Josepha Alexandra Siswi SMAN 1 Pontianak yang menjawab soal tapi disalahkan juri. Foto: Youtube MPRGOID
Josepha Alexandra Siswi SMAN 1 Pontianak yang menjawab soal tapi disalahkan juri. Foto: Youtube MPRGOID

SMAN 1 Pontianak Tolak Pelaksanaan Ulang Lomba Cerdas Cermat MPR RI

Ilham Pratama Putra • 15 Mei 2026 11:03
Ringkasnya gini..
  • SMAN 1 Pontianak menolak usulan pelaksanaan ulang LCC 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat meski sebelumnya terjadi polemik keputusan juri yang viral.
  • Sekolah tetap menghormati hasil akhir lomba dan memberikan dukungan penuh kepada SMAN 1 Sambas sebagai wakil Kalimantan Barat di tingkat nasional.
  • Dalam pernyataan resminya, SMAN 1 Pontianak meminta penyelenggara tetap memberikan klarifikasi demi menjaga transparansi, objektivitas, dan integritas dunia pendidikan.
Jakarta: SMAN 1 Pontianak sebagai finalis Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat mengeluarkan pernyataan sikap terkait adanya usulan pelaksanaan ulang LCC MPR RI. Usulan pelaksanaan ulang ini merupakan pernyataan MPR sebagai bentuk penyelesaian polemik yang terjadi pada lomba tersebut. 
 
Melalui akun instagram @smansaptk.informasi, SMAN 1 Pontianak menolak usulan pelaksanaan ulang LCC 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. SMAN 1 Pontianak mereka finis di tempat kedua, dalam ajang tersebut. 
 
"Kami menyampaikan apresiasi atas perhatian dan dukungan berbagai pihak, serta menegaskan penghormatan terhadap hasil yang telah ditetapkan," tulis unggahan @smansaptk.informasi dikutip Jumat 15 Mei 2026. 

Meski harus menempati tempat kedua, karena adanya polemik dengan keputusan juri, SMAN 1 Pontianak tetap mendukung SMAN 1 Sambas. Dimana SMAN 1 Sambas akan melanjutkan laga ke LCC MPR RI tingkat nasional. 
 
"Dukungan penuh juga kami berikan kepada perwakilan Kalimantan Barat di tingkat nasional," jelas SMAN 1 Pontianak.
 
Baca juga: Viral Juri LCC MPR Antikritik, Profesor UI Bongkar Alasan Sainsnya

Pernyataan ini dibuat, sebagai bentuk tanggung jawab moral dan komitmen terhadap nilai-nilai integritas dalam dunia pendidikan. Di samping itu, SMAN 1 Pontianak berharap pihak penyelenggara dapat tetap memberikan klarifikasi demi terwujudnya pelaksanaan lomba yang transparan, objektif, dan akuntabel.
 
"Tanpa adanya maksud untuk menyerang pihak manapun," lanjut unggahan tersebut. 
 
SMAN 1 Pontianak berharap seluruh pihak dalam LCC MPR RI dapat terus menjaga semangat kebersamaan, menjunjung tinggi nilai persatuan. Serta bersama-sama menciptakan iklim pendidikan yang kondusif, aman, dan berintegritas.
 
"SMAN 1 Pontianak berkomitmen untuk pendidikan yang jujur dan bermartabat," tutup unggahan tersebut. 
 
Sebelumnya, diketahui Ketua MPR RI Ahmad Muzani memastikan final LCC di Kalbar akan diadakan ulang. MPR RI akan menghadirkan juri independen dari kalangan akademisi untuk menjaga objektivitas hasil lomba. 
 
Ahmad Muzani juga mengapresiasi kritik dan masukan dari masyarakat terkait jalannya lomba tersebut. Nantinya, pimpinan MPR RI disebut akan ikut mengawasi langsung proses pelaksanaan dan melakukan evaluasi menyeluruh.
 
Cuplikan video lomba cerdas cermat Empat Pilar MPR RI 2026 viral di media sosial. Video itu menjadi perbincangan warga net karena sikap juri dan master ceremony (MC) bikin geram. 
 
Cuplikan video tersebut diambil dari YouTube MPRGOID. Video tersebut merupakan tayangan Final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat jenjang SMA. 
 
Lomba digelar dan disiarkan langsung pada 9 Mei 2026. Di panggung, sedang bertanding SMAN 1 Pontianak, SMAN 1 Sambas dan SMAN 1 Sanggau. 
 
Cuplikan ini dimulai dari pertanyaan yang dilemparkan MC. Pertanyaan yang diberikan kepada tiga sekolah adalah: "Pimpinan BPK dipilih dari dan oleh anggota. Namun untuk menjadi anggota BPK, keterkaitan dengan Perwakilan Daerah tetap dijaga. DPR dalam memilih anggota BPK diwajibkan untuk memperhatikan pertimbangan dari lembaga mana?" tanya MC dikutip dari tayangan YouTube MPRGOID, Senin, 11 Mei 2026.
 
Salah seorang siswi dari SMAN 1 Pontianak menekan bel dan memberikan jawaban. Siswi tersebut menjawab peran Dewan Perwakilan Daerah dan Presiden RI sebagai lembaga yang ikut memberikan pertimbangan untuk memilih anggota BPK. 
 
"Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden," ujar siswi SMAN 1 Pontianak. 
 
Baca juga: Ratusan Siswa Ikut Lomba Cerdas Cermat Museum, Upaya Pembangkitan Cinta Warisan Budaya

MC meminta tanggapan juri yang merupakan Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI, Dyastasita WB. Dia memberikan minus 5 kepada SMAN 1 Pontianak. 
 
"Minus 5," kata Dyastasita secara singkat. 
 
Soal babak rebutan itu akhirnya kembali dilemparkan kepara para pelajar untuk dijawab. Tak lama, bel berdering dari salah seorang siswi SMAN 1 Sambas. Siswi tersebut menjawab dengan jawaban yang sama persis dengan Siswi SMA 1 Pontianak tadi.
 
"Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden," jawab siswi SMAN 1 Sambas.
 
Namun, sikap juri berbeda. SMAN 1 Sambas dinilai memberikan jawaban benar dan mendapat tambahan 10 poin dari juri yang sama.
 
"Iya, inti jawabannya sudah benar. Nilai 10," kata Dyastasita. 
 
Sikap juri langsung diprotes oleh siswi SMAN 1 Pontianak yang memberikan jawaban lebih dulu dan dianggap salah. Siswi tersebut menekankan jawaban yang dia berikan sama persis dengan siswi dari SMAN 1 Sambas. 
 
"Izin! Tadi kami menjawabnya sama seperti regu B (SMAN 1 Sambas). Sama," tegas siswi SMAN 1 Pontianak itu. 
 
Namun, juri Dyastasita mengelak. Ia menyebut siswi SMAN 1 Pontianak tida menyertakan kata DPD dalam jawabannya. 
 
"Tadi disebutkan regu C ya, itu pertimbangan dari DPD-nya tidak ada," kata Dyastasita.
 
Siswi SMAN 1 Pontianak itu lekas membantah lagi. Ia memastikan jawabannya lengkap seperti siswi dari SMAN 1 Sambas. 
 
"Ada, (mengulang jawaban). Mungkin dari penonton ada yang mendengar saya menjawab DPD," tutur Siswi SMAN 1 tersebut. 
 
Namun, masih tak ada tanggapan dari dewan juri. Salah satu MC lalu menegaskan juri yang dipilih sudah berkompeten sekaligus menuduh siswi tersebut hanya merasa sudah menjawab benar. Hal inilah yang membuat warga net makin emosional. 
 
"Baik adik-adik mohon diterima keputusan dewan juri, karena tentunya dewan juri yang hadir hari ini sudah sangat berkompeten dan sangat teliti untuk mendengarkan jawaban dari adik-adik. Mungkin itu hanya perasaan Adik-adik saja. Nanti mungkin bisa dilihat tayangan ulangnya
setelah acara selesai," kata MC. 
 
Tak lama, juri lainnya yang merupakan Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi, Indri Wahyuni, juga memberi tanggapan. Ia meminta para peserta untuk lebih memperjelas artikulasi ketika menjawab. 
 
Ia bahkan menyalahkan para peserta yang menjawab kurang jelas. Insri menyebut suara yang kurang jelas juga menjadi alasan juri memberikan nilai minus. 
 
"Kalau menurut kalian sudah, tapi dewan juri menilai kalian tidak karena tidak mendengar artikulasi kalian dengan jelas, ya itu artinya dewan juri berhak memberikan nilai minus 5. Jadi sekali lagi kami peringatkan artikulasi diperhatikan ya," kata Indri sebagai juri. 
 
Indri mengingatkan yang bisa menyampaikan protes hanyalah peserta. Ucapan itu ia sampaikan diduga karena melihat salah seorang guru pendamping melakukan protes.
 
Akhirnya, tidak ada penyelesaian atas polemik tersebut. Lomba cerdas cermat itu kembali dilanjutkan. 
 
"Baik, kita junjung sportivitas untuk lomba ini. Mohon diterima keputusan dewan juri, Bapak atau Ibu dan juga Adik-adik kebanggaan bangsa. Maka bisa kita lanjutkan untuk soal berikutnya," kata salah satu MC.  
 
Baca juga:  Cerita Wamendikdasmen Ikut Lomba Cerdas Cermat Saat SD: Ternyata Banyak yang Lebih Pintar daripada Saya

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA