Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) Agustino Zulys mengungkap hal tersebut. Zulys menjelaskan air diperlukan untuk mendinginkan chip di pusat data yang memproses permintaan pengguna AI.
“Menggunakan AI akan mengurangi air minum kita? Bhap, betul! Data center AI butuh air bersih, tapi bukan untuk diminum, melainkan untuk mendinginkan agar otaknya tidak kepanasan,” ujar Prof. Zulys dalam seri edukasi Behind the Science yang diunggah melalui akun Instagramnya @prof.zulys dikutip Kamis 24 September 2026. Zulys menerangkan kebutuhan air terhadap proses AI berkaitan dengan komputasi yang berlangsung di pusat data. Ketika pengguna memberikan perintah kepada AI, ribuan chip bekerja melakukan miliaran operasi yang membutuhkan listrik sekaligus menghasilkan panas.
“Chip melakukan miliaran operasi, itu membutuhkan listrik, menghasilkan panas. Jadi gampangnya, AI itu seperti mahasiswa mau ujian. Makin berat mikirnya, makin panas kepalanya,” jelasnya.
Untuk mengatasi panas tersebut, pusat data menggunakan sistem pendinginan yang salah satunya memanfaatkan air. Zulys menjelaskan air dipilih karena memiliki kapasitas panas yang tinggi sehingga efektif membantu menyerap panas dari sistem komputasi.
Namun, air yang digunakan bukan sembarang air. Menurut Zulys, sistem pendinginan membutuhkan air bersih karena penggunaan air dari sungai, danau, atau laut dapat berisiko terhadap komponen chip.
Ia mengutip studi dari University of California, Riverside dan University of Colorado yang memperkirakan model AI seperti GPT-3 membutuhkan sekitar 500 mililiter air untuk 50 respons. Artinya, secara kasar terdapat penggunaan sekitar 1 liter air jika AI telah memberikan 100 respon di melalui Chatbot.
Jika penggunaan AI dilakukan oleh ribuan hingga jutaan orang secara bersamaan, kebutuhan air tersebut dapat terakumulasi dalam skala besar. Zulys menyebut sebuah data center berkapasitas 100 megawatt dapat menggunakan sekitar 2 juta liter air per hari.
Angka tersebut, menurut dia, menunjukkan bahwa dampak penggunaan AI tidak hanya berkaitan dengan konsumsi listrik dan energi. Kebutuhan air untuk menjaga infrastruktur AI tetap beroperasi juga perlu diperhitungkan.
Meski begitu, Zulys menilai solusi persoalan tersebut bukan dengan menghentikan penggunaan AI. Pengelola data center perlu mengembangkan sistem pendinginan yang lebih efisien, termasuk menggunakan siklus pendinginan tertutup dan air daur ulang.
“Bukan berhenti memakai AI. Buat metode siklus pendinginan tertutup, air daur ulang, dan bangun data center di lokasi yang daya dukung airnya memadai,” katanya.
Ia juga mengingatkan pembangunan data center perlu mempertimbangkan kebutuhan air masyarakat di sekitar lokasi. Menurut dia, pemilihan lokasi yang tidak memperhatikan daya dukung air berpotensi menimbulkan persaingan antara kebutuhan industri teknologi dan kebutuhan penduduk.
Di sisi pengguna, Zulys mengajak masyarakat tidak menggunakan AI secara berlebihan. Pengguna dapat mengurangi query yang tidak diperlukan dan tidak selalu menyerahkan pekerjaan kepada AI jika masih dapat dikerjakan sendiri.
“Kalau bisa, kita kerjakan sendiri aja. Toh kita masih bisa hidup tanpa AI, tapi manusia tidak bisa hidup tanpa air,” tegasnya.
Zulys menekankan perkembangan teknologi tetap memiliki batas karena bergantung pada sumber daya alam. “Sehebat-hebatnya teknologi manusia, tetap ada batasnya. Dan batas itu mengingatkan kita bahwa manusia bukan penguasa alam, kita hanya diberi amanah untuk mengelolanya,” pungkasnya.
Baca Juga :