Meski begitu, masih sering ditemukan kekeliruan dalam penulisan maupun pelafalan istilah-istilah keagamaan tersebut. Banyak masyarakat tidak sadar menggunakan kosakata yang tidak sesuai standar atau tidak baku saat berkomunikasi mengenai berbagai hal terkait bulan Ramadan.
Oleh sebab itu, penggunaan kata baku yang sesuai dengan kaidah menjadi sangat penting untuk menjaga ketepatan makna. Hal ini tidak hanya menunjukkan profesionalisme dalam berkomunikasi, tetapi juga berfungsi sebagai upaya menjaga kemurnian bahasa Indonesia.
Sebelum membahas lebih jauh mengenai kesalahan penulisan kata baku seputar Ramadan, yuk simak terlebih dahulu mengenai definisi kata baku dan tidak baku berikut ini:
Definisi kata baku
Melansir laman Brain Academy, kata baku merupakan kosakata yang berpedoman pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) serta memenuhi standar ejaan yang berlaku. Umumnya, kata baku digunakan dalam situasi resmi, seperti saat menyusun dokumen kenegaraan, naskah pidato, materi pelajaran, berita, maupun saat mengisi acara formal.Fungsi kata baku
Berikut empat fungsi utama kata baku:1. Alat Pemersatu
Mengingat Indonesia terdiri atas beragam suku dan dialek, bahasa baku berfungsi sebagai jembatan komunikasi yang menyatukan seluruh elemen masyarakat.2. Pemberi Ciri Khas
Kata baku menjadi pembeda identitas bahasa antarnegara serumpun. Sebagai contoh, meski Indonesia dan Malaysia sama-sama berakar dari bahasa Melayu, penulisan dan ejaannya berbeda untuk menunjukkan jati diri masing-masing negara.3. Meningkatkan Kewibawaan
Penggunaan bahasa resmi dalam forum formal, seperti upacara kenegaraan, memberikan kesan profesional dan berwibawa bagi penggunanya.4. Kerangka Acuan
Kosakata baku menjadi standar atau tolok ukur dalam berbahasa yang benar, dengan merujuk pada KBBI dan pedoman ejaan sebagai otoritas tertinggi.5. Definisi kata tidak baku
Kata tidak baku adalah kosakata yang penulisannya tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia karena terpengaruh oleh bahasa daerah maupun bahasa asing. Jenis kata ini sangat lumrah ditemukan dalam interaksi harian bersama teman dan keluarga, serta sering digunakan dalam dialog film atau bahasa periklanan.Mengapa kata tidak baku muncul?
Munculnya kata tidak baku disebabkan karena adanya asimilasi antara bahasa Indonesia dengan unsur bahasa daerah dan bahasa asing. Selain itu, kata tidak baku lebih sering dipilih karena memberikan kesan yang lebih akrab, santai, dan praktis. Contohnya, orang lebih sering menggunakan istilah "stop" yang singkat dibandingkan kata "memberhentikan" yang merupakan bentuk bakunya.Meskipun tidak digunakan dalam dokumen resmi, kata tidak baku memiliki nilai manfaat tersendiri bagi para pekerja kreatif. Mereka memanfaatkannya untuk membuat konten media sosial, lirik lagu, hingga iklan agar pesan yang disampaikan terasa lebih dekat dan relevan dengan masyarakat.
Deretan kata baku seputar Ramadan
Mengutip unggahan akun Instagram @disdikjabar, berikut deretan kata baku seputar Ramadan yang sering digunakan:- Doa, bukan do’a
- Zuhur, bukan dhuhur
- Zikir bukan dzikir
- Hadis, bukan hadist
- Halalbihalal, bukan halal bi halal
- Idulfitri, bukan idul fitri
- Iktikaf, bukan i’tikaf
- Infak, bukan infaq
- Istikamah, bukan istiqamah
- Jemaah, bukan jamaah
- Jumat, bukan jum’at
- Khotbah, bukan khutbah
- Lailatulqadar, bukan lailatul qodar
- Magrib, bukan maghrib
- Makkah, bukan mekah
- Ramadan, bukan ramadhan
- Salat, bukan sholat
- Subuh, bukan shubuh
- Sedekah, bukan shodaqoh
- Selawat, bukan shalawat
- Syuruk, bukan syuruq
- Tausiah, bukan tausyiah
- Takwa, bukan taqwa
- Ukhuah, bukan ukhuwah
- Ustaz, bukan ustadz
- Wudu, bukan wudhu
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News