Jakarta: Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mendorong perguruan tinggi mengubah cara menentukan arah penelitian. Riset tidak lagi cukup hanya menarik secara akademik, tetapi harus berangkat dari masalah nyata dan menghasilkan solusi yang bisa digunakan masyarakat.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek Fauzan Adziman mengatakan setiap proposal penelitian kini didorong untuk menjelaskan secara jelas persoalan yang hendak diselesaikan. Pendekatan ini diharapkan membuat penelitian di perguruan tinggi lebih terhubung dengan kebutuhan pemerintah, industri, dan masyarakat.
"Sejak tahun lalu, kami memandatkan semua proposal penelitian untuk berbicara secara terang apa masalah penelitiannya," ujar Fauzan dalam International Symposium 2026 di Jakarta, Selasa, 22 September 2026.
Menurut Fauzan, perubahan tersebut diperlukan agar penelitian tidak berhenti pada pengembangan teori, model, atau publikasi ilmiah. Peneliti juga perlu menjelaskan bagaimana hasil penelitian dapat diterapkan untuk menjawab persoalan yang terjadi di dunia nyata.
Ia mencontohkan berbagai persoalan perkotaan seperti keterbatasan akses air, pengelolaan air limbah, polusi udara terutama PM2.5, banjir, mobilitas, hingga penurunan muka tanah. Berbagai persoalan tersebut dinilai membutuhkan dukungan riset dan inovasi agar penanganannya tidak hanya bersifat reaktif.
"Kalau seseorang sedang mengembangkan persamaan matematika, mengembangkan model, kami meminta mereka meneliti apa yang bisa terjadi dari penelitian ini di dunia nyata," katanya.
Fauzan mengatakan pemerintah ingin mengubah pola penelitian dari sekadar menentukan topik menuju perumusan masalah yang jelas. Masalah tersebut dapat berasal dari kebutuhan pemerintah daerah, industri, maupun persoalan strategis nasional.
Dengan pendekatan itu, universitas tidak hanya ditempatkan sebagai penghasil pengetahuan, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem yang ikut menyelesaikan persoalan. Karena itu, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan pemangku kepentingan lain menjadi penting.
"Kami tidak hanya ingin penelitian bekerja dengan universitas sendiri. Kami juga mendorong mereka bekerja dengan pemerintah, industri, investasi, dan ekosistem," tutur Fauzan.
Menurut dia, pola tersebut juga diperlukan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan inovasi. Indonesia perlu bergerak dari pola membeli dan menggunakan teknologi dari luar menuju kemampuan menghasilkan inovasi sendiri yang dapat masuk ke dalam perekonomian.
"Ini adalah kebutuhan sekarang, bukan pilihan," tegasnya.
Lebih lanjut, Fauzan menilai penguatan ekosistem penelitian tidak cukup hanya dilakukan dengan menambah anggaran. Pemerintah juga perlu memastikan dana penelitian menghasilkan progres dan terhubung dengan kebutuhan nyata.
Ia mengatakan pemerintah tengah mengembangkan skema penelitian strategis yang diarahkan untuk menyelesaikan persoalan nasional. Skema tersebut juga membuka ruang kerja sama dengan pemerintah daerah dan industri.
"Kita memiliki pendanaan. Yang kita butuhkan adalah progres yang tepat," katanya.
Menurut Fauzan, perguruan tinggi juga perlu lebih aktif berkomunikasi dengan industri. Hubungan tersebut diharapkan dapat membuka peluang agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi dapat dikembangkan menjadi solusi yang digunakan di lapangan.
Di samping itu, Kemdiktisaintek juga mengembangkan dashboard R&D yang memuat puluhan ribu informasi penelitian. Platform tersebut diharapkan dapat mempertemukan peneliti dengan pemerintah maupun industri berdasarkan kebutuhan dan bidang penelitian.
Fauzan mengatakan pendekatan berbasis masalah juga akan diperkuat melalui pembentukan konsorsium. Perguruan tinggi dapat bekerja bersama pemerintah daerah dan industri untuk menggarap satu persoalan tertentu sehingga sumber daya penelitian tidak berjalan sendiri-sendiri.
"Impact pathway adalah kunci terhadap apa yang kita lakukan. Meskipun Anda memiliki kimia atau sains sosial, kita ingin mengerti apa yang akan terjadi dari penelitian tersebut," ujarnya.
Lebih jauh, Fauzan menekankan orientasi akhir dari ekosistem penelitian adalah memberikan dampak kepada masyarakat. Karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu strategi yang terus didorong pemerintah.
Ia mencontohkan pengembangan konsorsium perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur yang melibatkan sejumlah universitas dan pemerintah daerah. Menurut dia, kerja sama tersebut menunjukkan penelitian dapat berkembang ketika berbagai pihak melihat kepentingan yang sama.
"Seluruh ekosistem penelitian pada akhirnya harus berkontribusi kepada masyarakat. Kami mendengar dari masyarakat pada awal, penelitian kami adalah untuk itu, dan kemudian memberikan kembali kepada masyarakat," jelasnya.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan