juga memiliki kewajiban moral untuk merawat dan memperbaikinya. Merusak amanah adalah perbuatan yang mendatangkan dosa.
Di sinilah konsep ekoteologi itu relate dengan dengan fungsi kekhalifahan. Ekoteologi adalah cara kita memahami bahwa:
- Tauhid kepada Allah menuntun kita untuk menghormati ciptaan-Nya
- Menjadi khalifah berarti mengelola bumi, bukan mengeksploitasi
- Rahmah dan ihsan tidak hanya untuk manusia, tapi juga untuk makhluk lain dan ekosistem
- Maslahah jangka panjang harus mengalahkan kepentingan sesaat
Bayangkan, jika ekoteologi menjadi nilai yang hidup dalam diri muslim. Berakar pada budaya pendidikan dan menjadi kurikulum di madrasah/sekolah atau budaya pesantren. Menjadi gerakan di masjid-masjid dan lembaga keagamaan. Materi khutbah, ceramah, dan penyuluhan. SOP kantor-kantor pemerintah dan ruang-publik (public space): green office, hemat listrik, sedekah oksigen, hemat air, bebas sampah plastik, ruang hijau, dan sebagainya.
Maka kita tidak hanya membentuk manusia yang rajin salat, tetapi juga manusia yang enggan membuang sampah sembarangan; tidak hanya puasa tetapi merawat bumi; tidak hanya berzikir dengan lisan, tetapi juga bertasbih dengan perilaku menjaga ciptaan Allah.
Bukankah Rasulullah SAW panutan kita bersabda:
إن قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا
“Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah.” (HR. Bukhari dan Ahmad).
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا، أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا، فَيَأْكُلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ أَوْ طَيْرٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ
"Sesiapa pun yang menanam pohon, lalu darinya dimakan manusia, hewan, atau burung, maka itu menjadi sedekah baginya" (HR Bukhari Muslim).
Jika menanam pohon bernilai sedekah, maka merusak hutan, mencemari sungai, dan membiarkan sampah berserakan jelas bertentangan dengan ruh iman.
Hadis lain menyebutkan,
لاَ تُسْرِفْ، قُلْتُ: أَمِنَ الْوُضُوءِ سَرَفٌ؟ قَالَ: نَعَمْ وَإِنْ كُنْتَ عَلَى نَهْرٍ جَارٍ".
"Janganlah kamu berlebih-lebihan (boros). Aku (Sa’ad) bertanya, 'Apakah dalam wudhu juga ada pemborosan?' Beliau menjawab, 'Ya, (pemborosan) bahkan meskipun engkau berada di sungai yang mengalir'."
Saudaraku sesama iman, jamaah Jumat yang berhagia
Banjir dan longsor di Sumatra telah menyisakan duka mendalam. Data kerusakan lingkungan, deforestasi, sampah plastik yang menggunung, dan meningkatnya bencana hidrometeorologis harus kita baca bukan hanya sebagai krisis lingkungan, tetapi sebagai seruan untuk bertobat ekologis.
Ekoteologi mengajak kita untuk menjadikan setiap langkah pengelolaan lingkungan sebagai bagian dari ibadah. Menanam pohon adalah sedekah. Mengurangi sampah adalah amal jariyah. Menghemat air dan listrik adalah bentuk syukur. Menjaga sungai, hutan, dan laut adalah bukti bahwa kita tidak sekadar membaca ayat, tetapi menjaga ayat-ayat Allah yang terbentang di alam semesta.
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ اْلآيَةِ وَاْلذْكُرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah 2
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اِتَّقُوْ اللهَ، وَاعْمَلُوا الصَّالِحَاتِ وَاجْتَنِبُوا الْمُنْكَرَاتِ وَاذْكُرُوا اللهَ فِي أَيَّامٍ مَعْلُوْمَتٍ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News