Kesadaran inklusivitas diharapkan terjadi di berbagai lapisan masyarkat agar terwujud kedamaian bermasyarakat di tengah keberagaman bangsa Indonesia. Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, mengatakan penguatan inklusivitas ini akan berdampak bagi penguatan bangsa.
"LKLB di Maluku ini memang sangat penting dan kita melihat inspirasi dari Maluku bagaimana kemampuan kita menguatkan kehidupan keberagaman yang membantu memperkuat bangsa," ujar Matius dalam Seminar LKLB di Maluku, Kamis, 12 Februari 2026.
Seminar ini mengangkat inisiatif dan praktik baik pendidikan damai di Maluku dengan pendekatan LKLB. Tahun ini, tema yang diangkat adalah Penguatan Karakter Bangsa untuk Mendukung Asta Cita dalam Semangat Hidup Orang Basudara melalui LKLB.
Matius menjelaskan LKLB telah diakui secara nasional dan internasional sebagai model pendidikan untuk membangun kohesi sosial. Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Malaysia tahun 2025 misalnya, LKLB resmi menjadi salah satu strategi ASEAN hingga tahun 2045 untuk menciptakan Komunitas ASEAN yang inklusif dan kohesif.
Baca Juga :
Bicara di IF20, Mendikdasmen Tekankan Literasi Keagamaan Lintas Budaya Pilar Vital Pendidikan Karakter
Kemudian, delegasi dari Kementerian Pendidikan Pemerintahan Bangsamoro di Filipina berkunjung ke Ambon, sebagai tamu Institut Leimena untuk belajar dari pelaksanaan Program LKLB di kota Ambon.
“Kami berharap seminar hari ini dapat membuahkan langkah-langkah tindak lanjut konkret karena keberhasilan upaya di Maluku ini tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga bagi negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara,” kata Matius.
Wali Kota Ambon, Bodewin Melkias Wattimena, mengatakan seminar yang juga diinisiasi Pemprov Maluku ini merupakan panggilan moral jati diri bangsa. Termasuk untuk memupuk nilai kedaerahan yang mengakar kuat dalam hubungan persaudaraan masyarakat Maluku.
“Kita memiliki filosofi Orang Basudara yang menjadi perekat sosial. Nilai-nilai kearifan tersebut bukan sebatas pemahaman soal sejarah, tapi bagaimana yang paling penting terus dihidupkan, dan ditransformasikan menjadi nilai-nilai hidup bersama,” kata Bodewin.
Bodewin menegaskan Literasi Keagamaan Lintas Budaya bukan mencampuradukkan keyakinan. Melainkan memahami nilai-nilai universal kemanusiaan tentang perdamaian, cinta kasih, keadilan, dan membangun ruang dialog antar agama.
“Kita tidak boleh tutup mata atas realitas saat ini, seperti fenomena eksklusivisme beragama dan segregasi terus tumbuh di kota ini, yang tidak boleh dibiarkan tumbuh tanpa arah. Maka kita harus hidupkan semangat hidup Orang Basudara yang secara konkret melalui pendekatan LKLB,” kata Bodewin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News